Banjir Bandang di Sumatera
Penanganan Bencana Alam Jadi Ujian Konsolidasi Pemerintahan Prabowo–Gibran
Prabowo–Gibran minta maaf, warga Sumatera masih menderita. Korban tembus 1.106 jiwa, bantuan asing ditolak, konsolidasi pemerintahan diuji keras.
“Saya minta maaf kalau masih ada yang belum tertangani. Kita sedang bekerja keras,” ujarnya.
Baca juga: Banjir Bandang di Wisata Guci Tegal, BMKG Minta Warga Jauhi Lereng Gunung saat Hujan Deras
Derita Warga Sumatera
Meski upaya pemulihan berjalan, warga masih menghadapi kesulitan. Di Bener Meriah, Aceh, akses jalan utama belum pulih sehingga warga harus memikul beras, gas, hingga cabai ke Kampung Seni Antara agar tidak rusak.
Di Sibolga dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, rumah warga porak-poranda, listrik belum stabil, air bersih terbatas, dan harga bahan pokok melambung.
Kontroversi Bantuan Asing
Kebijakan pemerintah menolak bantuan asing dan belum menetapkan status bencana nasional menuai kritik.
Leonard Tiopan Panjaitan dari Trisakti Sustainability Center menilai langkah itu menunjukkan lemahnya sistem komando.
“Padahal, rakyat membutuhkan makan, pakaian, dan obat-obatan dalam sekejap,” ujarnya dalam webinar, Sabtu (20/12/2025), dikutip Kompas.com.
1.106 Nyawa Warga Melayang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Senin (22/12/2025) jumlah korban meninggal mencapai 1.106 jiwa, dengan 175 orang masih hilang dan 502.570 jiwa mengungsi.
“Pemerintah, pemerintah daerah, dan semua warga negara Indonesia mengucapkan simpati dan belasungkawa yang mendalam. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun,” kata Kapusdatinkom BNPB Abdul Muhari.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/HM-Darmizal-Budie-Ari-Setiadi-Utje-Gustaaf-Patty-RJ2-di-diskusi-satu-tahun-pemerintahan-Prabowo.jpg)