Berawal dari Laboratorium, Muhsin Kembangkan Peternakan Ramah Lingkungan di Jogja dan Jateng
Muhsin mengembangkan chamber system berbasis Internet of Things (IoT) untuk mengukur emisi gas rumah kaca pada ternak ruminansia.
"Setelah tahu tentang peternakan, akhirnya saya sadar. Waktu itu, istilahnya di desa itu angon atau menggembala. Ada yang bilang, kenapa harus kuliah, sini kita ajarin kalau cuma angon.
Padahal peternakan itu ada skala industrinya. Orang di kampung memelihara sapi itu cuma 1-2 ekor. Mereka enggak lihat bagaimana peternakan sapi yang sampai 10-50 ribu ekor," paparnya.
Muhsin pun makin merasa asyik dengan bidang peternakan. Bukan hanya kuliah, sejak menjadi mahasiswa, ia sudah aktif ikut dalam berbagai penelitian dan menjadi asisten dosen. Pada 2015, ia menjadi sarjana. Karena prestasinya, ia memperoleh beasiswa untuk program doktoral secara langsung tanpa harus mengikuti studi S2.
Pada 2020 di usia 28 tahun, gelar doktor diraihnya dari UGM lewat riset "Study Aflatoxin Research Trends in Indonesia and Reduction of AflatoxinB1 Toxicity in Broiler".
Pada 2012, ia kemudian mengambil program pascadoktoral lewat program Fulbright Visiting Scholar di University of Arkansas, Amerika Serikat. Tahun 2024, ia kembali mengunjungi kampus yang menjadi pusat perunggasan dunia itu untuk mengembangkan pendekatan nutrisi dalam memitigasi masalah tulang pada ayam broiler.
"Waktu itu, saya peserta post-doc paling junior. Nah, di sana semakin terbuka lagi bagaimana ekosistem pendidikan dan teknologi inovasi. Tidak sekadar riset yang menjadi suatu publikasi ilmiah, tapi bagaimana riset yang kemudian bisa menjadi produk, bisa ditransfer ke masyarakat dan ke industri," paparnya.
Muhsin mengenang, salah satu momen paling berkesan saat menjadi mahasiswa baru S1 adalah ketika ia melihat seorang kakak angkatan, dalam sebuah kegiatan kampus, mengenakan tas dengan logo yang menarik, Tanoto Foundation.
Rasa ingin tahu membawanya mencari informasi tentang lembaga filantropi tersebut, hingga akhirnya ia mendaftar beasiswa Tanoto Foundation untuk mendukung studinya.
Muhsin mengaku sempat tak percaya diri dan grogi saat mengikuti seleksi. Sebab, banyak peserta yang menurutnya lebih pintar, dan seleksinya amat ketat. Bermodal prestasi di semester 1 dan keaktifannya berorganisasi, ia akhirnya diterima dan memperoleh beasiswa sejak semester 2 di UGM.
"Tanoto Foundation memberikan saya banyak warna. Saya mendapatkan pelatihan public speaking dan leadership, bahkan sempat terpilih jadi ketua project teknologi waktu itu,” tuturnya.
Baca juga: Tanoto Foundation Kukuhkan 176 Penerima Beasiswa TELADAN 2026, Fokus Penguatan Soft Skills
SDM Terbaik untuk Peternakan
Tantangan peternakan berkelanjutan di Indonesia masih besar, baik dari sisi riset, produksi, maupun rantai pasok. Menurut Muhsin, pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi fondasi utama.
SDM peternakan perlu dibekali pola pikir kreatif dan inovatif melalui pendidikan yang tidak berhenti di ruang kelas. Paparan lapangan, studi kasus, dan keterhubungan dengan dunia industri menjadi kunci.
“Ketika pola pikir dan kreativitas terbentuk, mereka bisa menggerakkan ekonomi—baik di perusahaan maupun melalui usaha sendiri,” ujarnya.
Setelah SDM berkembang, dampaknya perlu diukur melalui inovasi yang dihasilkan, jumlah pihak yang terlibat, serta kontribusi terhadap ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Aspek ekonomi inilah yang menjadi prasyarat keberlanjutan.
“Tanpa dampak ekonomi, keberlanjutan sulit dicapai. Sustainability harus ditopang oleh riset dan manfaat nyata,” katanya.
Peta jalan tersebut membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk lembaga yang selama ini berperan dalam pengembangan pendidikan generasi muda. Dukungan ini, menurut Muhsin, perlu diperluas untuk mendorong riset sains dan teknologi yang relevan, aplikatif, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Muhsin-Al-Anas-1.jpg)