Rabu, 22 April 2026

Berita Viral

Power Medsos di Kasus Tumbler KRL 2025 Vs Kasus LPDP 2026

Media sosial bisa memperbesar isu kecil jadi sorotan nasional, bisa juga mengguncang reputasi individu sekaligus kebijakan negara.

HO/IST/threads/Instagram/sasetyaningtyas
LPDP VS TUMBLER HILANG - Dwi Sasetyaningtyas, tokoh advokasi lingkungan dan bisnis hijau yang jadi sorotan setelah video yang menunjukkan paspor anak mereka sebagai warga negara Inggris, disertai ungkapan, "Cukup aku saja WNI, anakku jangan. Kita usahakan paspor kuat WNA." Persoalan tumbler hilang yang viral ini bermula dari seorang penumpang KRL bernama Anita Dewi yang membagikan cerita awalnya ketinggalan cooler bag (tas pendingin) di bagasi gerbong khusus wanita saat turun di Stasiun Rawa Buntu setelah menempuh rute Tanah Abang-Rangkasbitung. 

Ternyata, video tersebut pun dianggap menghina Indonesia dan Tyas juga dicap sebagai sosok 'kacang lupa kulitnya'.

Pasalnya, dirinya notabene sebagai penerima beasiswa LPDP yang sumber biayanya berasal dari negara tetapi justru menjelek-jelekan Tanah Air.

Baca juga: Profil Syukur Iwantoro, Mertua Dwi Sasetyaningtyas Penerima Beasiswa LPDP, Mantan Sekjen Kementan

Tak sampai di situ, video Tyas juga merembet ke suaminya, Arya Pamungkas Irwantoro yang disanksi oleh pihak LPDP untuk mengembalikan seluruh bantuan pendidikan yang diterimanya.

Senada dengan Tyas, Arya juga penerima beasiswa LPDP. Namun, sanksi yang dijatuhkan kepaa Arya tidak terkait dengan video sang istri.

Sanksi tersebut berkaitan dengan Arya yang melanggar aturan di mana dirinya tidak kembali ke Indonesia meski telah lulus.

Kembali lagi ke pernyataan Mahfud, kemarahannya karena Tyas justru menghina Indonesia meski sebenarnya kesuksesan yang dicapainya saat ini juga ada andil dari negara.

Dia pun menasehati Tyas agar tidak pernah lelah untuk cinta dengan Tanah Air meski banyak permasalahan tengah terjadi.

"Saya mendengar (pernyataan Tyas) itu marah dan itu bertentangan dengan prinsip yang selalu saya katakan yaitu jangan pernah lelah mencintai Indonesia. Sepertinya, dia lelah ini," katanya dikutip dari YouTube Mahfud MD, Rabu (25/2/2026).

"Saya marah orang lalu tidak suka kepada Indonesia. Padahal dia sendiri itu mendapatkan kenikmatan karena Indonesia, lalu dia melecehkan Indonesia di depan publik dengan begitu parah dan menyakitan bagi kita," sambung Mahfud.

Kendati marah, Mahfud mengatakan bahwa viralnya sosok Tyas ini juga menjadi koreksi bagi pemerintah dalam membuat kebijakan.

Menurutnya, Tyas telah sampai pada puncak kekecewaannya terhadap pemerintah hingga berujung anaknya tidak ingin berstatus sebagai WNI.

GERAM - Mantan Menkopolhukam, Mahfud MD, marah atas pernyataan Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima beasiswa LPDP buntut pernyataannya 'cukup aku saja yang WNI, anakku jangan'.
GERAM - Mantan Menkopolhukam, Mahfud MD, marah atas pernyataan Dwi Sasetyaningtyas, alumni penerima beasiswa LPDP buntut pernyataannya 'cukup aku saja yang WNI, anakku jangan'. (Kolase Tribunnews.com)

 

Tagar #KaburAjaDulu

Mahfud juga mengatakan pernyataan Tyas ini memiliki kesamaan dengan gerakan tagar #KaburAjaDulu yang sempat viral beberapa waktu lalu.

Bahkan, dia menyebut fenomena dari sosok Tyas ini berkorelasi dengan gerakan #KaburAjaDulu.

"Kalau di dalam tidak terlayani dengan baik sebagai warga negara, ya kabur aja dulu. Itu serangkaian karena nampaknya pemerintahannya terlalu 'steril' dari kritik-kritik itu."

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved