Rabu, 3 Juni 2026

Akulturasi Makin Kuat, Komunitas Tionghoa Diajak Kedepankan Nilai Keindonesiaan

masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki khas keindonesiaan, sehingga tidak bisa dianggap sama dengan budaya yang berkembang di daratan Tiongkok.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Choirul Arifin
Editor: Erik S
Tribunnews.com/Choirul Arifin
KUPAS KOMUNITAS TIONGHOA - Acara diskusi menyambut Imlek bertajuk “Imlek 2026: Ketionghoaan dalam Bingkai Budaya Indonesia” di Jakarta, Sabtu, 28 Februari 2026. Kegiatan diskusi ini diselenggarakan Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia (Aspertina) bersama Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI) dan Forum Sinologi Indonesia (FSI).  

Dalam pandangan Sekretaris Aspertina, Budiman Tanah Djaja, identitas Tionghoa dalam bingkai budaya Indonesia bersifat dinamis dan progresif. Menurutnya, pemaknaan setiap generasi terhadap identitas ketionghoaannya juga tak sama.

Bagi generasi yang lahir dan tumbuh dewasa sebelum atau semasa pemerintahan Orde Baru, identitas ketionghoaan masih dibayangi dengan represi, trauma, dan beban sejarah. 

Namun bagi generasi muda yang lahir atau menjadi dewasa setelah Reformasi 1998, sebuah era yang diwarnai dengan kebebasan, identitas Tionghoa menjadi lebih cair. Apalagi dalam dasawarsa terakhir ini globalisasi makin menguat, seiring dengan munculnya era media sosial. 

Dalam konteks itulah Budiman memahami munculnya istilah Chindo (Chinese Indonesia) sebagai upaya memaknai identitas di kalangan generasi muda.

Kami yang hidup di zaman Orde Baru memiliki pemaknaan yang berbeda terkait dengan identitas Tionghoa. Karena anak anak sekarang hidup di masa yang semakin mengglobal, mereka lebih cair. Sementara kami memiliki beban sejarah masa lalu.

Di masa lalu, anak anak Tionghoa yang akan melaksanakan ibadah Imlek harus sembunyi sembunyi karena diawasi Intel. Pengaruh budaya K-Pop, drama Korea, drama China membuat mereka mendefinisikan ulang tentang Tionghoa.

"Generasi sekarang melupakan bahwa medium itu penting, anak anak sekarang lebih banyak mengkonsumsi internet."

"Tapi anak anak sekarang juga mulai menggali sejarah antara lain dengan mendatangi tempat tempat bersejarah untuk kembali mempelajari sejarah lama, mereka mencoba merebut ruang publik untuk memahami kebudayaan Tionghoa itu seperti apa," ungkap Budiman.

Dia menilai, budaya Peranakan Tionghoa belum menemukan identitasnya di Indonesia. Anak anak sekarang mendefinisikan identitas Tionghoa dengan berbagai budaya yang sudah terasimilasi.

"Yang penting sekarang adalah bagaimana kita berupaya merawat ingatan kolektif di masyarakat. Setelah era 90 budaya perempuan Tionghoa mengenakan kebaya sudah mulai hilang," kata Budiman.

Baca juga: Bermodal Google Maps, Pria Australia-Tionghoa Rayakan Tahun Baru Imlek di Vihara Dharma Bhakti

Ketua Pemuda Tionghoa Indonesia (IPTI): Septeven Huang menilai, masyarakat Tionghoa di Indonesia memiliki kebudayaannya sendiri yang berbeda dengan di China daratan. 

"Mereka sudah dapat beradaptasi dengan kebudayaan lokal m masyarakat tionghoa di Aceh bisa berbahasa Aceh begitu juga di Manado dan daerah lain. Tidak bisa mentransplantasikann kebudayaan Tiongkok ke sini," ungkapnya.

Dia menekankan pentingnya bagi masyarakat Tionghoa, khususnya generasi muda, membangun identitas berbingkai Indonesia, baik identitas nasional maupun budaya, sebagai upaya menghadapi berbagai arus budaya asing. 

“Janganlah generasi muda Tionghoa larut dalam krisis identitas, lalu mencoba mengadopsi kebudayaan luar, baik yang kebarat-baratan, yang berkharaktersistik Korea, atau bahkan Tiongkok. Hindari menjiplak langsung kebudayaan Tiongkok tanpa memahami padanannya dalam kebudayaan Tionghoa yang berbingkai keindonesiaan,” kata Septeven. 

Menurutnya penting bagi Tionghoa untuk menjadi Tionghoa yang berkharakteristik Indonesia, sama pentingnya dengan menjadi Indonesia tanpa harus menanggalkan identitas budaya Tionghoa

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved