Iran Vs Amerika Memanas
Dampak Perang Iran vs AS-Israel, Ancaman PHK Besar-Besaran Mengintai Buruh di Indonesia
KSPI peringatkan perang Iran-AS-Israel picu PHK massal di RI akibat lonjakan minyak, BBM, dan gangguan ekspor-impor.
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM - Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) menilai konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel berpotensi memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di Indonesia.
Presiden KSPI, Said Iqbal, menyebut dampak perang akan langsung terasa pada sektor energi dan industri dalam negeri.
“Perang Iran dengan Amerika dan Israel pasti akan terjadi PHK besar-besaran,” ujar Said Iqbal dalam jumpa pers daring, Selasa (3/3/2026).
Baca juga: Trump Proyeksikan Perang AS-Israel vs Iran Berlangsung 4–5 Minggu, Bisa Lebih Lama
Harga Minyak dan BBM Terancam Naik
Menurutnya, lonjakan harga minyak dunia menjadi dampak awal yang paling mungkin terjadi.
Jika harga minyak global naik tajam, maka harga bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia berpotensi ikut terkerek.
Kenaikan BBM, kata dia, akan meningkatkan biaya transportasi dan logistik.
Dampaknya, biaya produksi perusahaan ikut melonjak.
“Kalau harga minyak melambung tinggi, BBM di Indonesia naik tinggi. BBM naik tinggi, harganya melambung, akan menambah beban on cost transportasi dan biaya logistik,” tuturnya.
Baca juga: PM Jepang Sanae Takaichi Ogah Sebut Serangan AS ke Iran Melanggar Hukum
Gangguan Ekspor-Impor dan Efisiensi Produksi
Selain energi, KSPI menilai perang juga berpotensi mengganggu aktivitas ekspor-impor Indonesia.
Jika ekspor tersendat akibat ketidakstabilan global, produk dalam negeri bisa menumpuk di gudang.
Dalam kondisi itu, perusahaan dinilai akan melakukan efisiensi produksi, yang berujung pada pengurangan tenaga kerja.
“Kalau dia menumpuk, maka dia akan melakukan pabrik di Indonesia efisiensi produksi. Efisiensi produksi berarti PHK,” ungkap Said Iqbal.
KSPI juga menyoroti potensi terhambatnya impor bahan baku serta kenaikan harga, terutama di sektor tekstil dan garmen.
Tekanan biaya produksi yang meningkat dinilai akan mempersempit ruang gerak industri.
Desak Pemerintah Ambil Langkah Preventif
KSPI meminta pemerintah segera mengambil langkah preventif agar dampak konflik global tidak menjalar ke sektor ketenagakerjaan nasional.