Rabu, 20 Mei 2026

Hari Pers Nasional

Peran Senyap yang Berdampak Besar, Dahlan Dahi Dinilai Konsisten Dukung Jurnalisme Berkualitas

Dahlan Dahi yang berhasil mengurai konflik panjang dua kubu, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), menerima penghargaan dari PWI.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Wahyu Aji
Tribunnews.com
TERIMA PWI AWARDS - Chief Executive Officer (CEO) Tribun Network Dahlan Dahi (kiri) menerima PWI Awards 2026 atas jasa-jasanya mewujudkan soliditas dan persatuan kembali PWI. (TribunBanten.com/Adi Chandra) 

Wartawan senior Kantor Berita Antara, Ahmad Munir kontestasi dengan Hendry Ch Bangun, dan Munir terpilih menjadi Ketua Umum PWI. 

 

Menyelesaikan Konflik

Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Akhmad Munir mengatakan, pemberiaan penghargaan kepada Dahlan Dahi yang menjabat sebagai Chief Executive Officer (CEO) Tribun Network, atas alasan kehadirannya sebagai figur yang menyelesaikan konflik dan dualisme kepemimpinan organisasi PWI.

“Kami memberi award kepada figur anggota Dewan Pers Dahlan Dahi adalah atas jasa-jasa beliau yang bisa mempertemukan dan menyelesaikan konflik dualisme PWI. Beliau bisa merajut kembali perbedaan-perbedaan keras antara Bang HCB dan Bang Zul. PWI yang tadinya mengalami dualisme, alhamdulillah berkat ketelatenan, keikhlasan dan ketulusan mas Dahlan Dahi, akhirnya tersapai kesepakatan untuk digelar kongres Persatuan PWI 2025,” ujar Munir dalam wawancara dengan Tribunnews.com, usai acara. 

Sehari sebelumnya, saat memberi sambutan pada acara silaturahmi para pemimpin redaksi dan wartawan senior bersama pimpinan Astra di Hotel Aston, Serang, Banten, Minggu (8/2/2026), Munir juga mengungkapkan persatuan PWI yang telah diraih usai Kongres Persatuan PWI 31 Agustus 2025. 

“Alhamdulillah, kita dapat berjumpa pada saat ini. Saya senang, PWI dapat bersatu kembali, setelah terjadi dualism kepengurusan tahun lalu. Upaya penyatuan PWI telah dilakukan banyak pihak, termasuk Wamen Komdiigi Pak Nezar Patria. Ketika soluasi hamper didapat, sayangnya gagali. Sampai pada upaya baik dan ikklas sahabat kita, anggota Dewan Pers Dahlan Dahi, yang mempersatukan PWI,” kata Munir.

Menanggapi penghargaan yang diberikan kepadanya, Dahlan Dahi  berterima kasih kepada para pihak.

"Seremoni penghargaan adalah melestarikan dan mewariskan nilai baik, tentang ketulusan, kerja keras, dan dedikasi untuk sesuatu yang lebih besar dari diri kita dan kelompok kita. Nilai baik untuk publik. PWI adalah institusi yang bekerja untuk publik. Semoga makin kuat dan makin besar kontribusinya untuk publik," ujar Dahlan.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid juga mengatakan rasa sukacita PWI dapat bersatu kembali. Hal itu dikemukakan politisi Partai Golkar, itu ketika  menyampaikan kata sambutan pada Konvensi Media Massa Nasional di Hotel Aston, Minggu (8/2/2026) sore.

"Senang rasanya dapat berjumpa dengan senior-senior wartawan semua di arena Hari Pers 2026. Tahun 2025, kami selaku pemerintah tidak hadir pada HPN karena saat itu dilaksakan di dua tempat (dua kelompok). Syukurlah, sekarang sudah bersatu," kata Meutya, yang mantan wartawan.

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) adalah organisasi profesi wartawan pertama yang didirikan pada 9 Februari 1946 di Surakarta, Jawa Tengah. Menurut Ketua Dewan Pers Prof Komarudin Hidayat, PWI adalah organisasi wartawan tertua yang menjadi konstituen Dewan Pers

“Saat ini ada sebelas organisasi wartawan dan asosiasi perusahaan media yang menjadi konstituen Dewan Pers. Dan PWI adalah organisasi wartawan tertua, yang pertama lahir, kemudian disusul adik-adiknya,” kata Komarudin, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta 2005-2010.

Hari lahir PWI diperingati sebagian wartawan sebagai hari Pers Nasional. Peringatan tahunan itu mulai dilakukan setelah Presiden Soeharto mengeluarkan Surat Keputusan Presiden Nomor 5 tahun 1985 yang menetapkan tanggal itu sebagai Hari Pers Nasional (HPN).

Sebagian organisasi wartawan lainnya, seperti Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI), menolak HPN pada 9 Februari. Menurut kedua organisasi pers ini, setelah Soeharto jatuh tahun 1998, ada sejumlah perubahan penting yang terjadi dalam bidang media yaitu koreksi regulasi Orde Baru.

 

Perjalanan Karier Jurnalistik Dahlan

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved