Sabtu, 18 April 2026

Ledakan di Jakarta Utara

Dua Korban Ledakan di SMAN 72 Jakarta Masih Dirawat di Rumah Sakit

Polisi mengungkapkan perkembangan terbaru terkait kasus ledakan ledakan bom di SMAN 72 Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (7/11/2025).

Tribunnews.com/Reza Deni
LEDAKAN DI SMAN 72 - Suasana di SMAN 72 Jakarta tiga hari setelah ledakan terjadi di sekolah tersebut. Adapun murid-murid di sekolah tersebut melangsungkan kegiatan belajar secara daring, sehingga tidak ada aktivitas belajar di SMAN 72 Jakarta. Beberapa petugas polisi militer TNI AL tampak berjaga di dalam sekolah, Senin (10/11/2025). 

Diberitakan sebelumnya, insiden ledakan bom di SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat serius akan bahaya radikalisme dan kekerasan yang menyasar anak-anak dan remaja. 

Menyikapi hal itu, Densus 88 Antiteror Polri menekankan pentingnya upaya deteksi sejak dini.

Kasubdit Sidik 1 Ditsidik Densus 88, Kombes Pol Sri Astuti Ningsih, mengatakan tindakan pengamanan yang dilakukan aparat tidak hanya bertujuan untuk penegakan hukum, tetapi sebagai langkah pencegahan agar anak-anak dan remaja tidak terlibat dalam aksi teror.

“Pengamanan kami dilakukan dalam upaya pencegahan supaya mereka tidak melakukan aksi,” ujarnya dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema penyebaran paham ekstremisme dan radikalisme kalangan pelajar di Jakarta, dikutip Jumat (28/11/2025).

Kombes Sri Astuti menjelaskan, meskipun Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme relatif mudah dipahami, pola terorisme saat ini justru semakin kompleks.

“Gen Z sekarang sangat sulit ditebak,” ungkapnya.

Sri Astuti menegaskan, pemulihan terhadap anak-anak yang sudah terpapar radikalisme merupakan amanat Undang-Undang Perlindungan Anak.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan pada aspek hukum, melainkan deteksi sejak dini.

“Yang sulit adalah bagaimana kita mendeteksi sejak awal,” ujarnya.

Dalam perkembangan penegakan hukum, Densus 88 telah menangkap lima tersangka yang terbukti menyebarkan konten bermuatan radikalisme dan ekstremisme dengan target utama anak-anak.

“Ada 110 anak di 23 provinsi yang terpapar radikalisme atau ekstremisme,” ungkap Sri Astuti.

Untuk upaya pemulihan, Densus 88 melakukan konseling psikologis serta pendampingan rohani secara intensif bagi anak-anak yang terlibat.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Margaret Aliyatul Maimunah menyampaikan banyak anak saat ini membutuhkan perhatian khusus karena telah terlibat atau terpapar paham radikalisme dan ekstremisme.

“Mereka mempunyai pola pikir yang hilang dan bahkan sudah ada yang melakukan tindakan kekerasan,” ujarnya.

Masa perkembangan anak sangat rentan terhadap pengaruh negatif, apalagi jika berada di lingkungan yang rawan kekerasan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved