Rupiah Melemah, DPP GMNI Soroti Kerentanan Struktur Ekonomi Nasional
GMNI menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.700 per dolar AS harus menjadi perhatian serius pemerintah.
“Pelemahan rupiah ini seharusnya menjadi alarm, bukan sekadar kepanikan musiman. Jika akar persoalan tidak dibenahi, kita hanya akan terus mengulang siklus krisis yang sama,” ujar Rino.
Kerentanan ekonomi nasional, lanjut Rino, tercermin dari struktur impor Indonesia yang masih didominasi bahan baku dan barang modal.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor bahan baku atau penolong masih mendominasi total impor nasional, disusul barang modal yang menunjukkan tingginya ketergantungan industri nasional terhadap kebutuhan eksternal.
“Ketika struktur produksi masih bergantung pada impor, pelemahan rupiah akan selalu menjadi tekanan bagi dunia usaha dan perekonomian nasional,” jelasnya.
Karena itu, DPP GMNI menilai pemerintah tidak cukup hanya merespons situasi dengan kebijakan jangka pendek yang bersifat reaktif.
Dibutuhkan langkah korektif dan struktural melalui percepatan substitusi impor, penguatan hilirisasi industri nasional, serta sinkronisasi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih terukur dan berpihak pada kepentingan nasional.
DPP GMNI menegaskan bahwa ketahanan ekonomi nasional hanya dapat dibangun melalui basis produksi yang kuat dan tingkat ketergantungan eksternal yang rendah.
Dalam konteks tersebut, pelemahan rupiah harus dijadikan momentum untuk kembali meneguhkan arah pembangunan nasional yang berlandaskan semangat Trisakti Bung Karno: berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Baca juga: Rakyat Pakai Rupiah, Ekonomi Bergantung Dolar: Mengkritisi Klaim Fondasi Ekonomi Indonesia yang Kuat
Selain itu, DPP GMNI turut mengajak masyarakat untuk memperkuat dukungan terhadap produk dalam negeri dan usaha rakyat sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian ekonomi nasional.
“Ketahanan ekonomi tidak lahir dari ketergantungan yang terus dipelihara, tetapi dari keberanian membangun kemandirian produksi nasional secara serius dan berkelanjutan,” kata Rino.
Rupiah Menguat terhadap Dolar
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Rabu sore, (20/5/2026), menguat ke posisi Rp17.650,45. Menurut data Bloomberg, Rabu, 20 Mei 2026, sore, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.653,5 per dolar AS.
Rupiah naik 52 poin atau 0,29 persen dari posisi Rp17.705,5 per dolar AS pada penutupan perdagangan Senin kemarin.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan para Rabu sore rupiah ditutup menguat 52 poin setelah melemah 25 poin di level Rp17.653,5 per USD pada penutupan sebelumnya di level Rp17.705,5 per dolar AS.
Kurs Bank Indonesia hari Rabu mematok Rp17.807,60 per dolar untuk kurs jual dan Rp17.630,40 untuk kurs beli.
Jika mengacu pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah sore ini berada di level Rp17.685 per dolar AS, menguat 34 poin dari perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.719 per dolar AS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Ketua-DPP-GMNI-Bidang-Perekonomian-Rino-Bakhtiar.jpg)