Idul Fitri 2026
5 Khutbah Idul Fitri 1447 H/ 2026 Lengkap dengan Beragam Tema yang Relevan
5 teks khutbah Idul Fitri 1447 H yang dapat dibacakan berjudul: “Keistimewaan Hari Raya Idul Fitri 1447 H” hingga “Memaknai Ulang Idul Fitri 1447 H”.
Maka, momen idul fitri seharusnya menjadi refleksi atau cerminan diri kita, apakah sudah dibersihkan atau disucikan melalui puasa di bulan Ramadan, atau justru tambah kotor, butek, lecek, makin parah penyakit hatinya, atau bahkan justru gelap atau mati hatinya.
Sebagaimana umum diketahui bahwa, seorang bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW dari sahabat Abu Hurairah ra.:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَا مِنْ مَوْلُودٍ إِلَّا يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، وَيُنَصِّرَانِهِ، وَيُمَجِّسَانِهِ، كَمَا تُنْتَجُ الْبَهِيمَةُ بَهِيمَةً جَمْعَاءَ ، هَلْ تُحِسُّونَ فِيهَا مِنْ جَدْعَاءَ ؟ ” ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ : وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ : { فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ }، الْآيَةَ
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra sesungguhnya ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘tidaklah bayi itu dilahirkan kecuali dalam keadaan suci. Maka orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, Majusi, sebagaimana hewan yang melahirkan hewan yang sehat, apakah engkau melihatnya terputus hidungnya?’. Kemudian Abu Hurairah berkata, ‘Bacalah terserah kalian ayat,”Fithratallahi…………………..” (HR. Muslim No. 2658).
Hadis tentang fitrah manusia yang dilahirkan merupakan manifestasi dari Surat ar-Ruum: 30 yang juga menarik untuk dikaji sedikit. Allah SWT berfirman:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama Islam; sesuai fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya” (QS: ar-Ruum: 30).
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Imam Muhammad ibn Ali ibn Muhammad asy-Syaukani, dalam tafsirnya, Fathu al-Qadir al-Jami’ baina Fannai ad-Dirayah wa ar-Riwayah min ’Ilmi at-Tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “fa aqim” adalah perintah untuk tidak geser sedikitpun kepada agama yang lain, selain agama yang di maksud dengan ad-Diin al-Hanif (agama yang lurus) yaitu Islam.
Asy-Syaukani menerjemahkan kata fitrah itu dalam asalnya berarti “khilqah” atau penciptaan. Namun yang dikehendaki ayat ini menurut asy-Syaukani adalah “millah” atau agama, Maka fithratallah bermakna agama Allah tentu saja Islam. Manusia yang di maksud dalam ayat di atas adalah manusia yang diberikan fitrah keislaman oleh Allah.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,
Allah menciptakan manusia dalam keadaan yang fitrah (watak dasar). Artinya watak dasar yang diciptakan Allah, diarahkan pada agama yang lurus, yaitu Ad-Diin al-Qayyim (agama yang tegak), agar tidak condong kepada yang lain. Ayat inilah yang kemudian ditafsiri oleh hadis di atas.
Di mana kesucian bayi yang dilahirkan, itu mengikuti pada bagaimana orang tua mereka mengarahkan, meluruskan kepada agama Islam sebagaimana fitrah penciptaan Allah. Saat janin, saat Allah meniupkan ruh kepadanya, Allah sudah memastikan bahwa janin yang sudah dimasuki ruh itu, mengaku sebagai hamba Allah, artinya sudah dalam keadaan Fitrah (suci) mengikuti agama Islam.
Sebagaimana ayat:
وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْۢ بَنِيْٓ اٰدَمَ مِنْ ظُهُوْرِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَاَشْهَدَهُمْ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْۚ اَلَسْتُ بِرَبِّكُمْۗ قَالُوْا بَلٰىۛ شَهِدْنَا ۛاَنْ تَقُوْلُوْا يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اِنَّا كُنَّا عَنْ هٰذَا غٰفِلِيْنَۙ
“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Hal ini) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lupa terhadap ini.” (QS: al-A’raf: 172).
Ruh sudah bersaksi (syahadat) bahwa Allah adalah Tuhannya.
Abu Abdillah Muhammad ibn Ahmad ibn Abi Bakr al-Qurthubi, dalam kitab tafsirnya, al-Jami’ li Ahkami al-Qur’an wa al-Mubayyinu lima Tadhammanahu min as-Sunnah wa Ayyi al-Furqan Juz 16 menyebut adanya perbedaan makna fithrah pada konteks ayat di atas. Pertama, mengartikannya dengan “Islam”. Kedua, fitrah disini dimaknai suci, dihubungkan dengan hadis Nabi SAW. yang membahas tentang nasib bayi yang meninggal, apakah dia muslim atau nonmuslim.
