Bahlil Sebut Masa Krisis LPG Sudah Lewat, Klaim RI Segera Surplus Solar
Keberhasilan ini, kata Bahlil, didorong implementasi program B40. Pemerintah berencana meningkatkan standar tersebut ke B50 pada Juli 2026.
Ringkasan Berita:
- Bahlil mengklaim masa krisis Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia telah terlewati seiring dengan mulai membaiknya komunikasi dan kerja teknis di sektor energi
- Indonesia, menurut dia, juga sudah tidak lagi melakukan impor solar karena kebutuhan nasional sebesar 40 juta kiloliter telah dipenuhi dari produksi dalam negeri
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia mengatakan, masa krisis Liquefied Petroleum Gas (LPG) di Indonesia telah terlewati seiring dengan mulai membaiknya komunikasi dan kerja teknis di sektor energi.
Hal tersebut disampaikan Bahlil dalam acara Silaturahmi dan Halalbihalal Keluarga Besar Partai Golkar Idul Fitri 1447 H di Kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
"Saya menyampaikan dengan senang hati bahwa masa krisis kita sudah lewat. Masa krisis LPG itu sebenarnya kemarin. Ini saya sampaikan saja jujur," kata Bahlil.
Baca juga: Penutupan Selat Hormuz Ganggu Rantai Pasok Industri Petrokimia, LCI Usulkan Bea Masuk LPG Nol Persen
Selain soal LPG, Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri ESDM ini mengungkapkan pencapaian signifikan terkait kedaulatan bahan bakar solar.
Menurut dia, saat ini Indonesia sudah tidak lagi melakukan impor solar karena kebutuhan nasional sebesar 40 juta kiloliter telah dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Keberhasilan ini, kata Bahlil, didorong oleh implementasi program B40. Pemerintah pun berencana meningkatkan standar tersebut ke B50 pada Juli 2026.
"Kalau ini kita lakukan (B50), kita mampu surplus kurang lebih sekitar 4 juta kiloliter. Jadi kita pertama kali surplus solar nanti tahun ini," ujarnya.
Bahlil juga menyoroti progres Kilang RDMP di Kalimantan Timur yang diresmikan pada Januari lalu.
Proyek tersebut diklaim mampu menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin, 4,5 juta kiloliter solar, serta tambahan 60.000 ton LPG untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
"Itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter bensin dan 4,5 juta kiloliter solar dan kemudian mampu menambah 60.000 LPG," ungkapnya.
Di tempat berbeda, Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah Indonesia sedang melakukan komunikasi yang intensif dengan pihak Iran agar 2 kapal milik PT Pertamina International Shipping (PIS) bisa melewati Selat Hormuz.
Dua kapal tersebut hingga saat ini belum bisa melintasi selat tersebut.
“Lagi dilakukan komunikasi yang intens terkait dengan dua kapal itu, InsyaAllah doain bisa cepat,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Bahlil berharap dengan adanya gencatan senjata antara Amerika dengan Iran selama dua pekan, upaya agar dua kapal Indonesia bisa melintasi Selat Hormuz bisa dilakukan dengan cepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Menteri-ESDM-Bahlil-Lahadalia-selat-hormuz-s.jpg)