Sabtu, 30 Mei 2026

Setelah ITB dan UNY, Kini ITS Buka Suara soal WNI Diduga Palsukan Riset, Nama Institusi Dicatut

ITS menjadi perguruan tinggi ketiga yang buka suara buntut kasus dugaan pemalsuan riset. Pernyataan ini buntut nama institusinya dicatut.

Tayang:
kominfo.jatimprov.go.id
DICATUT - ITS menjadi perguruan tinggi ketiga yang buka suara buntut kasus dugaan pemalsuan riset. Pernyataan ini buntut nama institusinya dicatut. Pencatutan tanpa izin dialami oleh Departemen Teknik Biomedis ITS. 
Ringkasan Berita:
  • Departemen Teknik Biomedik ITS buka suara terkait pencatutan nama institusi oleh sekelompok WNI yang diduga memalsukan riset dalam konferensi internasional di Kopenhagen, Denmark.
  • Pihak departemen menegaskan seluruh penulis bukanlah sivitas akademika dari ITS.
  • Selain itu, terkait penulis yang mencantumkan 'School of Biomedical Engineering' dalam latar belakang pendidikannya tidak berkaitan dengan Departemen Teknik Biomedik ITS.

TRIBUNNEWS.COM - Beberapa perguruan tinggi di Indonesia buka suara terkait kasus dugaan sekelompok WNI yang memalsukan riset ilmiah saat konferensi di Kopenhagen, Denmark, yang digelar pada 17-21 Mei 2026 lalu.

Adapun riset tersebut bertajuk International Society of Pneumonia and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026.

Sebelumnya, Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) memberikan klarifikasi terkait kasus tersebut.

ITB sempat menyampaikan bahwa salah satu terduga pelaku bernama Prihantini memang berstatus sebagai lulusan Program Magister Prodi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Sementara, UNY mengakui adanya nama terduga pelaku lain bernama Rifaldy Fajar dan Prihantini yang tercatat dalam basis data akademik di kampus tersebut.

Pihak kampus mengatakan nama Rifaldy tercatat sebagai alumni FMIPA UNY angkatan 2014 dan lulus 2018. Sedangkan, Prihantini merupakan angkatan 2015 dan lulus tiga tahun setelahnya.

Baca juga: Dua Kampus Buka Suara soal 2 WNI Diduga Palsukan Riset, ITB Akui Prihantini Berstatus Alumni FMIPA

Namun, UNY belum bisa mengonfirmasi apakah benar nama tersebut memang sosok yang berkaitan dengan kasus dugaan riset palsu tersebut.

Kini, giliran Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) yang memberikan klarifikasi.

Pernyataan ini disampaikan pihak kampus setelah nama institusi tersebut dicatut dalam riset yang diduga palsu tersebut.

Terungkap usai Diviralkan Peneliti asal Indonesia

Hal ini terungkap pertama kali ketika sesama peserta konferensi asal Indonesia bernama Wa Ode Dwi Daningrat mengunggah arsip berisi file riset yang diduga palsu dan mencatut nama ITS.

Sebagai informasi, Dwi merupakan peneliti di bidang clinical medicine di University of Oxford.

Berdasarkan unggahan Dwi, total ada 10 riset Rifaldy dan Prihantini yang mencatut nama Departemen Teknik Biomedis ITS. Adapun dalam riset tersebut, ada beberapa nama yang diduga merupakan penulisnya.

Berikut beberapa judul riset yang mencatut nama ITS:

  • "Household 'Super-Caregivers' as Silent Connectors Pneumococcal Carriage Between Young Children and Frail Grandparents in Multigenerational Family Compounds in Low-income Urban Neighbourhoods". Nama penulis adalah Aminatus Saadah, Wildan Syahputra, Riana Dwi Kurniawati, Ayuni Kemala Safira, Dimas Fajar Prasetyo.
  • "High Altitude Indigenous Children, Pneumococcal Carriage Patterns and Mucosal Antibodies Shaping Invasive Disease Risk in Remote Poor Mountain Communities Accross, Asia, Africa, and Latoin America Regions". Nama penulis adalah Dimas Fajar Prasetyo, Hardina Putri, Riana Dwi Kurniawati, Aminatus Saadah, Rani Sulvianuri.
  • "Low-input Clinical and Social Risk Score to Identify High-risk Children and Older Adults for Severe Pneumococcal Pneumonia in Resource-limited Settings". Nama penulis adalah Dimas Fajar Prasetyo, Hardina Putri, Riana Dwi Kurniawati, Aminatus Saadah, Rani Sulvianuri.
  • "Refugee and Displaced Elders Facing Wnter Viral Pneumococcal Syndemics: Camp Co-infection Screening, Vaccination Gaps, and Surge Preparednessin Humanitarian Settings Across the Middle East and Africa". Nama penulis adalah Aminatus Saadah, Wildan Syahputra, Riana Dwi Kurniawati, Ayuni Kemala Safira, Dimas Fajar Prasetyo.
  • "Which Should Come First: Oxygen Expansion or Pneumococcal Vaccination for Frail, Comorbid Older Adults in LMIC Cities?" dengan penulis Aminatus Saadah, Wildan Syahputra, Riana Dwi Kurniawati, Ayuni Kemala Safira, Dimas Fajar Prasetyo.

Klarifikasi ITS

Imbas dari hal tersebut, Departemen Teknik Biomedik ITS menyampaikan klarifikasi terkait temuan yang dibeberkan oleh Dwi tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Departemen Teknik Biomedik ITS  menegaskan bahwa nama-nama penulis yang tercantum dalam riset tersebut bukanlah sivitas akademika dari fakultas tersebut.

Selain itu, penyebutan istilah 'School of Biomedical Engineering' tidak merujuk pada fakultas yang dimaksud.

Adapun bantahan ini merujuk pada salah satu riset berjudul ""Which Should Come First: Oxygen Expansion or Pneumococcal Vaccination for Frail, Comorbid Older Adults in LMIC Cities?" 

Dalam riset itu, sosok bernama Dimas Fajar Prasetyo mengeklaim dirinya dengan menuliskan sebagai sivitas akademika dari 'School of Biomedical Engineering, Sepubluh Nopember Institute of Technology, Surabaya, Indonesia'

Baca juga: Kemdiktisaintek Pastikan WNI Pemalsu Riset di Denmark Bukan Dosen atau Peneliti Aktif di Kampus RI

Melalui bantahan ini, Departemen Teknik Biomedik ITS menegaskan untuk selalu mengutamakan integritas dan etika akademik.

Selengkapnya berikut isi klarifikasi dari Departemen Teknik Biomedik ITS dikutip pada Jumat (29/5/2026):

Sehubungan dengan informasi yang beredar terkait salah satu publikasi, perlu kami sampaikan bahwa:

1. Individu yang bersangkutan bukan merupakan sivitas akademik Departemen Teknik Biomedik ITS.

2. Perbedaan penyebutan seperti 'School of Biomedical Engineering' tidak merujuk pada Department Biomedical Engineering ITS.

3. Departemen Teknik Biomedik ITS berkomitmen untuk selalu menjunjung tinggi integritas dan etika dalam penelitian.

Demikian klarifikasi ini kami sampaikan. Terima kasih. 

Kami menegaskan bahwa Departemen Teknik Biomedik ITS selalu mengutamakan integritas serta menjauhi segala bentuk tindakan yang tidak sesuai dengan etika akademik.

Tetap bijak dalam menyikapi informasi dan jangan lupa untuk selalu memvalidasi berita yang diterima agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak benar.

ITB Akui Prihantini Alumni Magister FMIPA

Sebelumnya, ITB telah melakukan klarifikasi dan mengakui bahwa ada WNI bernama Prihantini yang berstatus sebagai alumni Program Magister FMIPA.