Hukumnya dikembalikan kepada asal mula penciptaan manusia oleh Allah SWT. yaitu menghamba kepada Allah. Bayi tidaklah dilahirkan melainkan dalam keadaan suci, didasarkan atas kesepakatan soal penciptaan Allah terhadap anak turun Adam as. Maka, bayi tidak bisa dikatakan ia mengikuti agama selain agama Allah. Ketiga, fitrah dimaknai sebagai al-bada’ah, permulaan kisah seorang manusia mulai dari dilahirkan hingga mati.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Maka sebenarnya di sini, fitrah atau fitri berhubungan dengan peran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Bayi lahir itu sudah muslim, orang tuanya lah yang menjadikannya beragama lain. Bayi lahir itu suci hatinya, pendidikan orang tua dalam keluarga, lingkungan masyarakatnya, sekolahnya, yang bisa membentuk apakah tetap menjadi suci, atau justru menjadi kotor. Apakah dia berakhlak mulia, ataukah berakhlak madzmumah (jelek).
Maka, dengan kebersihan bayi itu, orang tua dan lingkungan yang seharusnya mengoptimalkan potensi anak-anak kita, dengan pendidikan. Disekolahkan, dipondokkan, dikursuskan, dingajikan di TPQ dan surau-surau, langgar-langgar, masjid-masjid. Agar apa? Agar dia yang dilahirkan suci itu dapat diisi oleh ilmu-ilmu yang baik, positif, diisi dengan hal-hal positif, yang dapat bermanfaat buat dia di dunia dan akhirat. Maka sebenarnya kita harus heran, dengan orang tua, yang tidak ajek dengan memperjuangkan pendidikan anaknya, khususnya pendidikan agama.
Sekolah penting, skil untuk mencari rizki juga penting, tapi jangan lupa, semua itu tanpa ilmu agama, hanya berhenti di liang kubur jika tidak dibekali dengan akhlak, budi pekerti, sehingga dia tahu cara menggunakan ilmu dan kemampuannya untuk berbuat baik, bermanfaat bagi sesamanya, bernilai ibadah, sehingga dapat menjadi bekal di akhirat nanti.
Sebagaimana sabda Nabi SAW:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا ؛ سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah SAW. bersabda: ‘Barang siapa menitih jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. at-Tirmidzi no. 2646).
Maka, sebenarnya di bulan Ramadan itu, untuk menuju suci kembali di hari idul fitri, kita diajak untuk menempa diri dengan ibadah, memperbanyak sedekah, zakat, tadarus al-Quran, shalat-shalat sunnah, dan amal-amal baik lainnya, agar di hari fitri itu kita benar-benar kembali suci sebagai mana kita dilahirkan dulu.
Maka kalau kita memahami hakikat idul fitri ini, kita tidak akan menyia-nyiakan ramadan. Anak-anak kita kita ajak ke masjid untuk terawih, kita ajak baca al-Quran, kita ajak puasa, kita ajak ngaji agama, bukan hanya kita ajak memborong petasan, memborong baju lebaran, atau diajak makan-makanan enak untuk berbuka.
Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Jamaah shalat Idul Fitri hafidhakumullah,
Bahkan akan sangat sedih jika sudah berakhir Ramadan. Itulah kenapa 10 hari terakhir Ramadan, kita diminta meningkatkan ibadah, dan meramaiikan masjid dan langgar, agar kita benar-bernar punya bekal banyak untuk menghadapi hari suci idul fitri. Benar-benar menang melawan hawa nafsu diri kita. Ini loh, ramadan mau berakhir, cukupkah amal kita? Iniloh ramadan berakhir, siapkah kita benar-benar fitrah?
Bukan malah terawihnya makin malas, nongkrongnya pindah ke kafe-kafe dan rumah makan dengan acara buka bersama, ngobrol berjam-jam, atau pusanya malah tambah bolong-bolong, atau geser ke mall-mall dan toko baju, untuk menyiapkan kememawan idul fitri yang glamor, padahal sejatinya idul fitri adalah kembali suci jiwanya, bukan cuma tampak indah luarnya.
Bukan berarti, baju baru itu buruk, itu baik jika dilakukan sesuai kadarnya, dan tidak berlebih-lebihan. Bukan berarti buka bersama dengan kawan-kawan, saudara, sahabat itu buruk, itu juga baik, karena menjalin silaturahmi juga dianjurkan oleh agama Islam, tapi bukan berarti akhirnya menjadi arena untuk ghibah, rasan-rasan, ngobrol ngalor ngidul, indah jika bukber dilanjutkan denan tarawih berjamaah, khataman al-Quran, berbagi atau sedekah dengan fakir miskin, itu jadi lebih bermakna. Sehingga itu semua menjadi bekal kita benar-benar menjadi fitrah dan berhak merayakannya di hari idul fitri.
اللهُ أَكْبَرُ ٣× لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ
Semoga kita, apapun dan bagaimanapun tingkah kelakuan kita selama bulan Ramadan, diterima sebagai amal baik oleh Allah SWT, dan dicatat sebagai bekal menuju suci kembali di hari raya idul fitri sebagaimana kita waktu dilahirkan oleh ibu kita ke dunia ini, dan nanti juga wafat dalam keadaan khusnul khatimah.
جعلنا الله وإياكم من العائدين والفائزين والمقبولين كل عام وأنتم بخير. آمين
بسم الله الرحمن الرحيم، وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ.
بارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي القُرْأنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الاَيَاتِ وَ ذِكْرِالحَكِيْمِ وَ تَقَبَّلَ اللهُ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ
وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وارْحَم وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ
Khutbah Kedua
اللهُ اَكْبَرْ ٣× اللهُ اَكْبَرْ ٤ ×. اللهُ اَكْبَرْ كبيرا وَاْلحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَ أَصْيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَللهِ اْلحَمْدُ
الحمد لله حمدا كثيرا كما امر. واشهدان لااله الاّ الله وحده لاشريك له ارغاما لمن جحد به وكفر. واشهد انّ سيّدنا محمّدا عبده ورسوله سيّد البشر. اللّهمّ صلّ وسلم على سيّدنا محمّد وعلى اله واصحابه المصابيح الغرر. ما اتّصلت عين بنظر واذن بخبر. من يومنا هذا الى يوم المحشر. امّا بعد فياايّها النّاس اتّقوا الله فيما امر. وانتهوا عمّا نهى عنه وحذّر. واعلموا انّ الله تبارك وتعالى امركم بأمر بدأ فيه بنفسه وثنّى بملا ئكته المسبّحة بقدسه. فقال تعالى ولم يزل قائلأ عليما. انّ الله وملائكته يصلّون على النبى. يا ايّها الذين امنوا صلّوا عليه وسلّموا تسليما. اللّهمّ صلّ وسلّم على سيّدنان محمّد جدّ الحسن و الحسين وعلى اله واصحابه خير اهل الدّارين خصوصا على اوّل الرّفيق. سيّدنا ابى بكرن الصّديق. وعلى الصّادق المصدوق. سيّدنا ابى حفص عمر الفاروق. وعلى زوج البنتين سيّدنا عثمان ذى النّورين. وعلى ابن عمّه الغالب سيّدنا علىّ ابن ابى طالب. وعلى الستّة الباقين رضى الله عنهم اجمعين. وعلى الشّريفين سيّدى شباب اهل الدّارين. ابى محمّدن الحسن وابى عبد الله الحسين. وعلى عمّيه الفاضلين على النّاس. سيّدنا حمزة وسيّدنا العبّاس. وعلى بقيّة الصّحابة اجمعين. وعلى التّابعين وتابع التّابعين لهم باحسان الى يوم الدين. وعلينا معهم برحمتك ياارحم الرّحيمن.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْن وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ .وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْملِ كَلِمَاتِكَ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ . اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنا وَأَصْلِحْ لنا دُنْيَانا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لنا آخِرَتنا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لنا فِي كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لنا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُلُوبِنَا وَأَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ. اللّهمَّ حَبِّبْ إلَيْنَا الإيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ اللهمَّ ارْزُقْنَا الصَّبْرَ عَلى الحَقِّ وَالثَّبَاتَ على الأَمْرِ والعَاقِبَةَ الحَسَنَةَ والعَافِيَةَ مِنْ كُلِّ بَلِيَّةٍ والسَّلاَمَةَ مِنْ كلِّ إِثْمٍ والغَنِيْمَةَ مِنْ كل بِرٍّ والفَوْزَ بِالجَنَّةِ والنَّجَاةَ مِنَ النَّارِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ رَبَّنا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الاخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار عِبَادَاللهِ ! اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ
3. Khutbah Idul Fitri 1447 H: Musibah Akibat Perbuatan Manusia Merusak Alam
dari Prof. Dr. Dadang Kahmad, MSi, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِى أَنْزَلَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَنُوْرًا وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَّ إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى,! نَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ. اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا. لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.
Kaum Muslimin rahimakumullah
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala, Tuhan dan pencipta semesta alam, yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, dan kesehatan, sehingga pada pagi yang mulia ini kita dapat menunaikan salat Idulfitri 1447 Hijriah.
Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu alaihi wasallam, beserta keluarganya, sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin yang dimuliakan Allah
Idulfitri yang dirayakan hari ini adalah momentum di mana kita kembali kepada fitrah: baik fitrah iman, fitrah akhlak, dan fitrah sebagai khalifah di muka bumi.
Kita bergembira dan bahagia hari ini karena sebulan penuh kita telah dilatih menahan diri, mengendalikan hawa nafsu, dan membersihkan jiwa sehingga berdampak kepada peningkatan ketakwaan kita terhadap Allah SWT.
Harapannya, kita mampu mengimplementasikan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari hari kita, termasuk dalam sikap dan perilaku kita terhadap alam semesta tempat dimana kita hidup dan menikmati keindahannya.
Pada akhir-akhir ini, kita menyaksikan keprihatinan yang sangat dalam terhadap kenyataan pahit yang menimpa rakyat dan Negara kita, maupun di mancanegara.
