Kasus Dugaan Korupsi di Kemendikbud
Dirut Evercoss Akui Chromebook Proyek Nadiem Tak Laku di Pasar, Kini Dijual Rp1,2 Juta
Harga anjlok dari Rp3,8 jt jadi Rp1,2 jt, Dirut Evercoss akui Chromebook proyek Nadiem tak laku di pasar hingga rugi total. Cek faktanya!
Ringkasan Berita:
- Produksi Eksklusif: Evercoss akui Chromebook diproduksi hanya untuk memenuhi proyek Kemendikbudristek era Nadiem Makarim.
- Harga Anjlok: Dulu dihargai Rp3,8 juta saat pengadaan, kini di marketplace jatuh ke Rp1,2 juta dan tetap tidak laku.
- Fakta Persidangan: Kesaksian Dirut Evercoss mengungkap kerugian total perusahaan akibat produk yang tidak diserap pasar umum.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Direktur Utama (Dirut) Evercoss, Imam Sujati, mengungkap fakta mengejutkan terkait pengadaan laptop Chromebook pada Program Digitalisasi Pendidikan Kemendikbudristek periode 2019–2022.
Imam menyebut produk tersebut diproduksi semata-mata hanya untuk memenuhi permintaan proyek di kementerian yang saat itu dipimpin Nadiem Makarim.
Namun ironisnya, perangkat yang dibiayai anggaran negara itu kini diakui tak laku dijual di pasaran (marketplace).
Bahkan, harganya anjlok drastis dari Rp3,8 juta menjadi hanya Rp1,2 juta per unit.
Pengakuan tersebut meluncur saat Imam bersaksi dalam sidang dugaan korupsi dengan terdakwa mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta, Senin (9/3/2026).
Dalam persidangan, Jaksa mempertanyakan apakah Evercoss pernah menjual laptop dengan spesifikasi Chromebook sebelum adanya proyek tersebut. "Belum pernah," jawab Imam lugas.
Pengakuan Rugi Total: Tak Diminati Masyarakat
Jaksa mencecar saksi mengenai perbedaan tajam antara harga pengadaan dengan nilai ekonomi barang saat ini.
Diketahui, pada saat proyek berjalan (2020-2022), laptop tersebut dihargai Rp3,8 juta per unit. Namun saat ini, di berbagai platform belanja daring, harganya jatuh ke angka Rp1,2 juta.
"Iya, karena sudah semakin (turun) kan harga elektronik, Pak. Semakin tahun kan semakin turun," ujar Imam memberikan alasan dari sudut pandang pelaku industri.
Meski harganya telah dipangkas lebih dari 60 persen, Imam mengakui produk tersebut tetap sepi peminat di masyarakat umum hingga perusahaan mengalami kerugian besar.
"Itu kita memang rugi sama sekali. Nggak laku, Pak," tegasnya saat menjawab pertanyaan Jaksa mengenai daya serap pasar saat ini.
Baca juga: Dakwaan KPK: Sarjan Beri Suap Rp1 Miliar untuk Biayai Umrah Bupati Bekasi Ade Kuswara
Kronologi Produksi dan Dakwaan Korupsi
Lebih lanjut, Imam menjelaskan bahwa keterlibatan Evercoss bermula dari koordinasi dengan raksasa teknologi, Google.
"Pada waktu itu sudah saya jelaskan di awal bahwa kita untuk membuat Chromebook itu adalah dihubungi pertama oleh Google Indonesia. Google Indonesia terus ada permintaan dari distributor-distributor kita yang sudah ada. Begitu, Pak," ungkapnya.
Dalam surat dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menyebut Nadiem Anwar Makarim bersama sejumlah pejabat lainnya melaksanakan pengadaan laptop dan Chrome Device Management (CDM) yang tidak sesuai perencanaan.
Program ini diduga tidak didasarkan pada identifikasi kebutuhan nyata pendidikan di lapangan, sehingga mengalami kegagalan fungsi, terutama di daerah 3T (Terluar, Tertinggal, Terdepan). Akibat perbuatan tersebut, negara ditaksir mengalami kerugian fantastis mencapai Rp1.567.888.662.716,74.
Baca juga: Sidang Nadiem Makarim, Jaksa Cecar Dirut Evercoss soal Keuntungan Rp 1 Juta Per Laptop Chromebook
Selain itu, terdapat kerugian tambahan dari pengadaan sistem CDM yang dianggap tidak bermanfaat sebesar USD 44.054.426 atau setara Rp621.387.678.730 (berdasarkan kurs Rp14.105 per USD).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Direktur-Utama-Evercoss-Imam-Sujati-saksi-sidang-korupsi-Chromebook-Nadiem-Makariem.jpg)