Minggu, 17 Mei 2026

OTT KPK di Pati

Leganya Warga Pati Usai OTT Bupati Sudewo: Karangan Bunga, Rambut Gundul, Lari Keliling Alun-alun

Karangan bunga sindiran, rambut digunduli, warga berlari di alun-alun. Penetapan Sudewo tersangka KPK memicu ledakan emosi kolektif warga Pati.

Tayang:
Penulis: Abdul Qodir
Tribunnews.com/TribunJateng.com/Kompas.com
PERAYAAN WARGA PATI – Kolase warga mengekspresikan suka cita usai Bupati Pati Sudewo terjaring OTT KPK dan ditetapkan sebagai tersangka. Mulai dari unjuk rasa menolak kebijakan Bupati, mencukur rambut, hingga pesta kembang api di alun-alun. 

Ringkasan Berita:
  • Karangan bunga sindiran muncul, warga baca pesan tanpa suara.
  • Kembang api, cukur gundul, hingga lari nazar pecah di alun-alun.
  • OTT KPK Sudewo memantik euforia, harapan, sekaligus trauma lama.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Karangan bunga bernada sindiran berdiri di depan Kantor Bupati Pati. Malamnya, kembang api memecah gelap alun-alun. Keesokan hari, rambut digunduli dan langkah kaki berlari mengitari lapangan hijau.

Beginilah warga Pati mengekspresikan emosi kolektif usai Bupati Pati Sudewo ditangkap dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa (20/1/2026).

Karangan Bunga Sindiran “Selamat Wisuda”

Dimulai Rabu (21/1/2026), dua karangan bunga terpasang tepat di depan Kantor Bupati Pati, Jawa Tengah.

Letaknya mencolok—persis di bawah baliho ucapan Natal dan Tahun Baru bergambar Sudewo bersama Wakil Bupati Risma Ardhi Chandra.

Karangan bunga pertama bertuliskan, “Selamat dan Sukses. Wisuda di Gedung Merah Putih”, dikirim oleh Paguyuban Juru Kunci Makam Pati. Karangan kedua dari Komunitas Rakyat Pati Bahagia bertuliskan, “Selamat Menempuh Hidup Baru.”

Istilah “Gedung Merah Putih” merujuk kompleks KPK di Jakarta—sindiran simbolik yang segera dipahami warga tanpa perlu penjelasan.

Kembang Api dan Rasa Syukur

Selasa malam (20/1/2026), suasana Alun-alun Simpang Lima Pati mendadak riuh. Kembang api dan flare merah dinyalakan sejumlah aktivis Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB).

“Ini rasa syukur kami. Terima kasih kepada KPK karena hukum tidak tebang pilih,” ujar Sutikno alias Paijan Jawi.

Namun, di balik euforia itu terselip kegamangan. Ia menyebut masih ada rekan mereka, Supriyono alias Botok, yang menjalani proses hukum dan belum merasakan kebebasan.

Syukuran Rakyat, Nazar Gundul Ditunaikan

Puncak ekspresi warga terjadi Jumat siang (23/1/2026). Ribuan orang dari berbagai kecamatan memadati Alun-alun Pati. Doa bersama digelar, tumpeng dipotong, makanan dibagikan.

Sekitar 10 orang mencukur rambut hingga gundul sebagai bentuk nazar. Sebagian lainnya berlari mengelilingi alun-alun—ritual personal yang berubah menjadi peristiwa publik.

Perwakilan AMPB, Husaini, menyebut lebih dari seribu warga hadir.
“Ini tasyakuran rakyat atas diselesaikannya praktik pungli di Pati oleh KPK,” katanya.

Panitia menyiapkan 10 tumpeng dan sekitar 5.000 nasi bungkus. Sisa makanan direncanakan disalurkan kepada warga terdampak banjir.

Tersangka Pemerasan dan Dosa Masa Lalu

KPK menetapkan Sudewo, politisi Partai Gerindra sekaligus Bupati Pati periode 2025–2030, sebagai tersangka pada Selasa (20/1/2026) usai Operasi Tangkap Tangan (OTT) sehari sebelumnya. Penyidik menemukan uang tunai Rp2,6 miliar yang disembunyikan dalam karung beras dan kantong plastik.

Uang tersebut diduga berasal dari pemerasan pengisian jabatan perangkat desa, dengan tarif Rp165 juta hingga Rp225 juta per orang.

Baca juga: Ironi Kota Madiun Raih Skor SPI Tertinggi, Wali Kota Maidi Justru Terjaring OTT KPK

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved