Iran Vs Amerika Memanas
Tak Masuk Narasi Global, Indonesia Terancam Kehilangan Pengaruh Internasional
Emaridial pun mengingatkan bahwa Indonesia kini berada di persimpangan penting dalam percaturan global.
Ringkasan Berita:
- Dr. Emaridial Ulza, menilai Indonesia menghadapi ancaman hilangnya posisi dalam perhatian dunia internasional.
- Dalam laporannya, Emaridial memperkenalkan konsep strategic invisibility trap, yakni kondisi ketika suatu negara tidak lagi hadir dalam persepsi global.
- Emaridial pun mengingatkan bahwa Indonesia kini berada di persimpangan penting dalam percaturan global.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial UHAMKA sekaligus Founding Director Global Trust Intelligence (GTI), Dr. Emaridial Ulza, menilai Indonesia menghadapi ancaman hilangnya posisi dalam perhatian dunia internasional.
Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan global akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.
Baca juga: FPN Dorong Prabowo Gelar KTT Darurat, Ingatkan Peran Indonesia di Konferensi Asia-Afrika
Dalam laporannya, Emaridial memperkenalkan konsep strategic invisibility trap, yakni kondisi ketika suatu negara tidak lagi hadir dalam persepsi global.
"Ini bukan soal Indonesia dipandang buruk, tetapi justru tidak hadir dalam persepsi global sama sekali. Dalam dunia yang bergerak cepat, negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan," kata Emaridial dalam keterangannya, Senin (6/4/2026).
Baca juga: Ekonom Amerika Peringatkan Keruntuhan Ekonomi Global Bahkan Jika Perang Iran Berhenti Saat Ini
Menurutnya, dalam perspektif international marketing dan neurosains keputusan kolektif, pelaku pasar global tidak hanya merespons data.
Namun hal ini juga sangat dipengaruhi oleh narasi yang terus berulang dan tertanam dalam ingatan publik.
"Negara yang tidak aktif membangun narasinya sendiri berisiko kehilangan perhatian, meskipun memiliki kekuatan ekonomi yang besar," ujarnya.
Ia mencontohkan Iran yang tetap menjadi bagian dari percakapan global meskipun berada dalam konflik besar.
Sementara Indonesia, dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa dan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, justru tidak muncul sebagai aktor penting dalam narasi global.
Emaridial menegaskan kondisi ini bukan sekadar persoalan citra, melainkan berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.
"Ketika reputasi, narasi, dan persepsi terganggu secara bersamaan, dampaknya nyata yakni investasi asing tertunda, biaya pinjaman meningkat, hingga potensi capital outflow," jelasnya.
Selain itu, laporan tersebut juga menyoroti tekanan ekonomi melalui konsep Keynesian Triple Squeeze, yaitu kondisi ketika tiga pilar utama ekonomi, yakni lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas mengalami tekanan secara bersamaan.
"Kondisi ini lebih kompleks dibanding krisis sebelumnya karena tidak ada sektor yang bisa menjadi penyangga," kata Emaridial.
Baca juga: PP Pemuda Katolik: Paskah 2026 Jadi Alarm Moral di Tengah Krisis Global
Dari sisi geopolitik, ia mengingatkan bahwa krisis energi global akibat konflik Timur Tengah berpotensi melemahkan posisi negara-negara ASEAN dalam negosiasi dengan China, khususnya di kawasan Laut China Selatan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/prabowonaruhito123.jpg)