Minggu, 3 Mei 2026

Kartono dan Istri Hamil 8 Bulan Tempuh Perjalanan Motor dari Surabaya Demi Keadilan Anak Mereka

Kartono (38), warga Banyuurip, Sawahan, Surabaya, tampak bingung di atas motornya, saat berada di depan Kantor Komnas HAM

Tayang:
Tribunnews/Alfarizy Ajie Fadhillah
TUNTUT KEADILAN - Kartono (38) pria asal Surabaya, menunjukkan foto anaknya yang meninggal diduga malapraktik, saat ditemui di depan Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • Kartono dan istrinya menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jakarta untuk mencari keadilan atas kematian bayi mereka, ALA, usia 4 bulan, yang mereka duga terkait malapraktik RS Tingkat III Brawijaya Surabaya.
  • Kartono mengaku tidak pernah menerima rekam medis atau dokumen medis apa pun, meski sudah melapor ke kepolisian dan berbagai lembaga negara.
  • Pihak RS Brawijaya menyangkal tuduhan malapraktik.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Dengan mata sembab dan suara bergetar, Kartono (38), warga Banyuurip, Sawahan, Surabaya, tampak bingung di atas motornya, saat berada di depan Kantor Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (8/12/2025).

Bersama istrinya, Deni Irnawati, yang kini hamil delapan bulan, ia menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan sepeda motor.

Dengan turut membawa dua anaknya, pasutri ini ingin mencari kejelasan atas meninggalnya anak kelima mereka, ALA, saat usia baru empat bulan.

Sudah satu tahun lebih Kartono memperjuangkan kasus ini. Ia mengaku laporan dugaan malapraktik di RS Tingkat III Brawijaya Surabaya, tempat anaknya terakhir kali dirawat, telah dihentikan Polda Jawa Timur.

Tidak terima, ia memilih pergi ke Jakarta, tinggal di kos kawasan Bintaro, Tangerang Selatan, dan mendatangi berbagai lembaga negara demi keadilan bagi anaknya.

"Kurang lebih 1 bulan saya tinggal di Jakarta. Alhamdulillah saya diberi pertolongan oleh orang baik,” kata Kartono, saat ditemui Tribunnews.

Kartono menyebut kematian anaknya terjadi pada 29 Desember 2024 di ruang perawatan rumah sakit tersebut.

Dia mengaku sejak saat itu tidak pernah menerima satu pun rekam medis maupun dokumen terkait kondisi putranya.

"Pihak Rumah Sakit harus bertanggung jawab. Kalau benar-benar anak saya ada sakit apa-apa, cuma barang-barang bukti saya nggak dikasih. Sampai detik ini saya nggak mendapatkan bukti-bukti apapun. Ditahan saya sama Polda," ungkapnya.

Ia mengatakan kondisi sang anak awalnya hanya menderita sakit batuk pilek.

Setelah meminta rujukan di Puskesmas Menur, bayi itu dibawa ke RS Tk.III Brawijaya Surabaya, tempat ia dilahirkan.

"Anak saya nggak punya penyakit apa-apa. Usia 4 bulan. Lemas banget anak saya. Tapi nggak dicek darah, nggak dironsen," kata Kartono.

Ia juga mempertanyakan obat yang diberikan, termasuk dugaan pemberian jenis obat yang menurutnya tidak semestinya dikonsumsi bayi.

Selama sebulan tinggal di Jakarta, Kartono mengaku sudah mendatangi LPSK, Kemenkes, hingga Komnas HAM. Namun usaha itu tidak selalu berjalan mulus.

Meski kondisi ekonomi pas-pasan, Kartono tetap membawa tumpukan map berisi salinan laporan, surat-menyurat, dan foto-foto yang ia klaim sebagai bukti. Semua itu ia bawa ke mana-mana saat mendatangi lembaga negara.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved