Soligi Zero Stunting, Cara Harita Nickel Berperan Aktif Turunkan Prevalensi Stunting di Maluku Utara
Stunting masih menjadi salah satu momok bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan.
TRIBUNNEWS.COM - Stunting masih menjadi salah satu momok bagi kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah terpencil dan kepulauan. Kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis ini tidak hanya secara fisik, tapi juga mengancam perkembangan kognitif serta produktivitas generasi bangsa di masa mendatang.
Berdasarkan data Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), sejatinya terdapat beberapa wilayah kepulauan mulai menunjukkan tren positif. Salah satunya Provinsi Maluku Utara, yang mengalami penurunan dari 31,4 persen pada tahun 2018 menjadi 23,2 persen pada tahun 2024.
Secara angka, terdapat penurunan sebesar 8,2 poin persentase dalam enam tahun, atau rata-rata 1,4 poin per tahun. Yang mana membuat Maluku Utara menjadi salah satu daerah yang mengalami penurunan dari kategori tinggi ke medium.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Laju penurunan di Maluku Utara dinilai masih stagnan dan belum cukup progresif. Saat ini, diperkirakan masih ada sekitar 27.249 balita di Maluku Utara yang mengalami stunting.
Kondisi ini pun mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara. Di bawah kepemimpinan Sherly Tjoanda, pemerintah menekankan pentingnya kehadiran negara dan mitra strategis di tengah masyarakat.
“Penanganan stunting harus menyentuh masyarakat secara langsung. Intervensi harus dimulai sejak masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan anak agar kita benar-benar menghasilkan generasi yang sehat,” ujar Sherly dikutip dari situs Pemprov Maluku Utara.

Inisiatif ‘Soligi Zero Stunting’ di Pulau Obi Maluku Utara
Sejalan dengan agenda pemerintah, Harita Nickel mengambil peran aktif melalui program Soligi Zero Stunting. Program ini merupakan bagian dari inisiatif tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) di bidang kesehatan yang menyasar langsung jantung permasalahan di wilayah operasionalnya, yakni Pulau Obi.
Dalam pelaksanaannya, Harita Nickel tidak menutup mata terhadap realita di lapangan. Terdapat sejumlah tantangan fundamental di Pulau Obi, mulai dari keterbatasan kapasitas kader posyandu dalam pengukuran tumbuh kembang, minimnya prasarana kesehatan seperti gedung Pustu/Polindes, hingga sulitnya akses terhadap air bersih yang layak.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Harita Nickel menjalankan sejumlah langkah strategis. Di antaranya penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan bagi 57 bidan desa, kader posyandu, dan anggota PKK di Obi Selatan terkait penggunaan alat antropometri serta pengisian Kartu Menuju Sehat (KMS).
Selain itu, perusahaan juga membangun gedung Puskesmas Pembantu (Pustu) di Desa Soligi bekerja sama dengan pemerintah desa dan Dinas Kesehatan Kabupaten Halmahera Selatan. Pembangunan ini dilakukan di atas lahan hibah warga untuk memperkuat akses layanan kesehatan dasar bagi masyarakat.
Upaya lain dilakukan melalui penyediaan akses air bersih bekerja sama dengan TNI AD dan BKKBN, dengan mengidentifikasi sumber air tanah dan membangun sumur bagi warga guna mendukung sanitasi yang lebih sehat.
Program ini juga mencakup pelatihan pembuatan makanan tambahan berbahan lokal bagi kader posyandu dan masyarakat, pemantauan berkala terhadap status gizi balita, serta kunjungan rumah bagi anak dengan gizi kurang dan stunting.
Baca juga: Beasiswa Harita Gemilang: Mendukung SDM Unggul di Wilayah Kepulauan
Sebagai bagian dari intervensi gizi, perusahaan juga menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi balita dengan gizi kurang dan stunting, serta memberikan dukungan susu bagi ibu hamil. Selain itu, ibu hamil juga mendapatkan layanan vaksinasi Tetanus Toksoid untuk mendukung kesehatan ibu dan anak.

Dampak Nyata: Dari 25 Anak Stunting Menjadi hanya 4 Kasus
Program yang berjalan sejak 2022 ini memadukan intervensi gizi, edukasi, dan pemantauan berkala. Hasilnya mulai terlihat nyata pada akhir 2025 lalu. Dari penurunan jumlah anak dengan stunting dan kekurangan gizi, dengan total 25 anak kini tersisa hanya 4 anak saja.
“Keberhasilan ini adalah hasil kerja bersama. Kami percaya, kesehatan anak adalah fondasi penting bagi masa depan yang lebih kuat dan sejahtera,” ungkap Broto Suwarso selaku Community Development Manager Harita Nickel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/stnuting-soligi-harita.jpg)