Sebut Juli-Agustus Berpotensi 'Heboh', Eks Direktur BAIS TNI Ingatkan Ancaman Balkanisasi RI
Eks Direktur BAIS peringatkan ancaman balkanisasi RI, singgung konflik elite, ekonomi sulit, dan potensi gejolak Juli-Agustus.
Ringkasan Berita:
- Eks Direktur BAIS TNI Brigjen (Purn) Purnomo mengingatkan potensi disintegrasi dan balkanisasi Indonesia jika konflik sosial dan ekonomi terus membesar.
- Ia menyebut Juli–Agustus berpotensi “heboh” apabila ketimpangan ekonomi, konflik elite, dan lemahnya nation building tidak diantisipasi.
- Menurutnya, kondisi internal yang rapuh dapat dimanfaatkan kepentingan asing untuk memperlemah persatuan nasional.
TRIBUNNEWS.COM — Mantan Direktur Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI Brigjen (Purn) Purnomo mengingatkan adanya potensi kerawanan sosial dan ancaman disintegrasi nasional apabila berbagai persoalan ekonomi, politik, dan konflik elite tidak segera diselesaikan pemerintah.
Peringatan itu disampaikan Purnomo dalam podcast Madilog di kanal YouTube Forum Keadilan TV saat membahas kondisi sosial-politik Indonesia dan potensi tekanan geopolitik yang dinilai semakin kompleks.
Dalam pernyataannya, Purnomo mengaku khawatir Indonesia dapat menghadapi situasi yang mengarah pada perpecahan apabila rasa kebangsaan atau nation building tidak diperkuat.
“Kalau nation itu tidak dibangun, yang ada adalah konflik,” kata Purnomo, dikutip pada Rabu (13/5/2026).
Ia bahkan menyinggung kemungkinan situasi “heboh” pada Juli hingga Agustus mendatang apabila akumulasi persoalan sosial dan ekonomi terus membesar.
“Kalau benar Juli-Agustus nanti heboh seperti kata orang, justru itulah saya khawatir pecah republik ini,” ujarnya.
Dalam perbincangan tersebut, Purnomo juga menyinggung ancaman balkanisasi atau skenario terpecahnya suatu negara menjadi wilayah-wilayah kecil akibat konflik berkepanjangan dan lemahnya persatuan nasional.
Menurut dia, kondisi itu bisa muncul ketika masyarakat kehilangan rasa memiliki terhadap negara dan lebih mudah dipengaruhi kepentingan luar.
“Begitu pecah, mengembalikannya tidak mudah,” katanya.
Ia menilai ancaman tersebut tidak hanya dipicu faktor internal seperti kesenjangan ekonomi dan ketidakpuasan sosial, tetapi juga karena adanya kepentingan asing yang memanfaatkan celah konflik di dalam negeri.
Baca juga: Eks Direktur BAIS TNI Bongkar Pola Intelijen Era Jokowi: Sentil Elite hingga Relasi Bisnis
“Negara orang ukurannya sudah memilah-milah, lebih mudah,” ujarnya.
Purnomo mengatakan, kondisi ekonomi masyarakat bawah yang semakin sulit juga dapat menjadi pintu masuk bagi berbagai kepentingan politik maupun asing.
“Yang bahaya perut. Karena nanti yang kena rakyat bawah,” katanya.
Purnomo menilai kesenjangan ekonomi yang semakin lebar berpotensi memperbesar kerawanan sosial di masyarakat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Kawasan-Inti-Pusat-Pemerintahan-KIPP-Ibu-Kota-Nusantara-IKN-Penajam-Paser-Utara-Kalimantan.jpg)