Rabu, 22 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Pakar Soroti Dampak Konflik Iran–AS–Israel terhadap Ekonomi dan Keamanan Indonesia

Konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengganggu jalur energi global di Selat Hormuz.

Penulis: Reza Deni
Editor: Wahyu Aji
HO/IST
KONFLIK IRAN VS ISRAEL - Webinar bertajuk Dampak Konflik Iran dan Israel-AS Terhadap Dinamika Keamanan Indonesia yang digagas oleh IFORSTRA (Institute for Strategic Transformation) yang merupakan lembaga yang bergerak di isu-isu strategis terutama di bidang keamanan, pada Sabtu (7/3/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel berpotensi mengganggu jalur energi global di Selat Hormuz, yang dapat memicu kerentanan pasokan BBM dan tekanan ekonomi bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak.
  • Akademisi menilai ruang diplomasi Indonesia menghadapi tantangan setelah Iran menolak tawaran mediasi.
  • Namun Indonesia masih memiliki peluang memainkan peran penengah melalui langkah diplomasi aktif di tengah terbatasnya peran Perserikatan Bangsa-Bangsa.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Memanasnya konflik antara Iran dengan aliansi Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah dinilai berpotensi menimbulkan dampak luas bagi Indonesia, mulai dari kerentanan pasokan energi nasional hingga potensi polarisasi ideologi di dalam negeri.

Hal tersebut mengemuka dalam webinar bertajuk Dampak Konflik Iran dan Israel-AS Terhadap Dinamika Keamanan Indonesia yang digelar Institute for Strategic Transformation (IFORSTRA).

Diskusi strategis ini dipandu oleh Raja Adelia Oktafia dari Universitas Pertamina dan menghadirkan tiga narasumber, yakni dosen Hubungan Internasional BINUS University Tia Mariatul Kibtiah, dosen Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana Universitas Indonesia M. Syaroni Rofii, serta Direktur IFORSTRA M. Syauqillah.

Tia Mariatul Kibtiah membuka diskusi dengan menyoroti potensi krisis ekonomi akibat eskalasi konflik di kawasan Selat Hormuz yang merupakan jalur vital perdagangan energi dunia.

Ia memaparkan bahwa Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor minyak, sementara cadangan energi nasional dinilai terbatas.

"Selain persoalan energi, situasi geopolitik tersebut juga berdampak pada ruang diplomasi Indonesia," kata Tia, Minggu (8/3/2026).

Menurut Tia, upaya Indonesia untuk melakukan mediasi menghadapi tantangan setelah Iran menolak tawaran tersebut sekaligus mengkritik keputusan Indonesia bergabung dengan konfigurasi diplomasi Board of Peace (BoP).

Di dalam negeri, dinamika konflik juga dinilai dapat memicu kerawanan sosial. 

"Salah satu indikasinya adalah langkah antisipasi aparat keamanan dengan meningkatkan status kewaspadaan guna menghadapi potensi demonstrasi besar terkait konflik Timur Tengah," kata dia.

Sementara itu, M. Syaroni Rofii melihat konflik tersebut sebagai bentuk perang asimetris antara kekuatan militer Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang memiliki keunggulan teknologi drone.

Menurutnya, konflik tersebut tidak hanya berdimensi militer, tetapi juga berkaitan dengan upaya perubahan rezim yang dapat memicu ketegangan geopolitik berkepanjangan.

"Dampaknya berpotensi menekan pasokan bahan bakar minyak nasional yang pada akhirnya berdampak langsung pada sektor ekonomi, terutama usaha mikro dan sektor informal," kata Syaroni.

Dia juga menyoroti minimnya peran United Nations (PBB) dalam meredam konflik tersebut, sementara negara besar seperti China dan Rusia cenderung mengambil posisi menunggu.

"Dalam kondisi tersebut, Indonesia memiliki peluang untuk memainkan peran diplomasi yang lebih aktif," kata dia.

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved