Selasa, 14 April 2026

Akulturasi Makin Kuat, Komunitas Tionghoa Diajak Kedepankan Nilai Keindonesiaan

masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki khas keindonesiaan, sehingga tidak bisa dianggap sama dengan budaya yang berkembang di daratan Tiongkok.

|
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Choirul Arifin
KUPAS KOMUNITAS TIONGHOA - Acara diskusi menyambut Imlek bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” di Jakarta, Sabtu, 28 Februari 2026. Kegiatan diskusi ini diselenggarakan Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) bersama Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) dan Forum Sinologi Indonesia (FSI).  

Ringkasan Berita:
  • Tinjauan terkini tentang Tionghoa di Indonesia menjadi bahasan menarik di acara duskusi menyambut Imlek di Jakarta, terkait dengan upaya menjaga identitas keindonesiaannya.
  • Orang Tionghoa yang masih memiliki garis keturunan langsung dari para pendatang dari daratan Tiongkok, telah mengalami proses adaptasi dan akulturasi dengan masyarakat lokal di Nusantara.
  • Identitas Tionghoa dalam bingkai budaya Indonesia bersifat dinamis dan progresif dan pemaknaan oleh setiap generasi juga berbeda.
 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kiprah masyarakat Tionghoa di Indonesia selalu menarik dibicarakan, terlebih jika melihat proses akulturasi dan adaptasi para Tionghoa termasuk Tionghoa peranakan yang lahir dan besar di Indonesia.

Pada umumnya, orang Tionghoa yang masih memiliki garis keturunan langsung dari para pendatangl dari daratan Tiongkok, telah mengalami proses adaptasi dan akulturasi dengan masyarakat yang berlatar belakang etnik lain di Nusantara selama ratusan tahun. 

Kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki khas keindonesiaan, sehingga tidak bisa dianggap sama dengan budaya yang berkembang di daratan Tiongkok.

Identitas entik dari orang Tionghoa Indonesia pun berbeda bukan hanya dari orang-orang di daratan Tiongkok, tetapi bahkan dari kelompok Tionghoa yang berasal dari negara-negara Asia Tenggara lainnya. 

"Media sosial banyak mengubah cara pandang tentang Tionghoa dari sisi budaya ekonomi dan politik. Pandangan Ketionghoaan di Tiongkok sudah muncul sejak abad 13 terlebih dengan diimplementasikannya Confucianisme," ungkap Christine Susanna Tjhin, pendiri dan direktur komunikasi strategis dan penelitian Gentala Institute di acara diskusi menyambut Imlek bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).

Kegiatan diskusi ini diselenggarakan oleh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) bersamaIkatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI), serta kelompok kajian Indonesia Tiongkok dan masyarakat Tionghoa Indonesia, Forum Sinologi Indonesia (FSI). 

"Dalam melihat semua kejadian di Tiongkok kita melihatnya sebagai orang Indonesia. Karena ketika terjadi apa apa seperti insiden 1998 terjadi rusuh. Yang menolong para Tionghoa di sini adalah juga warga lokal," ungkap Christine.

Christine Susanna Tjhin mengatakan, baik kelompok intelektual, pejabat dan masyarakat lain di Tiongkok memaknai orang-orang asal Tiongkok yang bermigrasi keluar Tiongkok dengan tiga istilah yang berbeda, yaitu Huayi, Huaren dan Huaqiao. 

Antara huayi dan huaren memiliki kesamaan, yaitu kedua kategori ini bukan warga negara Tiongkok. “Ini karena Tiongkok tidak mengakui kewarganegaraan ganda, sehingga orang asal Tiongkok yang telah menjadi warga negara dari negara lain, secara otomatis kehilangan kewarganegaraan Tiongkoknya,” jelas Christine. 

Sedangkan Huaqiao biasanya masih memegang paspor Tiongkok. Lebih lanjut Christine menjelaskan bahwa pemahaman mengenai ketionghoaan dapat ditinjau dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek budaya, yang mengaitkan ketionghoaan dengan ajaran Konfusius.

Aspek lainnya adalah aspek politik, yaitu memandang ketionghoaan dari sudut pandang identitas politik, yang sebenarnya baru muncul di akhir era dinasti Qing, namun terus berlanjut hingga saat ini. 

Menurut Christine, aspek politik tersebut turut menyertai arus migrasi orang-orang asal dataran Tiongkok ke negara-negara lain, termasuk Indonesia, sehingga muncullah istilah ‘pendatang baru,’ yaitu para pendatang yang lahir di Tiongkok dan keturunan generasi pertama dari para pendatang tersebut. 

Namun, seperti dijelaskan Christine, dalam tahun-tahun belakangan, sejalan dengan investasi Tiongkok ke luar negeri, termasuk Indonesia, muncul kategori baru, yaitu ‘pendatang baru’ yang baru. 

Baca juga: Tahun Baru Imlek 2026, Sejumlah Umat Tionghoa Beribadah dengan Khusyuk di Klenteng Lupan Jakbar

Dalam kaitan ini muncul pembahasan dari kategori etnik atau ras dan diaporik, yang dalam pandangan Christine bersifat sangat kompleks. Oleh karenanya, bagi Christine, relevansi dualisme antara totok dan peranakan, yang pernah muncul pada masa-masa yang lalu, perlu untuk dipertanyakan lagi. 

Dari segi politik, orang-orang Tionghoa di Indonesia saat ini telah memilih menjadi Indonesia, dan oleh karenanya memiliki identitas nasional Indonesia. Pilihan ini merupakan sebuah keputusan politik yang disertai komitmen kuat untuk mewujudkan pilihan menjadi bangsa Indonesia itu dalam kehidupan sehari-hari. 

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved