Sabtu, 9 Mei 2026

Banjir Bandang di Sumatera

Ahli Sebut RI Masuki Era Risiko Baru Usai Siklon Tropis Senyar yang Melanda 3 Provinsi Sumatera

Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies, Arcandra Tahar, menekankan pentingnya memahami siklon tropis dalam konteks ilmiah.

Tayang:
Penulis: Reza Deni
Editor: Wahyu Aji
Dennis Destryawan/Tribunnews.com
BENCANA DI SUMATERA - Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies, Arcandra Tahar, menekankan pentingnya memahami siklon tropis dalam konteks ilmiah jangka panjang. 

Ringkasan Berita:
  • Badai Siklon Tropis Senyar memicu hujan ekstrem, banjir, dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar, menimbulkan dampak besar dengan 969 orang meninggal dan 262 hilang per 10 Desember 2025.
  • Prasasti Center menekankan pentingnya penguatan mitigasi, ketangguhan infrastruktur, tata ruang, serta komunikasi krisis, karena fenomena siklon di wilayah Sumatera utara.
  • BMKG memastikan siklon telah terdeteksi 4 hari sebelum memasuki daratan Sumatera dan telah mengirimkan peringatan dini.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badai Siklon Tropis Senyar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat memicu hujan ekstrem, banjir, serta angin kencang yang menimbulkan dampak sosial-ekonomi besar. 

BNPB mencatat 969 orang meninggal dan 262 orang hilang per 10 Desember.

Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies, Arcandra Tahar, menekankan pentingnya memahami siklon tropis dalam konteks ilmiah jangka panjang.

"Jika kita melihat data lintasan badai selama 150 tahun, Sumatera bagian utara hingga Selat Malaka memang pernah dilintasi tropical storm. Ini menunjukkan bahwa fenomena seperti ini bukan anomali tunggal, melainkan bagian dari return period alam. Kejadiannya dapat berulang setiap beberapa puluh tahun,” kata Arcandra dalam keterangannya, Kamis (11/12/2025).

Eks Wamen ESDM itu menyebut badai ini berada pada skala tropical storm dan menjadi pengingat pentingnya ketangguhan infrastruktur.

"Untuk memitigasi bencana dalam kondisi ekstrem, analisa meteorologi dan oseanografi dengan return period 100 tahun kita gunakan untuk mendesain bangunan laut dan pantai," kata dia.

"Siklon tropis baru-baru ini adalah pengingat bahwa Indonesia perlu memastikan ketangguhan infrastruktur, tata ruang, dan protokol tanggap darurat,” ujarnya.

Sementara itu, Executive Director Prasasti, Nila Marita, menilai Indonesia telah memasuki era risiko baru.

"Indonesia memiliki fondasi sistem peringatan dini yang kuat melalui BMKG, dan langkah berikutnya adalah memastikan bahwa data ilmiah, kebijakan tata ruang, infrastruktur, komunikasi krisis, dan kesiapsiagaan daerah berjalan dalam satu kesatuan,” kata Nila.

Nila juga menyoroti pentingnya komunikasi krisis yang efektif. 

“Informasi teknis dari BMKG perlu diterjemahkan menjadi pesan operasional yang mudah dipahami masyarakat,” ujarnya.

Nila menyebut penguatan Crisis Communication Center menjadi krusial, sekaligus memberi sejumlah rekomendasi penguatan mitigasi pada pemerintah, mulai dari teknologi pemantauan badai hingga SOP kesiapsiagaan daerah

“Ketika terjadi bencana, kecepatan dan keselarasan pesan antar kementerian/lembaga dan pemerintah daerah sangat menentukan efektivitas respons,” ujarnya.

“Efektivitas pusat komunikasi ini dapat meminimalisir kesimpangsiuran data dan informasi di publik,” kata dia.

Tentang Prasasti

Prasasti Center for Policy Studies Prasasti adalah lembaga think tank independen Indonesia yang didirikan untuk berkontribusi pada solusi

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved