Selasa, 26 Mei 2026

Kemendikti: RI Punya Masalah Kelas Dunia yang Dicari Peneliti Global

Kemendikti menyebut tantangan riil di Indonesia kini dinilai relevan menjadi objek penelitian akademisi dunia.

Tayang:
Tribunnews.com/Danang Triatmojo
PENDIDIKAN TINGGI — Tenaga Ahli Kemendiktisaintek Prof Hermawan Kresno Dipojono (ketiga) menjadi pembicara dalam Simposium “Transnational Education in Indonesia” yang digelar Pemerintah Australia melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia di Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026). Forum ini membahas kerja sama pendidikan dan riset Indonesia–Australia serta tantangan RI yang dinilai relevan untuk penelitian internasional. 

Ringkasan Berita:
  • Kemendikti menyebut tantangan riil di Indonesia relevan menjadi objek riset internasional.
  • Kolaborasi kampus Indonesia-Australia dinilai membuka peluang pengembangan riset dan sumber daya manusia.
  • Lebih dari 25 ribu mahasiswa Indonesia tercatat menempuh pendidikan di Australia sepanjang 2025.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) menyebut Indonesia memiliki berbagai persoalan kompleks yang dinilai relevan menjadi objek penelitian internasional.

Tantangan di bidang sosial, lingkungan, kesehatan, hingga pembangunan disebut menjadi ruang riset yang menarik bagi akademisi dan perguruan tinggi luar negeri.

Tenaga Ahli Kemendiktisaintek Prof Hermawan Kresno Dipojono mengatakan Indonesia tidak hanya menjadi penerima manfaat dalam kerja sama pendidikan internasional, tetapi juga memiliki banyak hal yang dapat ditawarkan kepada akademisi dunia.

“Menurut saya, Indonesia adalah tempat bagi banyak tantangan yang signifikan secara global. Kami memiliki banyak masalah kelas dunia. Ini akan sangat bagus bagi para profesor di Australia,” kata Hermawan dalam simposium “Transnational Education in Indonesia” di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026).

Menurut Hermawan, tantangan riil di Indonesia dapat menjadi ruang penelitian yang bernilai bagi akademisi internasional, terutama dalam pengembangan riset terapan dan solusi berbasis kebutuhan masyarakat.

Ia menilai kemitraan antara perguruan tinggi Indonesia dan Australia juga dapat meningkatkan kualitas akademik serta visibilitas kedua negara di tingkat internasional.

“Kolaborasi atau kemitraan selalu membawa nilai positif dalam meningkatkan kualitas maupun visibilitas, terutama ketika hal itu dilakukan bersama institusi yang diakui secara global atas keunggulan dan keistimewaannya,” ujarnya.

Baca juga: Dosen Kini Bisa Kuliah S2-S3 tanpa Tinggalkan Mengajar, Serdos Tetap Cair

Kerja Sama Kampus Harus Saling Untung

Hermawan menegaskan kerja sama pendidikan tinggi sebaiknya berjalan dua arah agar tidak hanya menempatkan Indonesia sebagai pasar pendidikan internasional.

Menurut dia, pengalaman akademik dan tantangan sosial di Indonesia justru dapat menjadi ruang kolaborasi penting bagi peneliti asing.

“Indonesia juga memiliki banyak hal untuk ditawarkan kepada universitas dan profesor di Australia,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Kuasa Usaha Australia untuk Indonesia Gita Kamath mengatakan negaranya berkomitmen memperdalam hubungan pendidikan dengan Indonesia.

Ia menyebut saat ini tiga universitas Australia telah membuka kampus cabang di Indonesia, sementara lebih dari 25 ribu warga Indonesia tercatat menempuh pendidikan di Australia sepanjang 2025.

“Australia berkomitmen untuk memperdalam hubungan pendidikan kami dengan Indonesia,” kata Gita.

Utusan Khusus Bisnis Australia untuk Indonesia Profesor Jennifer Westacott mengatakan kerja sama pendidikan transnasional penting untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus mendukung pengembangan sumber daya manusia kedua negara.

Kegiatan yang berlangsung pada 25–26 Mei 2026 itu melibatkan lebih dari 30 institusi pendidikan tinggi dari Indonesia dan Australia.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved