Program Makan Bergizi Gratis
Akademisi Ingatkan Penguatan Rantai Pasok dalam Program MBG
Penguatan logistik, sistem rantai dingin (cold chain), pengawasan mutu bahan baku, hingga digitalisasi pelacakan distribusi menjadi faktor kunci
Dengan sistem ini, sumber persoalan dapat diidentifikasi lebih cepat jika terjadi insiden. Transparansi distribusi juga memperkuat akuntabilitas pelaksanaan program.
“Implementasi sistem pelacakan digital dan standardisasi rantai dingin menjadi instrumen vital untuk memantau keamanan pangan dan mencegah insiden berulang,” katanya.
Tantangan Distribusi dan Peran Rantai Pasok Lokal
Distribusi makanan ke sekolah, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), menjadi tantangan tersendiri.
Keterlambatan distribusi berpotensi menurunkan kualitas sekaligus meningkatkan risiko kontaminasi.
Sebagai solusi, Erni mendorong penguatan rantai pasok berbasis lokal dengan melibatkan petani, nelayan, koperasi desa, dan pelaku UMKM pangan di sekitar SPPG.
"Pendekatan ini dinilai mampu memperpendek jalur distribusi, menjaga kesegaran bahan baku, serta menggerakkan ekonomi daerah," katanya.
Namun demikian, kata dia standarisasi mutu dan pengawasan tetap diperlukan agar kualitas pangan tidak berbeda antarwilayah.
Menjaga Kepercayaan Publik
Secara konseptual, MBG memiliki potensi besar dalam mendukung kesehatan anak, menekan angka stunting, serta memperkuat ekonomi lokal.
Namun, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau cakupan penerima manfaat.
Kepercayaan publik menjadi faktor penentu.
“Tanpa penguatan rantai pasok, pengawasan kualitas, dan standardisasi pelaksanaan, program ini berisiko tidak mencapai tujuan yang diharapkan,” tegas Erni.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Tidak-ada-susu-di-menu-makan-bergizi-gratis-yang.jpg)