Guru Honorer: Antara Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dan Realitas Gaji Pas-Pasan
Guru honorer gugat APBN 2026 ke MK, soroti gaji minim dan anggaran pendidikan yang terdampak program MBG
Ia mengaku pernah harus menggunakan jasa pinjol sebab kebutuhan hidupnya belum terpenuhi dari gaji guru honorer.
"Saya kebetulan sudah pernah (menggunakan jasa pinjol), saya akui saya sudah pernah," ungkap Reza.
"Jadi untuk jaga-jaga kalau misalnya, ya sudah karena kita enggak ada uang, belum ada gaji dan sebagainya, ya sudah kita pinjam," ia menambahkan.
Tak hanya Reza, namun fenomena ini juga terjadi di lingkungan sekitarnya pun di banyak wilayah.
"Dari lingkungan saya, teman-teman, bahkan di luar pulau sekalipun atau luar provinsi sekalipun, itu memang banyak guru yang melakukan pinjaman online," jelasnya.
Selain pinjol, Reza menyebut dirinya tidak hanya mengajar di satu sekolah, demi menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Ia mengaku tidak membuka les privat seperti sebagian guru lainnya, melainkan tetap mengajar di lingkungan sekolah.
Aktivitas Reza dimulai sejak pagi. Di Jawa Barat, jam sekolah dimulai sekitar pukul 06.30. Ia baru selesai mengajar dari dua sekolah berbeda sekitar pukul 15.30.
Durasi kerjanya, menurut dia, tak jauh berbeda dengan jam kerja kantoran pada umumnya. Namun, besaran upah yang diterima jauh dari kata layak.
"Kecil dan itu pun pas-pasan banget," ucap Reza lirih.
Kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan kesepadanan antara beban kerja dan kesejahteraan yang diterima.
Di tengah persoalan gaji yang minim dan tekanan mental yang dirasakan, profesi guru honorer dinilainya belum sepenuhnya memberikan jaminan kesejahteraan yang layak.
Belum lagi ditambah anggaran pendidikan yang direcoki program MBG.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/uji-uu-apbn1.jpg)