Reshuffle Kabinet
Isu Bongkar Pasang Kabinet Muncul Lagi, Pengamat: Reshuffle Kali Ini Jadi Ujian bagi Pemerintah
Isu reshuffle kabinet kembali menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan dinamika politik yang semakin kompleks jelang pertengahan tahun.
Ringkasan Berita:
- Isu reshuffle kabinet kembali mencuat di tengah dinamika politik nasional.
- Presiden Prabowo disebut tengah mempertimbangkan perombakan untuk memperkuat kinerja, khususnya di sektor ekonomi dan pelayanan publik.
- Pengamat politik Herry Mendrofa menilai reshuffle tidak boleh sekadar kosmetik politik, melainkan harus menjadi instrumen reformasi institusional.
- Ia menekankan bahwa langkah berani menempatkan teknokrat independen atau kritikus dalam kabinet.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Isu reshuffle kabinet kembali menguat dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan dinamika politik yang semakin kompleks menjelang pertengahan tahun.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa Presiden tengah mempertimbangkan perombakan untuk memperkuat kinerja pemerintahan, terutama di sektor ekonomi dan pelayanan publik.
Dorongan ini muncul setelah evaluasi internal menunjukkan perlunya penyegaran agar program prioritas dapat berjalan lebih efektif.
Bagi pengamat politik Herry Mendrofa bahwa wacana tersebut harusnya bukan sekadar perombakan teknis semata.
"Saya rasa reshuffle kabinet tidak hanya mengganti wajah jika tidak mengubah logika kekuasaan, maka reshuffle ini hanyalah politik kosmetik sebuah teater kekuasaan yang menipu publik dengan ilusi perubahan,” ujar Herry kepada Tribunnews.com, Rabu 8 April 2026.
Menurutnya dalam konteks konsolidasi demokrasi, reshuffle seharusnya menjadi instrumen untuk memperkuat institusi, bukan sekadar memperkuat patronase.
"Jika Presiden berani menempatkan teknokrat independen dan bahkan kritikus dalam kabinet, maka itu akan menjadi langkah radikal yang menantang tradisi oligarki. Namun bila reshuffle hanya menjadi ajang barter politik, maka kita sedang menyaksikan reproduksi elit yang sama, sebagaimana dijelaskan Pareto dalam teori sirkulasi elit: wajah berganti, tetapi struktur tetap stagnan,” kata Direktur Eksekutif Centre for Indonesia Strategic Actions (CISA) itu.
Lebih lanjut Herry menyebut bahwa April 2026 bisa menjadi titik balik sejarah. "Publik berhak menuntut lebih dari sekadar teater kekuasaan. reshuffle kali ini adalah ujian apakah pemerintah berani keluar dari zona nyaman oligarki menuju reformasi institusional yang nyata,” ucap Herry Mendrofa.
Respons Istana
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya merespons mengenai isu perombakan atau Reshuffle kabinet yang akan dilakukan Presiden Prabowo Subianto dalam waktu dekat.
Menurutnya perombakan kabinet tinggal menunggu waktu.
"Tunggu saja," kata Teddy singkat di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Teddy tidak menjawab tegas apakah perombakan kabinet akan dilakukan dalam pekan ini atau tidak.
Menurutnya soal perombakan kabinet akan disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo.
"Nanti Bapak Presiden yang menceritakan," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pengamat-herry-mendrofa-laks.jpg)