IISAR Nilai Banyaknya Nomor Darurat Hambat Penyelamatan, Usulkan Satu Akses 115
Desakan tersebut muncul guna mengakhiri fragmentasi sistem panggilan darurat yang dinilai menghambat efektivitas penyelamatan nyawa.
Ringkasan Berita:
- Indonesia International Search and Rescue (IISAR) mendesak pemerintah menetapkan 115 sebagai nomor tunggal kegawatdaruratan nasional
- Sistem darurat yang terfragmentasi dinilai menghambat respons penyelamatan dan membingungkan masyarakat saat situasi kritis
- IISAR juga mendorong integrasi teknologi real-time untuk mempercepat koordinasi dan evakuasi.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indonesia International Search and Rescue (IISAR) mendesak pemerintah pusat segera menetapkan 115 sebagai nomor tunggal kegawatdaruratan nasional di seluruh Indonesia.
Desakan tersebut muncul guna mengakhiri fragmentasi sistem panggilan darurat yang dinilai menghambat efektivitas penyelamatan nyawa.
Saat ini 115 merupakan nomor layanan darurat untuk Basarnas yang meliputi pencarian orang hilang, evakuasi kecelakaan, evakuasi bencana alam, dan misi penyelamatan orang yang berada dalam kondisi darurat, seperti kecelakaan dan bencana alam tadi.
Founder Indonesia International Search and Rescue (IISAR), Candra Tri Saktiyanto mengatakan, saat ini masyarakat dihadapkan pada beragam nomor darurat yang berbeda antarinstansi.
"Kondisi tersebut justru membingungkan masyarakat dalam situasi kritis yang membutuhkan respons cepat dan terkoordinasi," kata Candra dalam keterangan dikutip, Selasa (12/5/2026).
Indonesia International Search and Rescue merupakan organisasi yang berfokus pada transformasi strategis sektor pencarian dan pertolongan (SAR) di Indonesia.
Baca juga: Buat Kamu yang Masih WFO di Tengah Gelombang Demo, ini Tips Aman dan Nomor Darurat Wajib Kamu Tahu!
Candra menilai sistem yang terfragmentasi menciptakan labirin birokrasi ketika setiap detik sangat menentukan keselamatan jiwa dan dalam situasi hidup dan mati, masyarakat tidak boleh dibebankan untuk memilih instansi mana yang harus dihubungi.
"Unifikasi nomor darurat ke 115 bukan hanya sentralisasi panggilan, melainkan penyatuan komando operasi penyelamatan berbasis profesionalisme dan kecepatan respons,” ujarnya.
IISAR menilai penyatuan nomor darurat akan mempercepat koordinasi lintas lembaga sekaligus meningkatkan efisiensi operasional dalam penanganan kecelakaan, bencana, maupun kondisi yang membahayakan manusia.
Organisasi tersebut juga menyoroti pentingnya unifikasi nomor darurat dari perspektif ekonomi makro.
Dengan pendekatan Value of Statistical Life (VSL), keterlambatan respons akibat koordinasi yang tidak efektif dinilai dapat berdampak pada kerugian ekonomi nasional.
Penetapan 115 sebagai nomor tunggal kegawatdaruratan nasional disebut dapat meningkatkan efisiensi fiskal dan memperkuat mitigasi risiko ekonomi.
"Sistem yang terintegrasi dinilai memungkinkan pemerintah mengoptimalkan alokasi anggaran keselamatan publik secara lebih tepat sasaran," katanya.
Selain itu, IISAR menekankan pentingnya integrasi teknologi canggih dalam sistem 115 yang diusulkan.
Sistem tersebut diharapkan tidak hanya menerima panggilan suara, tetapi juga terintegrasi dengan perkembangan teknologi adaptif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/NOMOR-TUNGGAL-KEDARURATAN.jpg)