Jusuf Kalla dan Kiprahnya
Ade Armando dan Abu Janda Dilaporkan ke Polda Metro Buntut Dugaan Edit Video Ceramah Jusuf Kalla
Ade Armando dan Permadi Arya atau Abu Janda dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Mereka dilaporkan karena diduga mengedit video ceramah JK.
"Jadi yang kami sesalkan, efek dan dampak negatif dari potongan video tersebut itu membaut orang-orang tidak hanya menyerang Pak Jusuf Kalla tetapi ikut menyerang dan menghina agama Islam, Nabi Muhammad, dan Alquran," katanya.
Baca juga: Jusuf Kalla Jelaskan Konteks Video Ceramah di UGM: Tidak Bicara Ideologi Agama
JK Klarifikasi soal Ceramah, Tegaskan hanya Bahas Perdamaian
Sebelumnya, JK telah mengklarifikasi terkait potongan video ceramah yang dianggap sebagai bentuk penistaan agama.
Mulanya, dia menjelaskan bahwa ceramah dalam video tersebut dilakukannya saat bulan Ramadhan 2026.
"Saya ingin menjawab, menjelaskan tentang ceramah saya, ceramah Ramadhan. Ceramah Ramadhan itu artinya yang hadir hanya orang Muslim, ya, di masjid lagi."
"Kemudian di kampus, berarti orang yang hadir adalah intelektual. Itu dulu yang perlu dipahami tentang keadaan itu,” katanya dalam konferensi pers di kediamannya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Sabtu.
Setelah itu, dia menayangkan video terkait konflik Poso dan Ambon kepada wartawan yang hadir.
Menurutnya, penayangan video tersebut diperlukan karena menjadi salah satu materi dalam ceramahnya tersebut.
Kemudian, JK menyatakan bahwa ceramah di masjid UGM itu bertema perdamaian. Dia membantah telah menistakan agama.
“Saya diundang, datang, karena temanya adalah perdamaian. Jadi, khususnya temanya tentang langkah-langkah perdamaian, kurang lebih begitu,” katanya.
Baca juga: Marah Dituding Danai Kasus Ijazah Jokowi, Jusuf Kalla Ungkap Tolak Bertemu Rismon: Ogah Ikut Campur
JK juga menjelaskan bahwa dalam ceramah tersebut, dirinya membahas mengenai perdamaian yang merupakan akhir dari sebuah konflik.
Ia sempat membahas sejumlah konflik di dunia, termasuk 15 konflik di Indonesia.
Mantan Ketua Umum Golkar itu juga mengungkapkan bahwa konflik di Maluku dan Poso dijadikan contoh baginya di mana kala itu para pelaku memiliki konsep terkait mati membela agama dengan membunuh pihak yang berbeda agam.
Menurutnya, konsep itu dikenal dengan syahid dalam agama Islam, sementara di agama Kristen disebut martir.
"Saya berada di masjid dan jamaah tidak mengerti martir. Jadi, saya katakan, ya karena hampir sama, syahid dan martir hampir sama. Cuma beda caranya," ujarnya.
"Jadi, hanya istilah saja, tetapi karena saya di masjid maka saya pakai kata syahid. Karena kalau saya pakai kata martir, jamaah tidak tahu," sambung JK.