Selasa, 5 Mei 2026

Sejarah Tradisi Ruwahan Jelang Ramadan, Persiapan Batin Sambut Bulan Suci & Memuliakan Leluhur

Mengenal sejarah tradisi Ruwahan yang dilestarikan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadan, persiapan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan.

Tayang:
Tribun Jogja/Siti Umaiyah
TRADISI RUWAHAN - Warga Sosromenduran Yogyakarta saat mengikuti Tradisi Ruwahan Apem Massal di Kelurahan Sosromenduran, Sabtu (27/4/2019). Mengenal sejarah tradisi Ruwahan yang dilestarikan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadan, persiapan batin sebelum memasuki bulan suci Ramadan. 

Ringkasan Berita:
  • Tradisi ruwahan adalah bentuk sinkretisme dari ajaran Islam dengan kultur Jawa yang semuanya dipadukan sejak zaman Mataram Islam.
  • Praktik Tradisi Ruwahan dalam masyarakat Jawa, yakni mengadakan doa bersama, tahlilan, serta sedekah makanan sebagai simbol pembersihan diri dan penguatan ikatan sosial.
  • Tradisi Ruwahan kini mengalami pergeseran makna dan tata cara pelaksanaan akibat pengaruh modernisasi dan rutinitas pekerjaan yang padat. 

TRIBUNNEWS.COM - Bulan Syaban menjelang puasa Ramadan atau bulan 'Pasa' dalam kalender Jawa, masyarakat Jawa setiap tahun menjalankan tradisi Ruwahan (di bulan Ruwah).

Tradisi Ruwahan adalah salah satu warisan budaya yang masih dijalankan oleh masyarakat Jawa hingga kini, terutama menjelang bulan Ramadan.

Tradisi ini biasanya dilaksanakan pada pertengahan bulan Sya’ban, tepatnya sebelum memasuki bulan puasa, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus persiapan batin menyambut datangnya Ramadhan. 

Dalam praktiknya, masyarakat mengadakan doa bersama, tahlilan, serta sedekah makanan sebagai simbol pembersihan diri dan penguatan ikatan sosial.

Ruwahan tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga sebagai sarana mempererat hubungan antarwarga. 

Melalui tradisi ini, masyarakat berkumpul, berdoa, dan berbagi makanan, sehingga tercipta suasana kebersamaan dan solidaritas. 

Selain itu, Ruwahan juga menjadi momen refleksi spiritual, di mana masyarakat Jawa mengingat kembali jasa para leluhur, mendoakan mereka, dan sekaligus memohon perlindungan serta keberkahan untuk menjalani ibadah puasa. 

Sejarah Tradisi Ruwahan

Dosen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS Surakarta), Tundjung Wahadi Sutirto memaparkan mulai berkembang pesat sejak era Mataram Islam sekitar abad ke-16. 

Tradisi ini muncul saat Sultan Agung memadukan kalender Saka dengan kalender Hijriah, di mana bulan Ruwah (Sya'ban) dimaknai sebagai waktu khusus untuk memuliakan arwah leluhur. 

"Tradisi ruwahan itu merupakan bentuk sinkretisme di mana ada ketemu yang namanya paham Islam dengan kultur Jawa yang semuanya dipadukan sejak zaman Mataram Islam," terang Tundjung Wahadi Sutirto, saat ditemui Tribunnews.com Kamis (15/1/2026).

"Ketika Sultan Agung membuat kalender Saka itu di situlah ketemu di mana bulan Rejab itu dimaknai sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada bulan Rejab menurut Islam juga kemudian ketemu dengan satu perilaku masyarakat di Jawa sebelumnya yaitu di mana tradisi yang memuliakan leluhur," lanjutnya.

Baca juga: Doa Bulan Syaban Menjelang Ramadan dan Amalan Lainnya

Peran kerajaan Islam di tanah Jawa membuat tradisi Ruwahan dapat dilestarikan masyarakat Jawa secara turun temurun hingga saat ini.

"Ketika memasuki masa Mataram Islam, ajaran memuliakan bulan Rajab. Karena dalam doa-doa sesuai sunah itu juga diijabah pada bulan Rejab. Kemudian ada satu peristiwa di mana turunnya  kitab suci (Isra Miraj Nabi Muhammad) dan juga menjadi satu bulan yang ketemu antara apa tradisi dengan kalender Hijriah."

"Simbol ini dilanggengkan terus-menerus terutama melalui satu institusi kerajaan yang memuliakan tradisi itu. Jadi sejak era Mataram itu sudah terjadi satu pemujaan terhadap bulan yang disebut dengan bulan ruwah atau bulan yang dimaknai sebagai bulan arwah," paparnya.

Secara filosofis, Ruwahan berfungsi sebagai persiapan batin bagi masyarakat sebelum memasuki bulan suci Ramadan

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved