Berawal dari Laboratorium, Muhsin Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan di Jogja dan Jateng
Muhsin mengembangkan chamber system berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengukur emisi gas rumah kaca pada ternak ruminansia.
Melalui risetnya, Muhsin mengembangkan formulasi pakan ayam yang mampu menjaga kualitas daging, meningkatkan kesehatan ternak, sekaligus menurunkan kadar nitrogen dan amonia. Salah satu inovasi terbarunya adalah kombinasi pakan ayam rendah protein dengan black soldier fly oil (BSFO) atau minyak maggot untuk ayam broiler.
Hasilnya, kadar lemak dan kolesterol daging ayam menurun, sementara kandungan proteinnya meningkat. Formulasi ini juga menurunkan emisi amonia, sehingga lingkungan kandang lebih sehat.
“Penelitian yang masih dalam proses paten ini sejalan dengan prinsip peternakan unggas ramah lingkungan,” tandas Muhsin yang melakukan riset ini melalui program pascadoktoral di University of Arkansas, Amerika Serikat.
Baca juga: Merangkul Disabilitas, Menemukan Kekuatan di Balik Keterbatasan
Dari Laboratorium untuk Masyarakat
Riset peternakan berkelanjutan yang dikembangkan Muhsin tidak berhenti di laboratorium. Inovasi tersebut diterapkan melalui kemitraan dengan masyarakat dan industri, serta telah diserap pasar.
Implementasi dilakukan di berbagai wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Salah satunya melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Putro Manggolo di Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.
BUMDes ini memproduksi pakan ternak berbasis teknologi rumen undegradable nutrients (RUNs) yang dikembangkan Fakultas Peternakan UGM. Kapasitas produksinya mencapai 50–75 ton per bulan dan mendukung program “Kampung Domba” dengan populasi sekitar 100 ekor.
Melalui skema inti-plasma, BUMDes berperan sebagai penyedia pakan sekaligus offtaker hasil ternak. Pusat Pengembangan Ternak UGM menyediakan bibit tanaman pakan, sementara peternak menjalankan pemeliharaan sesuai standar. Selain membuka lapangan kerja, inisiatif ini turut meningkatkan pendapatan asli desa.
"Di Klaten ini yang paling sustain. Kerja samanya dimulai dari nol, bahkan sejak masa pandemi. Kami dampingi pabrik pakan hingga bisa produksi sampai 50 ton. Kini omzetnya mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta per bulan,” kata Muhsin.
“Kerja samanya dimulai dari nol, bahkan sejak masa pandemi. Kini omzetnya mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta per bulan,” kata Muhsin.
Pola kemitraan ini berkembang seperti bola salju. Transfer teknologi berjalan, melibatkan pemuda, kelompok perempuan, pelaku industri, hingga pemerintah daerah dalam aspek regulasi dan sertifikasi.
Contohnya, peternakan ayam petelur berbasis pakan ramah lingkungan di Sleman, Yogyakarta, yang diinisiasi UGM menggandeng kelompok peternak Perempuan beserta sejumlah pelaku usaha wisata dan kuliner. Produksi telur meningkat dari 500–1.000 butir menjadi sekitar 5.000 butir, dengan kualitas lebih baik dan harga jual lebih tinggi karena terserap hotel dan restoran.
“Dari sini terlihat bagaimana riset bisa scale-up. Dari laboratorium ke pasar. Keberlanjutan tercipta karena masyarakat, kampus, dan industri sama-sama mendapat manfaat,” ujarnya.
Berawal dari Sebuah Tas
Muhsin tak serta merta mencintai peternakan karena hidup di kawasan perdesaan sejak kecil. Lahir di sebuah desa di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ia sempat bercita-cita sebagai guru, profesi paling bergengsi di desanya.
Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di kampung halamannya, ia nyaris mengambil studi di kampus pendidikan guru sebelum akhirnya mendaftar ke Fakultas Peternakan di UGM.
Lambat laun, berbagai ilmu dan pengetahuan tentang dunia peternakan membuka matanya bahwa potensi dari sektor ini di Indonesia amat besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Muhsin-Al-Anas-1.jpg)