Amerika Versus Venezuela
AS Serang Venezuela dan Culik Maduro, Dino Patti Djalal: Berbahaya, Langgar Hukum Internasional
Eks Duta Besar Ri untuk AS Dino Patti Djalal mengecam mengecam operasi militer AS terhadap Venezuela yang dijalankan Sabtu (3/1/2025) lalu.
Ringkasan Berita:
- Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS), Dino Patti Djalal, menyampaikan kecaman terhadap operasi militer AS terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026) lalu.
- Dino menegaskan, tindakan AS itu merupakan tindakan yang berbahaya, salah, dan melanggar hukum.
- Ia juga menyatakan dukungan terhadap seruan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim yang mengkritik penangkapan Nicolas Maduro.
TRIBUNNEWS.COM - Mantan Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (AS), Dino Patti Djalal, mengecam operasi militer AS terhadap Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, pada Sabtu (3/1/2026) lalu.
Melalui video pernyataan berdurasi 7 menit 26 detik yang diunggah di akun media sosial X (dulu Twitter), @dinopattidjalal, Rabu (7/1/2025) kemarin, Wakil Menteri Luar Negeri RI tahun 2014 itu menyatakan tindakan AS merupakan tindakan yang berbahaya, salah, dan melanggar hukum.
Dino, selaku pendiri sekaligus ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), menyebut penelitian yang dilakukan oleh pihaknya telah menyimpulkan bahwa tindakan AS di Venezuela melanggar hukum internasional dan Piagam PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).
Dino lantas menegaskan bahwa pandangan FPCI ini selaras dengan pandangan para pakar hukum internasional yang independen dari Barat maupun Global South.
"Kami berpendirian bahwa serangan militer Amerika Serikat ke Venezuela serta penangkapan Presiden Maduro dan istrinya adalah tindakan yang berbahaya, salah, dan melanggar hukum," kata Dino dalam bahasa Inggris setelah diterjemahkan.
"Dari hasil sekilas riset kami, para pakar hukum yang independen dan kredibel baik dari Barat maupun Global South umumnya menyimpulkan bahwa tindakan AS di Venezuela melanggar hukum internasional dan Piagam PBB."
Kemudian, Dino menjelaskan bahwa tindakan AS terhadap Venezuela juga mendapat kecaman dari internal Kongres AS dan Dewan Keamanan (DK) PBB.
"Bahkan sejumlah anggota Kongres AS, termasuk dari Partai Demokrat dan beberapa dari Partai Republik meyakini bahwa tindakan AS di Venezuela ilegal dan tidak dapat dibenarkan," tutur pria yang pernah menjadi Juru Bicara Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada periode 2004 hingga 2010 itu.
"Banyak anggota Dewan Keamanan PBB juga memiliki pandangan serupa."
Kemudian, Dino menyebut, serangan AS di Venezuela justru mirip dengan Uni Soviet terhadap Afghanistan yang terjadi pada 1979 atau 46 tahun lalu.
Padahal, invasi Uni Soviet ke Afghanistan itu juga pernah dikecam oleh AS sendiri.
Baca juga: AS Serang Venezuela, Dino Patti Djalal Kritik Pernyataan Sikap Kemenlu RI: Harus Berani Berpendirian
"Kita bisa bilang bahwa tindakan AS di Venezuela mirip dengan invasi Uni Soviet terhadap Afghanistan pada tahun 1979 yang menggunakan operasi militer untuk menyingkirkan dan membunuh Presiden Haizullah Amin, yang saat itu menentang Kremlin, dan menggantikannya dengan pemerintahan pro-Soviet," jelas Dino.
"Tentunya, waktu itu AS menentang keras invasi Soviet terhadap Afghanistan."
Dukung Seruan PM Malaysia Anwar Ibrahim
Dalam pernyataannya, Dino juga menyatakan dukungan terhadap seruan Perdana Menteri (PM) Malaysia Anwar Ibrahim yang mengkritik penangkapan Nicolas Maduro.
"Kami sejalan dengan seruan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim baru-baru ini yang intinya mengkritik aksi penangkapan terhadap Presiden Maduro," ucap Dino.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dino-patti-djalal-foto-d.jpg)