Senin, 1 Juni 2026

Kebakaran Gedung Kantor di Jakarta Pusat

Eks Kabareskrim Singgung Spekulasi Terra Drone Kebakaran Terkait Banjir Sumatra: Apa Ada Data Hilang

Eks Kabareskrim menyinggung soal spekulasi keterkaitan kasus Terra Drone kebakaran dengan penyelidikan banjir bandang di Sumatra.

Tayang:
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KANTOR TERRA DRONE TERBAKAR - Petugas gabungan mengevakuasi jenazah korban kebakaran di Gedung Terra Drone, Cempaka Putih, Jakarta, Selasa (9/12/2025). Kebakaran tersebut menyebabkan 22 orang meninggal dunia. Dalam wawancara bersama KompasTV, Kamis (11/12/2025), mantan Kabareskrim Polri, Komjen (Purn) Ito Sumardi, menyinggung soal spekulasi keterkaitan kasus Terra Drone kebakaran dengan penyelidikan banjir bandang di Sumatra. 

Diketahui, Terra Drone melakukan studi bersama mengenai pemanfaatan teknologi drone dalam pemantauan petani kelapa sawit swadaya di Riau pada 2021.

Studi ini dilakukan Terra Drone yang bermintra dengan International Finance Corporation (IFC), bagian dari grup Bank Dunia.

Kasus Kayu Gelondongan Naik Tahap Penyidikan

Sementara itu, Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) Bareskrim Polri telah menaikkan status kayu gelondongan di daerah aliran sungai (DAS) Garoga, Tapanuli Selatan hingga Sungai Anggoli, Tapanuli Tengah, di Sumut, ke tahap penyidikan.

Penyelidikan ini dilakukan terkait dugaan penyebab banjir di Sumut, disebabkan oleh pembalakan atau penebangan hutan.

Dirtipidter Bareskrim Polri, Brigjen Irhamni, mengungkapkan dinaikkannya kasus kayu gelondongan ini setelah ditemukan dua alat bukti.

"Dasarnya ditemukan dua alat bukti, adanya peristiwa pidana kerusakan lingkungan hidup yang menyebabkan bencana banjir," ujar Irhamni, Rabu (10/12/2025).

Baca juga: Menilik Lahan HTI Prabowo di Aceh, Jadi Sorotan di Tengah Banjir, Pernah Disinggung Jokowi

"Tadi yang disampaikan alat bukti-alat bukti apa yang sudah ditemukan di lapangan, kemudian ditemukan di hulu sebagai sumber kayu-kayu tersebut," kata Irhami.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubagops Dittipidter Bareskrim Polri, Kombes Fredya Trihararbakti, mengatakan pihaknya bekerja sama dengan Polda Sumut, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Kementerian Kehutanan (Kemenhut),  Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), dan Badan Pertanahan Nasional (BPN) dalam proses pengungkapan.

Menurutnya ditemukan perubahan bentang alam yang signifikan sebelum dan sesudah bencana banjir menerjang kawasan itu. 

Pemeriksaan lapangan memperlihatkan penumpukan kayu di sejumlah titik, terutama di sekitar KM 6 dan KM 8. 

Bukaan lahan besar tampak jelas dari citra udara, disertai longsoran yang dianggap tidak terjadi secara alamiah. 

Fredya mengatakan tim gabungan menemukan satu buldoser dan dua ekskavator yang ditinggalkan tanpa operator. 

Saat ini, penyidik tengah mendalami operatornya dalam kegiatan itu.

"Pada saat tim gabungan Bareskrim Dittipidter, kemudian Polda Sumut, berikut dengan teman-teman dari Kementerian/Lembaga Kehutanan, Lingkungan Hidup, dan dari BPDAS, ini pada saat mendatangi KM 8, mendapati ada dua buah ekskavator dan satu buldozer yang memang dia dugaan melarikan diri, tidak ada di tempat, ditinggalkan begitu saja alat berat," jelas Fredya.

Penyidik dan tim ahli juga mengidentifikasi adanya kayu karet dan durian yang tercampur dengan material banjir. 

Sesuai Minatmu
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved