Minggu, 12 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

PDIP Singgung Kedekatan Pemikiran Ali Khamenei dan Soekarno dalam Semangat Antikolonial

PDIP menyinggung kedekatan pemikiran antara Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dan Presiden pertama Indonesia Soekarno. 

Tribunnews.com
BELASUNGKAWA - KONFLIK TIMUR TENGAH - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Yulius Setiarto saat mengunjungi Duta Besar Iran untuk RI Mohammad Boroujerdi di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Senin (9/3/2026)/ HO 
Ringkasan Berita:
  • Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Yulius Setiarto, menyinggung kedekatan pemikiran antara Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dan Presiden pertama Indonesia, Soekarno
  • Keduanya dinilai memiliki kesamaan pandangan dalam semangat antikolonialisme, solidaritas bangsa berkembang, serta penolakan dominasi kekuatan besar.
  • Hal ini disampaikan Yulius saat berkunjung ke Kedutaan Besar Iran di Jakarta untuk menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Yulius Setiarto menyinggung kedekatan pemikiran antara Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei dan Presiden pertama Indonesia Soekarno

Ia menyebut, keduanya memiliki kesamaan pandangan dalam semangat antikolonialisme, solidaritas bangsa-bangsa berkembang, serta penolakan terhadap dominasi kekuatan besar dalam politik internasional.

Hal ini disampaikan Yulius saat mengunjungi Duta Besar Iran untuk RI Mohammad Boroujerdi di Kedutaan Besar Republik Islam Iran di Jakarta pada Senin (9/3/2026). Kunjungan ini juga dalam rangka menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ali Khamenei.

Ayatullah Ali Khamenei yang sudah memimpin Iran selama hampir empat dekade tersebut, gugur dalam serangan yang dilancarkan Amerika Serikat (AS)-Israel pada Sabtu (28/2/2026) pagi waktu setempat.

“Ibu Megawati Soekarnoputri juga pernah mengingatkan bahwa Ayatullah Ali Khamenei sejak muda mengagumi pemikiran Bung Karno. Semangat antikolonialisme, solidaritas dunia ketiga, dan keberanian menolak dominasi kekuatan besar menjadi titik pertemuan sejarah antara Indonesia dan Iran,” kata Yulius.

Yulius menerangkan kunjungan ini menjadi bentuk penghormatan dan solidaritas kemanusiaan kepada rakyat Iran, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Ia menilai hubungan antara Indonesia dan Iran tidak semata lahir dari hubungan diplomatik antarnegara, tetapi juga memiliki kedekatan historis melalui kesamaan pengalaman perjuangan bangsa-bangsa berkembang dalam mempertahankan kedaulatan di tengah tekanan geopolitik global.

Salah satunya yakni semangat Konferensi Asia-Afrika yang digelar di Bandung pada tahun 1955.

Konferensi tersebut dinilai menjadi tonggak penting solidaritas negara-negara Asia dan Afrika dalam memperjuangkan kedaulatan serta menolak politik kekuatan dalam sistem internasional.

“Kalau kita tarik lebih jauh, peristiwa ini justru mengingatkan kembali pada semangat Konferensi Asia-Afrika yang digagas Bung Karno. Intinya, bangsa-bangsa Asia dan Afrika tidak boleh tunduk pada politik kekuatan dan harus berdiri di atas prinsip kedaulatan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa semangat tersebut tetap relevan dalam menghadapi dinamika geopolitik dunia saat ini.

Menurutnya penghormatan terhadap kedaulatan negara serta komitmen pada hukum internasional harus terus menjadi fondasi dalam hubungan antarbangsa.

Di akhir pernyataannya, Yulius menyinggung sikap Tahta Suci Vatikan yang memandang konflik di kawasan dengan keprihatinan mendalam.

Vatikan, menurutnya, secara konsisten menyerukan agar semua pihak menahan diri, mengedepankan dialog diplomatik, serta mengembalikan supremasi hukum internasional demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.

Surat Megawati

Pekan lalu, Presiden ke-5 Republik Indonesia sekaligus Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, mengirimkan surat duka cita mendalam kepada Pemerintah Republik Islam Iran atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.

Dalam surat personal yang penuh muatan historis tersebut, Megawati secara khusus mengungkap sisi lain mendiang Khamenei sebagai sosok ulama yang sangat mengagumi pemikiran proklamator RI, Dr. (H.C.) Ir. Soekarno.

Surat belasungkawa tersebut diantarkan langsung oleh Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, bersama Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri, Ahmad Basarah, kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).

Langkah diplomatik ini dilakukan menyusul gugurnya Ayatullah Ali Khamenei dalam serangan militer Israel dan Amerika Serikat ke wilayah Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026 lalu.

Ikatan Ideologis dan Kekaguman pada Pancasila

Dalam petikan suratnya, Megawati menegaskan bahwa wafatnya Khamenei merupakan kehilangan besar, bukan hanya bagi Iran tetapi juga bagi mereka yang mencintai kemerdekaan.

Megawati menyebut ada kedekatan batin yang unik antara pemimpin Iran tersebut dengan Indonesia.

"Bagi kami di Indonesia, sosok Ayatullah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno," tulis Megawati.

Ia membeberkan fakta bahwa sejak usia muda, Khamenei adalah pembaca pemikiran Bung Karno yang menjadikan pengalaman Indonesia, terutama Pancasila dan semangat Dasa Sila Bandung, sebagai referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan, dan keadilan sosial di Iran.

Megawati menilai Khamenei sebagai negarawan yang berhasil memadukan iman keagamaan dengan sikap anti-imperialisme yang konsisten selama lebih dari tiga dekade memimpin di tengah tekanan geopolitik dunia.

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved