Rabu, 13 Mei 2026

Banjir Bandang di Sumatera

BKSDA Aceh Ungkap Kondisi Kesehatan 4 Gajah Jinak setelah Bantu Bersihkan Puing Sisa Banjir

BKSDA Aceh menyatakan, empat gajah yang membantu evakuasi bencana sudah diistirahatkan dan mendapat asupan pakan serta nutrisi yang cukup.

Tayang: | Diperbarui:
Istimewa/Facebook
GAJAH DI LOKASI BENCANA SUMATRA - Penampakan gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) membantu penanganan bencana di Desa Meunasah Bie, Pidie Jaya, Aceh, Senin (8/1/2025). Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Aceh mengungkap kondisi kesehatan empat ekor gajah Sumatra yang diturunkan untuk membantu evakuasi puing-puing material berat dan gelondongan kayu akibat banjir di Sumatra. 

Ringkasan Berita:
  • Empat gajah jinak dan terlatih ditugaskan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan dampak banjir di beberapa titik lokasi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada Minggu (7/12/2025).
  • Akan tetapi, pengerahan gajah untuk evakuasi sempat menuai kritikan, sejumlah warganet tegas menyebut bahwa gajah bukanlah alat berat.
  • Terkini, BKSDA Aceh mengungkap kondisi kesehatan empat ekor gajah asal PLG Saree bernama Midok, Aziz, Abu, dan Nonik itu.

TRIBUNNEWS.COM - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSD) Aceh mengungkap kondisi kesehatan empat ekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) yang diturunkan untuk membantu evakuasi puing-puing material berat dan gelondongan kayu akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra.

Keempat gajah jinak dan terlatih ditugaskan untuk mempercepat penanganan dan pemulihan dampak banjir di beberapa titik lokasi di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh pada Minggu (7/12/2025).

Mereka bernama Midok, Aziz, Abu, dan Nonik serta berasal dari PLG Saree (Pusat Latihan Gajah).

Menurut jadwal, keempat mamalia besar berbelalai panjang ini bertugas selama tujuh hari, sampai Minggu (14/7/2025).

Dipandu mahout (pawang gajah), mereka terlihat memindahkan material ataupun kayu yang menumpuk di Kecamatan Meurah Dua dan Kecamatan Meureudu di Kabupaten Pidie Jaya.

Gajah dipakai karena wilayah tersebut sulit diakses oleh alat berat.

Kepala KSDA Wilayah Sigli, Hadi Sofyan menjelaskan, gajah-gajah jinak ini sudah memiliki pengalaman panjang dalam membantu pembersihan pasca-bencana, termasuk saat tsunami Aceh Desember 2004.

"Gajah terlatih yang kita bawa ini sebanyak empat ekor, dan semuanya dari PLG Saree. Berdasarkan pengalaman sebelumnya, termasuk saat tsunami di Aceh, kehadiran gajah sangat membantu membersihkan puing-puing," kata Hadi.

Selain memindahkan atau mengangkat material besar dan tumpukan kayu yang diduga kuat berasal dari penebangan hutan, kekuatan gajah-gajah ini juga digunakan untuk mengantar bantuan logistik kepada penyintas dan membuka akses jalan yang terputus, sebagaimana diwartakan TribunMedan.com.

Akan tetapi, pengerahan gajah untuk penanganan pasca-bencana tak lepas dari kritikan tajam.

Hal itu menyiratkan adanya ironi, di mana manusia dianggap telah merusak hutan yang jadi habitat asli gajah, tetapi saat bencana terjadi yang juga disebabkan oleh kerusakan hutan, gajah justru 'dimanfaatkan' atau dieksploitasi tenaganya.

Baca juga: Komisi IV DPR Soroti Penggunaan Gajah untuk Bersihkan Kayu Sisa Banjir di Aceh

Belum lagi, sudah banyak kasus gajah mati karena diracun maupun ditembak karena dianggap hama, hingga diburu oleh manusia untuk diambil gadingnya.

Di media sosial, Instagram misalnya, ramai warganet yang menyuarakan bahwa gajah bukanlah alat berat.

Tugas penanganan pasca-bencana pun dinilai bukan tanpa risiko bagi gajah itu sendiri. Ada bahaya puing tajam yang bisa melukai gajah, atau polusi suara yang dikhawatirkan memicu stres bagi hewan tersebut.

Warganet juga menilai, sebaiknya pemerintah harus mempertimbangkan lebih dalam soal pencegahan bencana melalui perlindungan habitat alami gajah.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved