Banjir Bandang di Sumatera
Banjir Bandang di Sumatra, Greenpeace Sudah Ingatkan Sejak 10 Tahun Lalu, tapi Tak Didengar
Greenpeace Indonesia sudah memprediksi tentang potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak 10 tahun lalu.
Ringkasan Berita:
- Manager Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, mengungkap pihaknya sudah memprediksi potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak 10 tahun lalu.
- Greenpeace Indonesia memperingatkan bahwa bencana alam di Sumatra ini adalah keniscayaan karena adanya perubahan iklim yang terjadi secara global.
- Meski sudah memberikan peringatan, Greenpeace Indonesia tidak pernah didengar oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
TRIBUNNEWS.COM - Manager Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik. menyebutkan pihaknya sebenarnya sudah memprediksi tentang potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak 10 tahun lalu.
Akan tetapi, kata Iqbal, meski sudah memberikan peringatan, Greenpeace Indonesia tidak pernah didengar oleh pihak yang seharusnya bertanggung jawab.
Akhir November 2025 menjadi periode kelabu bagi Indonesia; tiga provinsi di Pulau Sumatera, yakni Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh, dilanda banjir dan tanah longsor.
Akibat peristiwa ini, tercatat sudah ada lebih dari 700 orang tewas, ratusan lainnya hilang, dan ribuan orang luka-luka.
Awalnya, Iqbal mengatakan bahwa Greenpeace Indonesia turut berduka atas bencana tersebut.
Lalu, ia mengungkap bahwa kejadian ini sudah diprediksi sejak 10 tahun lalu, apalagi mengingat semakin rusaknya Ekosistem Batang Toru.
"Sebelum ke sana, kita ikut berduka atas bencana ini," kata Iqbal saat menjadi tamu dalam podcast Abraham Samad Speak Up yang diunggah pada Selasa (2/12/2025).
"Meskipun memang banyak yang sebenarnya sudah memprediksi, bahkan dari 10 tahun yang lalu, karena ini wilayah esensial gitu ya, wilayah Batang Toru, wilayah Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan."
"[Greenpeace] sudah pernah mengingatkan, tetapi nggak didengar, diabaikan."
Iqbal pun mengungkapkan suara hatinya sebagai aktivis lingkungan, yakni betapa menyedihkan ketika kejadian buruk berujung bencana yang sebenarnya sudah diprediksi ternyata benar-benar terjadi.
Menurutnya, bencana yang sebelumnya sudah diprediksi dan akhirnya terjadi itu, seperti musibah banjir bandang di Sumatra, disebabkan oleh sikap denial atau enggan mendengarkan peringatan dari ilmuwan atau ahli.
Baca juga: Penjarahan di Tengah Banjir Bandang Sumatera, Pengamat: Kerja Pemerintah Belum Sesuai Harapan Warga
"Makanya bagian yang paling menyedihkan jadi aktivis lingkungan salah satunya adalah ketika yang dia prediksi menjadi kebenaran," tutur Iqbal.
"Itu menyedihkan sekali bagi kami sebenarnya, karena kita selalu berpikir bencana, dan pasti bencana itu pasti ada korban gitu."
Iqbal yang pernah diejek sebagai Wahabi Lingkungan oleh tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Ulil Abshar-Abdalla pada Juni 2025 lalu karena menolak tambang nikel di Papua ini pun menyebut, pihaknya sudah memperingatkan bahwa bencana alam di Sumatra ini adalah keniscayaan karena adanya perubahan iklim yang terjadi secara global.
Namun, ia menilai, pemerintah tidak mau mendengar peringatan tersebut, lantaran lebih mementingkan aspek ekonomi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kondisi-pascabanjir-wilayah-di-Desa-Hotagodang.jpg)