Tragedi banjir terjadi di mana-mana, kekeringan berkepanjangan, tanah longsor, krisis air bersih, udara tercemar, perubahan iklim, dan bencana demi bencana yang silih berganti.
Bencana tersebut telah menimbulkan korban jiwa dan korban harta yang tiada terkira. Semua ini bukan semata-mata takdir tanpa sebab tetapi karena terjadi kerusakan alam yang diakibatkan oleh tangan manusia, di mana seharusnya manusia itu sebagai pemelihara alam tetapi kenyataannya menjadi perusak alam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dengan sangat jelas dalam Al-Qur’an:
ظَهَرَ ٱلۡفَسَادُ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ بِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِي ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعۡضَ ٱلَّذِي عَمِلُواْ لَعَلَّهُمۡ يَرۡجِعُونَ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa banyak musibah yang menimpa manusia adalah akibat langsung dari perilaku manusia sendiri: yaitu disebabkan oleh keserakahan, eksploitasi berlebihan, perusakan hutan, pencemaran sungai dan laut, serta gaya hidup yang tidak ramah lingkungan.
Yang secara langsung atau tidak langsung menjadi penyebab terjadinya bencana alam tersebut. Betapa sedihnya kita melihat korban tragedi tanah longsor dan banjir di Sumatera, dan di pulau Jawa yang terjadi di akhir bulan Desember 2025 dan pada awal tahun 2026 yang lalu yang memakan korban sampai ratusan bahkan mendekati seribu orang.
Rumah dan sawah tertimbun tanah serta harta kekayaan rusak yang melahirkan kesusahan tiada terkira yang dialami para korban.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Kaum Muslimin yang berbahagia
Allah mengajarkan kepada kita bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual belaka, tetapi juga agama peradaban dan kelestarian. Banyak ayat dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi yang menganjurkan kita memelihara lingkungan.
Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Bahkan beliau bersabda:
إن قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
“Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya maka tanamlah.” (HR. Bukhari & Ahmad)
Hadis ini mengajarkan optimisme dan tanggung jawab ekologis, bahkan di saat akhir kehidupan sekalipun. Tidak ada kata untuk membiarkan alam rusak dan membiarkan tragedi musibah terjadi sehingga Rasulullah menghendaki kelestarian dan kelanjutan kehidupan itu terjaga.
Islam mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Menanam pohon adalah cara nyata untuk merawat ciptaan Allah, mengurangi dampak pemanasan global, dan menyediakan oksigen bagi makhluk yang hidup di Bumi.
Namun hari ini, kita menyaksikan manusia sering bertindak sebaliknya. Hutan ditebang tanpa kendali, gunung dikeruk tanpa etika, sungai dijadikan tempat sampah, laut diracuni limbah, semua demi keuntungan sesaat, tanpa memikirkan generasi mendatang.
Mereka tidak menyadari bahwa kelakuan buruk mereka mengakibatkan kerugian bagi mereka sendiri, karena kerusakan alam akan dirasakan juga oleh mereka sendiri, ketika udara jadi panas, kotor dan kekeringan akan mempengaruhi tingkat kesehatan dan mempercepat kematian mereka.
Allah telah mengingatkan dalam Al-qur’an :
وَلَا تُفۡسِدُواْ فِي ٱلۡأَرۡضِ بَعۡدَ إِصۡلَٰحِهَا وَٱدۡعُوهُ خَوۡفٗا وَطَمَعًاۚ إِنَّ رَحۡمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٞ مِّنَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Surah Al-A’raf ayat 56 di atas berisi larangan keras berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya (mengaturnya dengan seimbang). Ayat ini memerintahkan manusia untuk berdoa dengan rasa takut (tidak diterima) dan harapan (dikabulkan), serta menegaskan bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan (muhsin).
Merusak alam bukan sekadar kesalahan teknis dan dosa ringan, tetapi dosa moral dan spiritual. Karena alam adalah amanah dari Allah yang harus dipelihara dan dijaga agar kelestariannya bisa berlangsung abadi dan dinikmati oleh semua makhluk.
Merusak alam bukan hanya merusak tanah dan tumbuhan tapi juga merusak flora dan fauna yang tinggal di sekitarnya. Dengan rusaknya lingkungan maka juga sama dengan membunuh dan menghancurkan habitat di dalamnya.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin yang berbahagia
Idulfitri bukan hanya hari saling memaafkan antar manusia, tetapi juga momentum untuk melakukan penyadaran dan bertaubat secara kolektif, termasuk di dalamnya tobat ekologis, bertobat atas dosa-dosa kita terhadap alam. Berhenti merusaknya apapun alasannya serta berusaha untuk memperbaikinya.
Sadari bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari ibadah. Menghemat air, mengurangi sampah, menanam pohon, menjaga kebersihan, semuanya bernilai pahala jika diniatkan karena Allah.
Menanam pohon dianggap sebagai bentuk sedekah yang pahalanya terus mengalir selama pohon tersebut memberikan manfaat.
Rasulullah saw bersabda bahwa apa pun yang dimakan dari hasil tanaman tersebut, baik oleh manusia, burung, maupun hewan, akan dicatat sebagai sedekah bagi penanamnya. Bahkan, jika ada buah yang dicuri sekalipun, penanamnya tetap mendapatkan pahala sedekah.
Hentikan pemborosan, kurangi konsumsi berlebihan, pilih pola hidup sederhana sebagaimana diajarkan Rasulullah. Allah berfirman:
اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا
“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (QS al-Isra’: 27)
Dalam ayat tersebut Allah mencela perbuatan membelanjakan harta secara boros, dengan menyatakan, “Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara setan,” mereka berbuat boros dalam membelanjakan harta karena dorongan setan, oleh karena itu perilaku boros termasuk sifat setan, dan setan itu adalah sangat ingkar kepada nikmat dan anugerah Tuhannya.
Sebagai umat Islam, kita tidak boleh diam melihat kerusakan. Kita harus menjadi pelopor kebaikan: di keluarga, di masjid, di sekolah, di masyarakat, dan di negeri ini.
Karenanya Islam mengajarkan manusia untuk menjadi khalifah (pemimpin/pengelola) di bumi yang bertugas menjaga keseimbangan alam.
Menanam pohon adalah cara nyata untuk merawat ciptaan Allah, mengurangi dampak pemanasan global, dan menyediakan oksigen bagi makhluk lain.
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ
Hadirin yang dirahmati Allah
Musibah sejatinya adalah peringatan dan kasih sayang Allah, agar manusia kembali kepada jalan yang benar, kembali kepada keseimbangan, kembali kepada fitrah.
Mari kita jadikan Idulfitri 1447 H ini sebagai titik balik: sikap kita terhadap lingkungan dan kelestarian alam: kita beralih dari merusak menjadi menjaga, dari serakah menjadi amanah, dari lalai menjadi peduli.
Kepedulian kita akan menjadi contoh terhadap generasi yang akan datang dan dunia ini jadi aman untuk ditinggali.
Semoga Allah menerima puasa dan amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, serta menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang menjaga bumi sebagai rahmat bagi seluruh alam. Semoga kita tetap teguh dalam iman dan istiqamah di jalan-Nya.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عُتَقَاءِ شَهْرِ رَمَضَانَ، وَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَتَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا. اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْعِيدَ عِيدًا مُبَارَكًا لَنَا وَلِأُمَّةِ الْإِسْلَامِ أَجْمَعِينَ
اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. اَللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَّا بِالْحَقِّ وَاَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يِوْمِ الدِّيْنِ.
4. Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dakwah untuk Membangun Generasi Emas Muslim
dari Dr. Aji Damanuri, MEI, Dekan FEBI UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo, Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PDM Tulungagung.
Assalamu’alaikum, wr wb.
اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
اَللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ، لِيُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَيُرَبِّيَ بِهِ أُمَّةً تَحْمِلُ رِسَالَةَ الْخَيْرِ لِلْعَالَمِينَ.
نَحْمَدُهُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ اسْتِغْفَارَ الْمُقِرِّينَ بِتَقْصِيرِهِمْ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُرَبِّي الْأَعْظَمُ لِلْإِنْسَانِيَّةِ، وَالْقَائِدُ الَّذِي بَنَى جِيلًا غَيَّرَ وَجْهَ التَّارِيخِ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ الزَّادُ فِي السَّفَرِ، وَالنُّورُ فِي الطَّرِيقِ، وَالْبَصِيرَةُ فِي صُنْعِ الْمُسْتَقْبَلِ.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Pagi ini kita berdiri di bawah langit yang sama yang dahulu menyaksikan takbir para sahabat Nabi. Takbir yang bergema di Madinah empat belas abad silam kini kembali menggema di bumi kita. Ia adalah gema kemenangan jiwa yang baru saja ditempa oleh madrasah Ramadhan, bulan yang mengajarkan kesabaran, kedisiplinan, dan ketulusan iman.
Namun Idulfitri bukan hanya momentum spiritual yang bersifat personal. Ia adalah momen refleksi peradaban. Ia adalah saat ketika umat Islam harus menoleh ke masa depan dan bertanya dengan jujur: ke mana arah perjalanan umat ini?
Apakah kita sedang bergerak menuju peradaban yang lebih maju, lebih bermartabat, dan lebih berilmu? Ataukah kita justru berjalan tanpa peta dan kompas, tersesat di tengah arus zaman yang berubah begitu cepat?
Dunia hari ini berubah dengan kecepatan yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia. Revolusi teknologi, kecerdasan buatan, ekonomi digital, dan transformasi sosial telah menciptakan tantangan baru bagi generasi muda.
Jika dakwah Islam tidak mampu membaca perubahan ini, maka ia akan kehilangan relevansinya. Karena itu kita membutuhkan peta baru dan kompas baru dalam dakwah, agar kita mampu membangun generasi emas Muslim yang tangguh, generasi yang religius dalam iman, cerdas dalam ilmu, dan beradab dalam pergaulan.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Allah berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Ayat ini menegaskan hubungan erat antara iman dan ilmu. Dalam perspektif Al-Qur’an, kemuliaan manusia tidak hanya ditentukan oleh ketakwaan spiritual, tetapi juga oleh kualitas intelektualnya. Allah mengangkat derajat orang yang beriman sekaligus berilmu.
Ini berarti bahwa dakwah Islam tidak boleh hanya berfokus pada ritual keagamaan, tetapi juga harus membangun generasi emas yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan pemikiran.
Dalam konteks dunia modern, ayat ini menjadi fondasi bagi pembangunan peradaban Islam yang berbasis pada integrasi antara iman dan ilmu.
Allah juga berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini adalah prinsip perubahan sosial dalam Islam. Kemajuan suatu umat tidak terjadi secara kebetulan, melainkan melalui proses transformasi internal. Jika umat Islam ingin membangun generasi emas di masa depan, maka perubahan harus dimulai dari pembaruan cara berpikir, cara mendidik, dan cara berdakwah.
Dakwah tidak boleh terjebak pada nostalgia masa lalu, tetapi harus mampu menjawab tantangan zaman. Generasi muda membutuhkan dakwah yang inspiratif, rasional, dan relevan dengan realitas kehidupan mereka.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Allah juga berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ
“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab: 21)
Ayat ini mengingatkan bahwa model pendidikan generasi terbaik dalam sejarah adalah metode yang dilakukan oleh Nabi Muhammad.
Nabi tidak hanya menyampaikan ajaran agama secara teoritis, tetapi juga membangun karakter para sahabat melalui keteladanan, dialog, dan pembinaan yang berkelanjutan.
Generasi sahabat adalah contoh nyata generasi emas: mereka religius, berilmu, berani, dan memiliki integritas moral yang tinggi.
Dalam konteks dakwah masa kini, ayat ini menegaskan bahwa pembangunan generasi unggul harus dimulai dari pembentukan karakter yang kuat, bukan hanya transfer pengetahuan semata.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Rasulullah saw bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menegaskan bahwa inti misi kenabian adalah pembentukan akhlak. Peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh keagungan moral.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan teknologi, tetapi karena krisis moral.
Karena itu dakwah Islam harus menempatkan pendidikan akhlak sebagai fondasi utama dalam membangun generasi emas untuk masa depan yang lebih baik. Ilmu adalah kunci pembuka dunia, maka mencari ilmu hukumnya wajib.
Rasulullah saw juga bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini memberikan mandat yang sangat kuat bagi umat Islam untuk membangun tradisi keilmuan. Ilmu dalam Islam tidak terbatas pada ilmu agama semata, tetapi mencakup seluruh pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.
Karena itu, membangun generasi emas Muslim harus menjadi generasi yang literat, kritis, dan kreatif. Dakwah masa depan harus mampu mendorong lahirnya ilmuwan, pemikir, dan inovator yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Dakwah hari ini menghadapi tantangan besar. Banyak generasi muda yang hidup di dunia digital, sementara dakwah sering masih berjalan dengan pola lama. Jika kita tidak menata ulang peta dakwah, maka jarak antara generasi muda dan pesan keagamaan akan semakin lebar.
Dakwah masa depan harus memiliki tiga orientasi besar. Pertama, membangun religiusitas yang mendalam. Generasi muda harus memiliki iman yang kokoh, bukan sekadar identitas formal.
Kedua, membangun kecerdasan intelektual. Generasi Muslim harus mampu bersaing dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ketiga, membangun keadaban sosial. Ilmu dan iman harus melahirkan karakter yang santun, jujur, dan bertanggung jawab.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Generasi emas tidak lahir secara kebetulan. Ia lahir dari proses pendidikan yang panjang.
Ia lahir dari keluarga yang mencintai ilmu.
Ia lahir dari masyarakat yang menghargai kejujuran.
Ia lahir dari dakwah yang mencerahkan, bukan yang memecah belah.
Jika kita mampu menata ulang peta dakwah hari ini, maka kita sedang menanam benih masa depan yang akan dipanen oleh generasi berikutnya.
Di pagi Idulfitri yang penuh cahaya ini, marilah kita menatap masa depan dengan harapan. Semoga dari rumah-rumah kita lahir generasi yang lebih kuat imannya, lebih luas ilmunya, dan lebih mulia akhlaknya.
Jika selama ini ada kata-kata kami yang kurang berkenan, ada sikap yang melukai hati, pada hari yang suci ini kami memohon maaf dengan setulus hati.
Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, walillāhil-ḥamd. Saudaraku, kaum Muslimin rahimakumullah.
Marilah kita tutup khotbah Idulfitri di pagi yang penuh cahaya ini, seraya menundukkan hati dan merendahkan pikiran kita di hadapan Ilahi Rabbi. Pagi ini bukan sekadar pagi kemenangan, tetapi pagi kesadaran: bahwa perjalanan dakwah umat ini memerlukan peta yang jernih dan kompas yang lurus.
Kita hidup di zaman yang berubah cepat, di mana arus informasi sering lebih kencang daripada arus kebijaksanaan. Karena itu, marilah kita menata ulang peta dan kompas dakwah kita—agar arah perjalanan umat tidak tersesat oleh gemerlap dunia, dan langkah generasi kita tetap tegak di jalan cahaya.
Dari rumah-rumah yang sederhana, dari masjid-masjid yang kita makmurkan, dari sekolah-sekolah dan majelis ilmu yang kita hidupkan, semoga lahir generasi emas Muslim: generasi yang religius imannya, cerdas pikirannya, dan luhur adabnya—generasi yang tidak hanya pandai membaca zaman, tetapi juga mampu memimpin zaman.
Wahai kaum muslimin yang dimuliakan Allah, Idul Fitri mengajarkan kita bahwa kemenangan sejati bukan sekadar kembali dari lapar dan dahaga, tetapi kembali pada fitrah kemanusiaan yang bersih: hati yang jernih, pikiran yang tercerahkan, dan jiwa yang siap berkhidmat bagi umat dan kemanusiaan.
Semoga takbir yang kita lantunkan hari ini tidak hanya menggema di langit-langit masjid, tetapi juga menggema dalam tekad kita untuk menyalakan obor peradaban—menjadi orang tua yang menumbuhkan keteladanan, menjadi guru yang menanamkan kebijaksanaan, menjadi generasi yang merawat iman sekaligus memuliakan ilmu.
Di hari yang suci ini, marilah kita saling membuka pintu maaf, membersihkan debu-debu kesalahan, dan menautkan kembali tali persaudaraan.
Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang menang dan merdeka di hari yang fitri ini—merdeka dari kesombongan, merdeka dari kebencian, dan merdeka dari segala belenggu yang menjauhkan kita dari cahaya kebenaran.
Taqabbalallāhu minnā wa minkum, shiyāmanā wa qiyāmanā. Selamat Hari Raya Idul Fitri, minal ‘āidīn wal fāizīn. Semoga langkah kita setelah Ramadhan adalah langkah yang lebih terang, lebih bijak, dan lebih bermakna bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وَسَلَّمْتَ وَبَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ، وَاهْدِهِمْ سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّهِمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفِتَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا نُورًا، وَفِي أَبْصَارِنَا نُورًا، وَفِي أَسْمَاعِنَا نُورًا، وَعَنْ أَيْمَانِنَا نُورًا، وَعَنْ شَمَائِلِنَا نُورًا
اَللّٰهُمَّ اجْعَلْ فَوْقَنَا نُورًا، وَتَحْتَنَا نُورًا، وَأَمَامَنَا نُورًا، وَخَلْفَنَا نُورًا، وَاجْعَلْ لَنَا نُورًا عَظِيمًا
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا أَزْوَاجَنَا وَذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
اَللّٰهُمَّ هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ، وَاجْعَلْهُمْ ذُرِّيَّةً صَالِحَةً طَيِّبَةً مُبَارَكَةً
اَللّٰهُمَّ زِدْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَارْزُقْنَا فَهْمًا فِي الدِّينِ، وَأَصْلِحْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا
اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَعْمَارِنَا وَأَرْزَاقِنَا وَأَوْلَادِنَا، وَاجْعَلْهَا عَوْنًا لَنَا عَلَى طَاعَتِكَ
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحِ الْعَالَمَ كُلَّهُ، وَانْشُرِ السَّلَامَ وَالرَّحْمَةَ بَيْنَ الْعِبَادِ
اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا، وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا، وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ أُسَرَنَا وَاجْعَلْ بُيُوتَنَا بُيُوتًا صَالِحَةً مُبَارَكَةً
اَللّٰهُمَّ ارْزُقْنَا ذُرِّيَّةً صَالِحَةً تُقِيمُ دِينَكَ وَتَحْمِلُ رِسَالَتَكَ
اَللّٰهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا ذُرِّيَّاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ جِيلًا صَالِحًا عَالِمًا حَكِيمًا، يَحْمِلُ رِسَالَةَ الْإِسْلَامِ بِالْعِلْمِ وَالْأَخْلَاقِ
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي أَبْنَائِنَا وَبَنَاتِنَا، وَاجْعَلْهُمْ قُرَّةَ أَعْيُنٍ لَنَا وَلِلْأُمَّةِ
Ya Allah,
Engkau yang menggenggam masa depan dalam kebijaksanaan-Mu.
Jadikanlah anak-anak kami sebagai generasi yang kuat imannya, tajam pikirannya, dan luhur akhlaknya.
Tumbuhkanlah dari rahim umat ini generasi yang membawa cahaya ilmu, menebarkan keadaban, dan mengangkat martabat kemanusiaan.
Terimalah puasa kami, ampuni dosa kami, dan jadikan Idul Fitri ini awal dari kebangkitan generasi emas umat Islam.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ
وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ
وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
5. Khutbah Idul Fitri 1447 H: Menumbuhkan Nilai-nilai Ketakwaan di Tengah Peradaban
dari Taufiqur Rohman, Ketua Majelis Pustaka Informasi dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Banyuwangi
Hari Raya Idul fitri menjadi momentum bagi umat Islam untuk meneguhkan kembali nilai-nilai ketakwaan setelah sebulan menjalani ibadah Ramadan.
Melalui khotbah Idulfitri 1447 Hijriah ini, umat diajak terus menumbuhkan ketakwaan dalam kehidupan sehari-hari di tengah dinamika peradaban.
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلاَّ اللّٰه وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰه، اَللّٰهُـمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ اللّٰه، أُوْصِيْنِيِ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰه، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى يَا اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Puji Syukur dan Momentum Idulfitri
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamdu
Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT. Dengan rahmat-Nya kita dapat berkumpul di pagi ini untuk melaksanakan salat Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah yang bertepatan dengan tanggal 20 Maret 2026.
Makna Takbir dan Pengagungan kepada Allah
Hadirin rahimakumullah
Sejak kemarin setelah Maghrib kita melantunkan kalimat takbir, tahlil, dan tahmid. Hal ini dalam rangka untuk mengagungkan asma Allah, mengokohkan jiwa tauhid, dan mensyukuri atas limpahan nikmat-Nya.
Tujuan Puasa: Menjadi Pribadi Bertakwa
Selama satu bulan penuh kita telah menunaikan ibadah puasa dengan tujuan menjadi pribadi yang bertakwa. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya:”Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 183)
Kemuliaan Orang yang Bertakwa
Manusia yang bertakwa adalah manusia paling mulia di sisi Allah. Alangkah indahnya jika kita ini benar-benar termasuk di antara Muttaqin (orang bertakwa) tersebut. Seperti dinyatakan Allah dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”
Tantangan Menjadi Muttaqin di Tengah Peradaban
Namun, sekali lagi tidaklah serta-merta seseorang dapat menjadikan dirinya sebagai orang yang bertakwa. Zaman terus berputar dengan segala tantangannya. Perlu upaya kesungguhan untuk meraih predikat takwa di tengah peradaban semesta.
Selain puasa, rangkaian ibadah di bulan Ramadan, sebenarnya dapat kita jadikan rujukan untuk meraih kepribadian mulia tersebut. Seperti tadarus Al-Qur’an, qiyamu Ramadan (salat Tarawih), itikaf, dan zakat fitrah.
Ketakwaan Harus Dijaga Setelah Ramadan
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamdu
Maka dari itu perlu proses yang berkelanjutan untuk menjadi pribadi Muttaqin. Misi ini tidak boleh berhenti, apalagi menyelisihi dari visi ketakwaan. Jika upaya itu berhenti, maka manusia akan terdegradasi ke dalam lembah kehinaan.
Oleh karena itu, upaya tersebut harus ditumbuh kembangkan di bulan selain Ramadan. Dan hendaknya dilakukan dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Sebagaimana hadis nabi Muhammad Saw ketika menjelaskan tentang puasa.
.مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Siapa yang berpuasa di bulan Ramadan dengan dasar iman dan keikhlasan (mengharap pahala), maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hikmah Ibadah Ramadan dalam Kehidupan
Allahu Akbar Allahu Akbar walillahilhamdu
Hadirin rahimakumullah
Ibadah puasa membentuk orang yang bertakwa. Orang yang mampu mengelola kepribadiannya. Ia mampu memadukan antara ucapan dan tindakannya dengan baik dan benar.
Melalui tadarus Al-Qur’an, menjadikan pribadi yang selalu menggunakan Al-Qur’an sebagai kompas dalam menjalani kehidupannya. Dengan Qiyamu Ramadan atau salat lail dapat mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan hikmah zakat mengajarkan manusia pada kepedulian sosial.
Menumbuhkan Nilai Ketakwaan Setelah Idulfitri
Alangkah indahnya di hari fitri ini, jika kita terus berusaha menumbuhkan nilai-nilai ketakwaan. Simpulannya adalah, orang yang bertakwa, ia mampu memelihara dirinya untuk menjaga keselarasan antara hubungan vertikal dan horisontal, serta menghiasinya dengan nilai-nilai ketakwaan.
Doa Penutup
Hadirin Rahimakumullah
Mari kita berdoa kepada Allah agar di bulan Syawal ini dan bulan-bulan berikutnya kita mampu menumbuhkan nilai-nilai ketakwaan di tengah peradaban, sehingga menjadi orang yang paling mulia di sisi Allah.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعلَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَآلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
الحمد لله رب العالمين
(Tribunnews.com/Muhammad Alvian Fakka)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/jemaah-muhammadiyah-gelar-salat-idul-fitri-1444-h_20230421_181441.jpg)