Aktivis KontraS Disiram Air Keras
5 Kali Operasi hingga Cangkok Kulit, Andrie Yunus Perlu Dirawat 4 Bulan Lagi
Kondisi pilu Andrie Yunus di RSCM: Mata kanan terancam buta permanen dan tubuh luka bakar 20% usai disiram air keras oleh oknum BAIS TNI.
Ringkasan Berita:
- Andrie Yunus mengalami luka bakar 20 persen dan kerusakan bola mata kanan yang mengharuskan lima kali operasi, termasuk transplantasi membran dan cangkok kulit paha.
- Empat oknum anggota BAIS TNI telah menjadi tersangka, namun koalisi sipil mendesak pengungkapan 16 orang lainnya yang diduga terlibat sebagai aktor intelektual.
- Aksi pita pink di Jembatan Talang menjadi simbol desakan publik agar Presiden membentuk TGPF demi transparansi kasus yang menimpa Wakil Koordinator KontraS ini.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Perjuangan panjang harus dilalui Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, untuk pulih dari serangan brutal air keras yang menimpanya. Hingga kini, aktivis pembela HAM tersebut masih menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, dengan kondisi medis memprihatinkan.
Mantan Koordinator KontraS yang juga bagian dari Tim Advokasi untuk Demokrasi, Fatia Maulidiyanti, mengungkapkan bahwa Andrie menderita luka bakar serius di sekujur tubuh hingga mencapai 20 persen.
Serangan menggunakan asam sulfat pekat tersebut mengakibatkan kerusakan masif pada jaringan kulit dan organ penglihatan.
"Hari ini dan masih dalam perawatan intensif," ujar Fatia di depan RSCM, Minggu (12/4/2026).
Dampak Asam Sulfat: Bola Mata Rusak
Fatia menjelaskan bahwa cairan kimia tersebut memicu kerusakan parah, terutama pada bagian indra penglihatan.
Kondisi ini membuat Andrie terancam kehilangan penglihatan permanen di mata kanan, bahkan kerusakan yang terjadi disebut hingga membuat bola mata mengalami kehancuran.
Selain mata, luka bakar serius juga mengenai wajah dan sejumlah bagian tubuh lainnya.
Satu sisi wajah dilaporkan mengalami luka berat, sementara sisi lainnya terkena percikan air keras.
Hingga saat ini, Andrie diketahui telah menjalani sekitar lima kali operasi, termasuk prosedur skin graft atau cangkok kulit.
“Untuk kulitnya sudah dijalankan operasi skin graft jadi penambalan dari kulit paha ke sekujur badannya di bagian dada leher dan lengan gitu,” ucap Fatia.
Mengingat kompleksitas luka yang dialami, Andrie dipastikan akan menjalani pengobatan jangka panjang di bawah pengawasan ketat tim medis RSCM.
“Jadi, Andrie akan masih tetap menjalani pengobatan sampai dengan beberapa bulan ke depan, dan empat bulan lagi juga Andrie rencananya akan kembali dioperasi matanya begitu,” ucapnya.
Baca juga: Setelah Kasus Tewasnya Siswa saat Ujian Praktik, Polisi Terjunkan Polwan untuk Trauma Healing
Simbol Pita Pink di Jembatan Talang
Di tengah perjuangan medis yang berat tersebut, gelombang solidaritas terus mengalir bagi Andrie Yunus.
Jembatan Jalan Talang di Salemba kini dipenuhi puluhan pita merah muda (pink) yang diikatkan oleh elemen masyarakat sipil pada Minggu pagi. Aksi ini menjadi simbol harapan sekaligus pengingat atas kekejaman penyiraman air keras yang terjadi di lokasi tersebut.
Fatia bersama sejumlah masyarakat sipil memimpin rangkaian aksi jalan bertajuk "Langkah Keadilan untuk Andrie".
Mereka berjalan kaki menyusuri titik-titik yang diduga menjadi lokasi penguntitan, dimulai dari Kantor YLBHI hingga berakhir di jembatan di Jalan Talang. Di setiap titik perhentian, Fatia menjelaskan ihwal apa yang terjadi di tempat itu jelang penyiraman.
Suasana haru menyelimuti aksi saat doa bersama dipanjatkan di depan rumah sakit.
Fatia berharap Andrie dapat segera kembali pulih untuk kembali berjuang bersama rekan-rekan aktivis lainnya.
"Dan kita sama-sama berdoa untuk kesembuhannya Andrie agar bisa segera pulih bisa bersama lagi dengan kita bisa sama-sama lagi memperjuangkan keadilan sama kita,” tutup Fatia.
Tuntutan TGPF dan Aktor Intelektual
Meski empat oknum anggota Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI telah ditetapkan sebagai tersangka atas serangan terhadap aktivis HAM Andrie Yunus dan diproses di Oditurat Militer Jakarta, publik menilai kasus ini belum tuntas.
Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD) bahkan mengidentifikasi adanya 16 orang tak dikenal (OTK) yang diduga terlibat.
Perwakilan aksi, Hema, menegaskan tiga tuntutan utama kepada pemerintah:
- Kepada Presiden Prabowo Subianto: Segera membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF).
- Kepada Mahkamah Konstitusi: Mempercepat putusan JR UU TNI terkait peradilan umum.
- Kepada Komnas HAM: Melakukan penyelidikan pro-justisia.
“Bukan hanya penangkapan pelaku penyiraman, akan tetapi juga pengungkapan aktor intelektual di balik percobaan pembunuhan dan kejahatan terorganisir ini,” tegas Hema di lokasi aksi.
Hingga kini, publik terus mengawal pemulihan Andrie sembari menanti janji penuntasan kasus dan pengungkapan aktor intelektual di balik tragedi memilukan ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kolase-foto-dua-terduga-pelaku-penyerangan-air-keras-aktivis-Kontra-Andrie-Yunus-dirawat.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.