Rabu, 10 Juni 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Banjir Bandang di Sumatra, Greenpeace Sudah Ingatkan Sejak 10 Tahun Lalu, tapi Tak Didengar

Greenpeace Indonesia sudah memprediksi tentang potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak 10 tahun lalu. 

Tayang:
BNPB
BANJIR DI SUMATRA - Dalam foto: Kondisi pascabanjir wilayah di Desa Hotagodang , Batangtoru, Tapanuli Selatan pada Minggu (30/11/2025). Manager Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik. menyebutkan pihaknya sebenarnya sudah memprediksi tentang potensi terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Pulau Sumatra sejak 10 tahun lalu.  

"Bahkan, yang terjadi di wilayah Sumatera ini tuh sudah lama banget diingatkan, karena perubahan iklim secara masif secara global bahkan para ahli sudah sudah menyebutkan sebenarnya," jelas Iqbal.

"Tapi [pemerintah] denial terhadap scientists [ilmuwan]. Itu agak sulit, kayaknya karena mungkin kita lebih mementingkan ekonomi politiknya ketimbang mementingkan saintisnya."

Banjir Bandang di Sumatra: Ibarat Sudah Jatuh, Tertimpa Tangga Pula

Iqbal Damanik pun lantas memaparkan, ada dua penyebab utama dari bencana ekologis banjir bandang dan tanah longsor di yang melanda tiga provinsi di Sumatra ini.

Penyebab pertama adalah cuaca ekstrem.

Akan tetapi, kata Iqbal, cuaca ekstrem itu sendiri harus diakui juga terjadi karena ada kegagalan pemerintah dalam mengantisipasinya.

"Kalau kita lihat ada dua sebenarnya penyebab utamanya di sini," ujar Iqbal.

"Pertama cuaca ekstrem itu memang harus kita iyakan."

"Alasan memang terjadi cuaca ekstrem, tapi harus kita ketahui bahwa cuaca ekstrem ini terjadi adalah akibat kebijakan pemerintah yang gagal. Ada kegagalan pemerintah di situ."

Penyebab kedua adalah kondisi ekologis yang memang sudah rusak.

Dengan dua penyebab ini, Iqbal mengibaratkan, terjadinya banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra seperti peribahasa 'sudah jatuh, tertimpa tangga.'

Sebab, peristiwa itu terjadi karena sudah ada hujan ekstrem karena krisis iklim, ditambah pula dengan rusaknya ekologi sekitar.

"Yang kedua adalah kondisi ekologisnya memang sudah hancur. Jadi, ibaratnya kita sudah jatuh tertimpa tangga pula, gitu," tutur Iqbal.

"Dan inilah yang dirasakan masyarakat sebenarnya saat ini. Hujan deras itu situasi krisis iklim, anomali cuaca yang disebabkan naiknya suhu permukaan laut dan ini sudah terprediksi bahwa akan terjadi sebuah siklon di wilayah Sumatera, yang itu tidak akan pernah terjadi sebenarnya."

"Jadi anomali, krisis iklim tuh kata anak sekarang ya anomali cuaca, extreme weather event."

Pentingnya Ekosistem Batang Toru: Kerusakannya dan Banjir Bandang di Sumatra

Ekosistem Batang Toru, yang juga dikenal sebagai Ekosistem Harangan Tapanuli, merupakan salah satu hutan tropis terakhir yang tersisa di Sumatra Utara, khususnya di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Utara. 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved