Jumat, 24 April 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Konflik Iran vs AS-Israel jadi Ancaman Serius Ketersediaan Gas LPG di Dapur

Kurtubi mengingatkan Indonesia berisiko krisis energi jika konflik Timur Tengah menutup Selat Hormuz

|

Ringkasan Berita:
  • Pakar energi Kurtubi memperingatkan potensi krisis energi di Indonesia akibat konflik Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan United States 
  • Ia menilai gangguan di Selat Hormuz bisa menghambat pasokan minyak dan LPG, yang sebagian besar masih diimpor dari kawasan tersebut 
  • Ketergantungan impor membuat Indonesia rentan jika jalur perdagangan energi dunia terganggu.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pakar Perminyakan dan Energi, Dr. Kurtubi menyoroti eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran hingga saat ini.

Konflik ini memicu gejolak harga minyak mentah dunia. 

Sempat meroket hingga 118 Dolar AS per barel, harga minyak dunia memang berangsur turun di kisaran 80-85 Dolar AS per barel pada awal pekan ini.Meski pemerintah mengklaim stok Bahan Bakar Minyak (BBM) aman hingga 21 hari ke depan dan harga tidak akan naik hingga Lebaran, namun peringatan justru datang dari Kurtubi

Dalam wawancara khusus bersama Direktur Pemberitaan Tribun Network, Febby Mahendra Putra, Dr. Kurtubi menegaskan bahwa ancaman krisis energi di Indonesia sangat nyata jika Selat Hormuz, jalur utama perdagangan minyak dunia, sampai tertutup akibat perang.

"Krusial bangetnya itu fakta bahwa produksi minyak kita sangat rendah. Jauh dari yang kita butuhkan," kata Kurtubi di Studio Tribunnews, Palmerah, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Ancaman paling mengerikan, kata Kurtubi, bukan hanya pada BBM, tetapi pada ketersediaan gas LPG untuk rumah tangga. Saat ini, hampir seluruh kebutuhan LPG Indonesia bergantung pada impor, yang mayoritas didatangkan dari negara-negara Timur Tengah.

Baca juga: Konsumsi BBM-LPG Bakal Meningkat saat Lebaran, Pemerintah Siapkan Agen Beroperasi 24 Jam

"Kalau sampai Selat Hormuz terganggu, tidak hanya BBM yang akan terganggu, LPG juga akan terganggu. Ini sangat berbahaya kalau sampai BBM dan LPG ini kekurangan di pasar dalam negeri. Karena masyarakat sudah terlanjur dialihkan memakai LPG untuk memasak. Dulu di kampung pakai kayu bisa, sekarang semua pakai LPG," terangnya.

Kurtubi juga mengkritik rencana pemerintah yang ingin mengalihkan impor migas dari Timur Tengah ke negara-negara yang jaraknya sangat jauh seperti di benua Amerika atau Afrika.

Menurutnya, hal itu sangat berisiko tinggi karena ongkos angkut yang mahal dan kerentanan cuaca di lautan yang bisa membuat pasokan terlambat tiba di Tanah Air.

Berikut petikan wawancara khusus dengan Pakar Perminyakan dan Energi, Dr. Kurtubi bersama Tribunnews;

Pak Kurtubi, apakah memang LPG kita memang mayoritas bahan bakunya dari impor semua?

Iya, hampir semua dari impor. Ada kilang LPG diproduksinya kecil di dalam negeri di Kalimantan Timur, produksinya kecil karena sumber gasnya apa namanya kecil.

Impor gas kita yang terbesar dari mana, Pak?

Dari Middle East tetap.

Oh, di Middle East, tetep ya. Itu yang paling krusial ya selain minyak ya?

Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved