Kamis, 9 April 2026

Tren Terorisme Indonesia 2025, BNPT: Ancaman Ruang Digital Meningkat

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap hasil penelitiannya selama tiga tahun terakhir sejak tahun 2023 hingga 2025.

Penulis: Gita Irawan
tribunnews/Jeprima
RILIS KINERJA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Eddy Hartono bersama Sekretaris Utama BNPT Bangbang Surono dan beberapa pihak terkait berfoto bersama usia memberikan pernyataan pers akhir tahun dan perkembangan tren terorisme Indonesia di Jakarta, Selasa (30/12/2025). 

Ringkasan Berita:
  • BNPT mengungkap hasil penelitiannya selama tiga tahun terakhir sejak tahun 2023 hingga 2025.
  • Dari hasil data penangkapan dan berita acara putusan pengadilan tahun 2023 sampai 2025 yang diteliti, ditemukan sebanyak 137 pelaku aktif menyalahgunakan ruang digital untuk aktivitas terorisme.
  • Kepala BNPT Eddy Hartono menyampaikannya saat Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025 yang digelar BNPT di sebuah hotel di Jakarta pada Selasa (30/12/2025).

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkap hasil penelitiannya selama tiga tahun terakhir sejak tahun 2023 hingga 2025.

Dari hasil data penangkapan dan berita acara putusan pengadilan tahun 2023 sampai 2025 yang diteliti, ditemukan sebanyak 137 pelaku aktif menyalahgunakan ruang digital untuk aktivitas terorisme.

"Terdapat 137 pelaku aktif menyalahgunakan ruang digital untuk aktivitas terorisme," kata Kepala BNPT Eddy Hartono saat Pernyataan Pers Akhir Tahun dan Perkembangan Tren Terorisme Indonesia 2025 yang digelar BNPT di sebuah hotel di Jakarta pada Selasa (30/12/2025).

Selain itu, ujarnya, ada 32 pelaku yang terpapar secara online dan bergabung dengan jaringan. 

Kemudian, lanjut dia, ada 17 pelaku yang melakukan aktivitas terorisme di ruang digital tanpa terlibat langsung dengan jaringan. 

"Ini yang dikenal dengan self-radicalization. Jadi terpapar melalui sosial media. Nah, ini menunjukkan bahwa risiko penyalahgunaan ruang digital ini semakin berkembang oleh jaringan terorisme maupun simpatisan terorisme," ucapnya.

Temuan lainnya, jelas Eddy, selama 3 tahun terakhir terdapat 27 perencanaan serangan yang berhasil dicegah aparat intelijen dan aparat penegak hukum mampu mencegah terjadinya peristiwa tindak pidana terorisme.

"Kemudian, selama 3 tahun ini sudah ditangkap sekitar 230 orang. Baik itu pendanaan maupun dukungan terhadap kelompok teroris. Kemudian, 362 orang itu disidangkan selama 3 tahun terakhir. Mayoritas merupakan afiliasi atau simpatisan ISIS dan semuanya laki-laki," ucapnya.

"Kemudian juga ada 11 pelaku perempuan selama 3 tahun terakhir ini. Mereka melakukan propaganda, menggalang dana, juga mengkoordinasikan komunitas komunikasi kelompok teroris," lanjutnya.

BNPT juga menemukan 16 kasus pendanaan terorisme melalui berbagai metodedengan akumulasi dana sebesar Rp5.093.810.613.

"Kemudian juga, yang terakhir. Proses radikalisasi di samping terhadap pemuda, juga terhadap kelompok anak. Kisaran 10 sampai 17 tahun. Dan ini terus berkembang dan ini menjadi atensi kita bersama," ucapnya.

Waspada Terkendali

Eddy menjelaskan selama tahun 2025 kami melakukan pemantauan dan kajian terhadap perkembangan terorisme

Dari pemantauan dan kajian itu, kata dia, Indonesia saat ini masuk ke dalam situasi Waspada Terkendali.

Maksud dari situasi Waspada Terkendali itu, jelas Eddy, adalah pemerintah dapat menggambarkan adanya indikasi pola dinamika yang mengganggu dan mengarah kepada gangguan keamanan. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved