Senin, 1 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani Gugur, Pengamat: Strategi Decapitation AS Tak Mempan di Iran

Menurut analis geopolitik Dina Sulaeman, kematian Ayatollah Ali Khamenei dan Ali Larijani tidak dipandang sekadar 'kehilangan pemimpin' oleh Iran.

Tayang: | Diperbarui:

"Selama ini, Amerika dan Israel sering memakai strategi yang sama: membunuh pemimpin lawan dengan harapan sistemnya akan runtuh atau kacau."

"Logikanya sederhana: kalau pemimpinnya hilang, organisasinya akan melemah. Strategi ini disebut 'decapitation' (pemenggalan kepala)."

"Tapi terbukti, strategi decapitation berulang kali tidak berhasil di Iran."

Dina yang juga Founder sekaligus Direktur Indonesia Center for Middle East Studies (ICMES) menjelaskan alasan mengapa strategi 'decapitation' ini gagal di Iran.

Menurutnya, ada cara berpikir yang berbeda bagi orang-orang Iran.

Dina mengungkap, kematian pemimpin (terutama yang dianggap syahid) justru menjadi pembangkit semangat perjuangan bagi masyarakat Iran.

"Bagi Iran, kematian seorang pemimpin, terutama jika dianggap sebagai syahid, justru bisa menjadi sumber kekuatan baru," terang Dina.

"Kematian itu menginspirasi masyarakat, memperkuat solidaritas, dan membuat perjuangan terasa lebih bermakna."

Dina menyebut, cara berpikir ini bahkan turut dipegang oleh para pemimpin Iran, di mana kematian syahid juga dianggap sebagai kemenangan, di samping kemenangan sejati atas peperangan itu sendiri.

"Mereka [para pemimpin Iran] tidak melihat kematian sebagai kekalahan. Dalam pandangan mereka: Kalau menang, maka itu kemenangan -Kalau gugur (syahid), maka itu juga kemenangan," kata Dina.

Lantas, Dina menyoroti salah satu cuitan terakhir di akun X milik Ali Larijani, @alilarijani_ir, sebelum perwira militer Iran bernama lengkap Ali Ardashir Larijani itu gugur.

Saat menanggapi kabar bahwa AS menawarkan uang kepada siapa pun yang dapat mengungkap lokasi keberadaan pemimpin Iran, Ali Larijani diketahui mencuitkan kutipan dari cucu Nabi Muhammad SAW, yakni Imam Husain.

Cuitan tersebut berbunyi:

Imam Husain berkata, 'Aku memandang kematian sebagai kebahagiaan, dan hidup bersama para penindas sebagai penderitaan.'

"Karena itu, ketika seorang tokoh dibunuh, ia sering berubah menjadi simbol perjuangan, seperti dalam kisah Imam Husain di Karbala," jelas Dina.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved