Peran Sanggar Bejo Lestari Laras Jaga dan Lestarikan Warisan Budaya Lokal di Era Digital
Sanggar Bejo Lestari Laras berperan penting dalam melestarikan budaya lokal dengan menjadi wadah generasi muda untuk belajar tari hingga gamelan.
Ringkasan Berita:
- Sanggar Bejo Lestari Laras berperan penting dalam melestarikan budaya lokal dengan menjadi wadah generasi muda untuk belajar tari, gamelan, sekaligus membentuk karakter disiplin dan percaya diri.
- Minat anggota tumbuh secara alami dari lingkungan sekitar, meski di era digital sanggar tetap harus beradaptasi agar pembelajaran seni tetap menarik dan relevan.
- Prestasi hingga tingkat nasional menjadi bukti keberhasilan pembinaan, serta memperkuat semangat generasi muda untuk mencintai budaya lokal.
TRIBUNNEWS.COM - Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan sanggar seni memiliki peran penting sebagai penjaga sekaligus penggerak pelestarian budaya lokal.
Sanggar Bejo Lestari Laras hadir sebagai wadah bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan mencintai kesenian tradisional yang menjadi identitas daerah.
Sanggar yang berlokasi di Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa, Kabupaten Pati ini tidak hanya menjadi tempat berlatih tari dan gamelan, tetapi juga ruang pembentukan karakter.
Anak-anak diajarkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, serta rasa percaya diri melalui proses latihan yang rutin dan terarah.
Dengan jadwal latihan yang konsisten setiap minggu, mereka dapat mengembangkan bakat seni tanpa mengabaikan pendidikan formal.
Proses Rekrutmen Anggota Sanggar
Dalam proses perekrutan anggota, sanggar ini tidak mengalami kesulitan berarti.
Minat anak-anak untuk bergabung justru tumbuh secara alami dari lingkungan sekitar.
"Untuk proses merekrut sendiri, alhamdulillah anak-anak yang mau gabung kebanyakan datang langsung ke sanggar untuk daftar dan ikut gabung," ungkap Siti Nurjanah, Sekretaris Yayasan Sanggar Bejo Lestari Laras saat diwawancarai Tribunnews.com, Minggu (1/3/2026).
Sebagian besar calon anggota mengetahui keberadaan sanggar dari teman-teman mereka yang telah lebih dahulu bergabung.
Ada pula yang mendengar cerita dari masyarakat bahwa di Desa Panggungroyom terdapat sanggar kesenian yang aktif.
Baca juga: Mengenal Yayasan Sanggar Bejo Lestari Laras: Ruang Kreativitas dan Pelestarian Seni di Pati
Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi sanggar telah dikenal luas dan mendapat respons positif dari masyarakat.
Tantangan Mengajak Anak Muda di Era Digital
Meski demikian, mengajak anak-anak untuk belajar seni di era digital bukanlah hal yang mudah.
Perkembangan zaman menuntut pengelola sanggar untuk terus beradaptasi agar tetap relevan dan menarik bagi generasi muda.
"Dalam mengajak anak-anak belajar seni di era digital memang agak sulit karena kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman. Jadi, di sini anak-anak harus punya jiwa yang cenderung menyukai kesenian terlebih dahulu," kata Nur, sapaan akrabnya.
Minat dan kecintaan terhadap seni menjadi modal utama bagi anak-anak yang ingin bergabung.
Untuk menjaga semangat belajar, proses pembelajaran juga dirancang mengikuti perkembangan zaman agar anak-anak tidak merasa bosan.
Jadwal latihan pun disusun secara teratur dan tidak memberatkan.
"Jadwal latihan untuk tari 1 minggu 1 kali. Untuk gamelan juga sama 1 minggu 1 kali," jelasnya.
Dengan jadwal yang konsisten, anak-anak dapat menyeimbangkan kegiatan belajar di sekolah dengan aktivitas seni di sanggar.
Pengalaman Berharga di Tingkat Nasional
Salah satu kisah inspiratif yang membanggakan adalah ketika pengurus sanggar mendampingi anak-anak mengikuti lomba Festival Dalang Anak (FDA) tingkat nasional.
Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga yang tidak mudah didapatkan oleh semua anak.
"Itu merupakan sebuah momen langka yg tidak semua anak bisa ikut," ungkap Adhi Kusnari, Pembina Sanggar.
"Partisipasi dalam ajang nasional tidak hanya memberikan pengalaman berharga, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri anak-anak," lanjutnya.
Adhi menyebut, berbagai prestasi yang telah diraih, baik di tingkat daerah maupun nasional, menjadi penyemangat tersendiri bagi mereka.
"Bagi sanggar, capaian tersebut turut mengharumkan nama lembaga hingga ke tingkat nasional. Lebih dari itu, ada kepuasan batin karena upaya menyediakan wadah, fasilitas, dan ruang bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat seni tidaklah sia-sia," ucapnya bangga.
Harapan dan Pesan untuk Generasi Muda
Ke depan, Adhi berharap dapat terus berkembang dan semakin banyak anak muda yang tertarik untuk belajar serta bergabung, meskipun hidup di era modern.
Adhi juga menyampaikan pesan penting kepada generasi muda bahwa budaya lokal sesungguhnya menyenangkan dan menarik, tidak seperti anggapan sebagian orang.
"Ingat, orang luar negeri saja suka dan mau belajar budaya kita, masa kita kalah dengan mereka? Kalau bukan kita, generasi muda, yang mencintainya, lalu siapa lagi?"
"Jangan mau kalah dengan orang luar. Seperti pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Karena itu, kenali dulu budaya lokal kita, lama-kelamaan pasti akan tumbuh rasa cinta terhadapnya," pesannya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya bukan hanya tanggung jawab segelintir orang, melainkan tanggung jawab bersama, terutama generasi muda sebagai pewaris bangsa.
Melalui peran aktif Sanggar Bejo Lestari Laras, harapan untuk menjaga dan melestarikan budaya lokal tetap menyala di tengah perubahan zaman.
(Tribunnews.com/Latifah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Sanggar-Bejo-Lestari-Laras4.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.