IAGL ITB: Akselerasi dan Hilirisasi Batu Bara dan Nikel Solusi Darurat Energi Indonesia
Defisit energi mengkhawatirkan, dimana kebutuhan minyak bumi nasional mencapai 1,7 juta barrel per hari, namun produksi harian hanya 600 ribu barrel
Ringkasan Berita:
- IAGL ITB merekomendasikan percepatan hilirisasi batu bara dan nikel untuk menghasilkan energi dan produk bernilai tambah.
- Indonesia menghadapi defisit energi serius, dengan kebutuhan minyak 1,7 juta barel per hari, sementara produksi hanya sekitar 605 ribu barel.
- IAGL ITB mendorong transisi ke energi listrik, eksplorasi agresif sumber energi, serta penguatan sinergi pemerintah, industri, dan akademisi untuk mencapai kedaulatan energi nasional.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ikatan Alumni Geologi Institut Teknologi Bandung (IAGL ITB) mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengambil langkah-langkah konkret menghadapi darurat energi nasional di tengah ketidakstabilan geopolitik dunia.
Sejumlah rekomendasi dikeluarkan IAGL ITB, salah satunya mendorong pemerintah memprioritaskan peningkatan produksi migas (lifting).
Pemerintah jug didorong turut menjadikan batubara dan nikel sebagai pilar energi serta memaksimalkan integrasi langkah kolaborasi strategis akademisi, pemerintah, dan pelaku industri demi mewujudkan kedaulatan dan kemandirian energi nasional.
Ketua Umum IAGL ITB Abdul Bari menilai peningkatan lifting dapat dilakukan melalui pemberian insentif fiskal yang kompetitif, penguatan supervisi dan tata kelola (governance).
Pemerintah juga perlu melakukan penyederhanaan regulasi serta kontrak kerja sama, hingga peningkatan koordinasi terpadu antar kementerian maupun lembaga guna mempercepat realisasi produksi.
satunya mendorong akselerasi hilirisasi batubara dan nikel untuk menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, termasuk pengembangan pembangkit listrik berbasis batubara yang lebih bersih dan ekosistem industri baterai nikel.
Bari mendorong akselerasi transisi energi menjadi ekosistem energi listrik agar mengurangi penggunaan energi dari minyak bumi.
Sementara rekomendasi ketiga ialah memperkuat sinergi lintas sektor antara pemerintah, akademisi, dan pelaku industri dalam memastikan kebijakan energi nasional berjalan efektif dan tepat sasaran mencapai kedaulatan energi nasional.
"Mendorong eksplorasi agresif dan efektif guna memperkuat cadangan energi nasional dan memperkokoh landasan kedaulatan energi nasional," kata Bari menyebutkan rekomendasi keempat IAGL ITB saat Seminar Nasional Dinamika Geopolitik bertajuk Dinamika Geopoltik Dunia Terhadap Sustainability Industri Minerba, Minyak dan Gas Bumi Nasional di Jakarta Selatan, Sabtu (25/4/2026).
Baca juga: Prabowo Ingin Hilirisasi Diperluas ke Sektor Pertanian dan Perikanan
Bari menekankan, Indonesia saat ini menghadapi kondisi darurat energi nasional.
Menurutnya, defisit energi saat ini sangat mengkhawatirkan, dimana kebutuhan minyak bumi nasional mencapai 1,7 juta barrel per hari, namun produksi harian hanya mampu memenuhi 605.000 barrel per hari.
Kondisi ini diperburuk oleh ketidakstabilan geopolitik global yang mengganggu rantai pasok minyak bumi internasional.
"Jika konflik geopolitik dunia terus berlanjut, defisit energi ini diprediksi akan semakin menggerus perekonomian Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah strategis dan memeperkokoh kerja sama antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri agar dapat menentukan arah kebijakan yang terfokus dan strategis menanggapi isu ketidakstabilan energi nasional," ujarnya.
Di tengah ancaman defisit energi Indonesia, IAGL ITB memandang adanya peluang strategis untuk batubara dan nikel sebagai pilar energi. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang dapat
menjadi solusi nyata.
Menurutnya, batubara di Indonesia memiliki sumber daya batubara sebesar 97 miliar ton dengan cadangan terbukti sekitar 32 miliar ton.
Hal itu menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan batubara terbesar di dunia.
Baca juga: 6 Perusahaan Jepang–Indonesia Uji Coba Lahan Bekas Tambang Batu Bara di Kalsel untuk Energi Bersih
Potensi ini berperan penting sebagai sumber energi, khususnya sebagai bahan bakar pembangkit listrik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional yang terus meningkat.
Selain itu, pengembangan hilirisasi batubara juga menjadi fokus strategis, antara lain melalui gasifikasi menjadi dimethyl ether (DME), peningkatan kualitas batubara (coal upgrading), serta penerapan teknologi yang lebih ramah lingkungan.
"Upaya tersebut diarahkan untuk menghasilkan energi yang lebih bersih, meningkatkan nilai tambah, serta mendukung transisi menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan," kata Bari.
Sementara nikel Indonesia memiliki sumber daya dan cadangan yang berpotensi menghasilkan listrik sebesar 50 GWh per tahun, dengan potensi keseluruhan di atas 1 TWh.
Nikel merupakan bahan baku kunci dalam produksi baterai kendaraan listrik dan
penyimpanan energi, menjadikan Indonesia sebagai pemain sentral dalam transisi energi global.
"Dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya batubara dan nikel secara optimal, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari ketergantungan energi dan membangun kedaulatan energi nasional yang kuat. IAGL ITB berkomitmen untuk terus mendukung upaya ini melalui
riset, advokasi kebijakan, dan kolaborasi strategis dengan seluruh pemangku kepentingan," kata Bari.
Seminar Nasional Dinamika Geopolitik yang diadakan IAGL ITB ini menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pembicara, antara lain Wakil Ketua Komisi XII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Sugeng Suparwoto, M.T, Prof. Dr. Ir. Indroyono Soesilo, M.Sc. (Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat) dan Dr. Ing. Tri Winarno, S.T., M.T. (Direkturat Jendral Mineral dan Batubara) Dr. Ir. Djoko Siswanto, M.B.A. (Kepala SKK Migas) dan Dr. Ir. Unggul Priyanto, M.Sc. (Dewan Energi Nasional).
Sementara itu, Sugeng Suparwoto meyakinkan pemerintah berupaya memaksimalkan lifting secara terus menerus. Termasuk terhadap idle well (sumur minyak dan gas bumi yang sudah tidak aktif, namun masih memiliki potensi untuk diaktifkan kembali).
"Karena kita seperti saya sebut tadi kita ini masih punya cekungan-cekungan yang belum dieksplorasi. Seperti yang sering digarisbawahi oleh kaum geolog itu adalah ada 128 cekungan yang sudah tereksplorasi eksploitasi itu baru 60 cekungan, masih ada 68 cekungan 'yang belum disentuh'. Nah ini memang sebagian besar ke laut semakin laut dalam dan memang hari-hari ini kalau kita temukan selalu gas gas dan gas. Kita memang kaya gas alam bahkan kemarin Pak Menteri ESDM mengumumkan ditemukan cadangan di apa ENI dengan ENI itu cukup besar 5 TCF ya totalnya," papar Sugeng.
Sugeng berharap para geolog mampu mengeksplorasi dan eksploitasi hingga 68 cekungan tersebut dapat diketahui apakah hanya berupa sedimen saja atau berupa hidrokarbon.
"Tentunya itulah yang menjadi concern kami juga. Sehingga apa cadangan nasional kita atau cadangan geologis di
migas misalnya hari ini kan kecil sekali. Kita hanya 2,4 miliar barel saja," ucap Sugeng.
Eksplorasi yang dilakukan oleh kaum geolog disebutkan Sugeng sangat penting karena dapat mengungkap akurasi cadangan geologis sektor migas menjadi penting.
Mengenai hilirisasi nikel dikatakan Sugeng saat ini telah dilakukan pemerintah. Hilirisasi dikemukakannya ada dalam mata rantai atau ekosistem industri di tingkat-tingkat tertentu.
"Memang hilir dari segala hilir adalah industri salah satunya baterai tapi kita
hari ini kan sudah memproduksi NPI (nickel pig iron) untuk baja, stainless steel dan produk-produk lain. Jadi memang dalam konteks industri itu ya semuanya memang bertahap," ungkapnya.
"Dan kita sudah dorong di nikel misalnya, bahkan sudah firesmikan oleh Presiden, namanya IBC Indonesia Battery Corporation dengan basis litium ion. Memang ya kita akan terus memproduksi baterai karena ujung dari
segala pertarungan energi salah satunya adalah baterai energy storage system
BESS. Nah inilah dan Indonesia kebetulan dengan litium ion itu kita punya nikel
yang besar, kita juga punya kobalt," sambung Sugeng.
Perihal batubara, Sugeng menuturkan saat ini pasokan batubara yang sangat mencukupi membuat harga listrik masih terjangkau oleh masyarakat.
"Batubara kita ada kebijakan DMO (domestic market obligation) dan juga DPO (domestic price obligation). Batubara untuk kepentingan listrik itu hanya 70 dolar per ton untuk GAR tertinggi. Nah yang dikonsumsi PLN kan GAR 4000 maka relatif murah karena 67 persen listrik kita ini masih dengan PLTU batubara sebagai base loadnya," kata Sugeng.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/itbbatubara1222.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.