Prihantini merupakan sosok yang mencuat pertama kali terkait kasus dugaan pemalsuan riset saat mengikuti ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Sosoknya viral bersama dengan seorang pria bernama Rifaldy Fajar.

Status akademik Prihantini ini diungkapkan oleh Dekan FMIPA ITB, Aep Patah pada Kamis (28/5/2026) kemarin.

Aep menuturkan Prihantini merupakan mahasiswa magister FMIPA ITB angkatan 2020 dan lulus pada tahun 2022.

Namun, ia menegaskan apa yang ditulis oleh Prihantini dalam konferensi ISPPD tidak berkaitan dengan tesis maupun ITB.

"Materi yang dipresentasikan yang bersangkutan dalam konferensi pers internasional tersebut tidak berkaitan dengan tesis maupun aktivitas akademik di ITB," ujar Aep dikutip dari laman resminya.

Baca juga: Profil Rifaldy Fajar, WNI Diduga Palsukan Riset Pakai AI di Denmark, Dulunya Mawapres UNY

Dengan hal tersebut, Aep mengungkapkan dugaan pemalsuan riset yang dilakukan Prihantini merupakan tanggung jawab pribadi yang bersangkutan.

Dia mengatakan pihaknya menghormati proses hukum jika nantinya Prihantini berujung dilaporkan ke pihak berwenang.

“ITB menyatakan sikap bahwa tindakan Saudari Prihatini tersebut merupakan tindakan hukum sebagai seorang individu. Dengan demikian jika terdapat proses hukum atas tindakan tersebut, maka ITB sangat menghormati upaya hukum dimaksud,” tuturnya.

“ITB menegaskan komitmen untuk terus memperkuat budaya akademik, khususnya di ranah penelitian yang berintegritas dan bertanggung jawab,” sambung Aep.

UNY Buka Suara, Rifaldy dan Prihantini Diduga Alumni FMIPA

Sementara UNY telah melakukan penelusuran terkait status akademik Rifaldy dan Prihantini. Dalam penyelidikan yang dilakukan, ada nama mereka dalam basis data akademik di UNY.

Namun, pihak kampus belum bisa memastikan apakah mereka benar-benar berstatus sebagai alumni.

“Kalau di database kami, ada dua nama yang sama dengan dua orang yang sedang viral tersebut. Ini masih kami dalami karena data yang digunakan saat publikasi berganti-ganti dan tidak ada nama departemen atau prodi tersebut di UNY,” kata Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Nur Hidayanto Pancoro Setyo Putro, ketika dihubungi Tribunnews.com, Rabu (27/5/2026).

Kendati demikian, Nur mengatakan pihaknya telah menghubungi kedua alumni yang namanya dikaitkan dalam kasus dugaan riset palsu terebut.

Dia menyebut ada nama Rifaldy dan Prihantini yang berstatus sebagai alumni FMIPA UNY.

“Saat ini kami meminta teman-teman dosen dari FMIPA untuk reach out dua nama alumni yang ada di database kami. Karena memang sosmed beliau berdua sepertinya tidak bisa dikontak juga,” ujarnya.

Dalam upaya yang dilakukan, Nur menuturkan pihaknya telah berhasil menghubungi salah satu nama yang diduga terlibat yakni Prihantini.

Baca juga: Soal Dugaan Riset Palsu WNI di Denmark, Ketua Komisi X DPR Minta Pemerintah Segera Investigasi

Dia mengungkapkan Prihantini akan melakukan klarifikasi melalui akun media sosial pribadinya buntut polemik yang terjadi.

Namun, kata Nur, sosok Rifaldy belum berhasil dihubungi.

“Kami berhasil menghubungi Prihantini, responsnya nggih akan ada klarifikasi di sosmed. Sepertinya nomor HP-nya dibanjiri pesan juga,” jelasnya.

Nur menjelaskan nama Rifaldy tercatat sebagai angkatan 2014 FMIPA dan dinyatakan lulus tiga tahun setelahnya.

Sementara, nama Prihantini tercatat merupakan lulusan tahun 2018. Ia masuk sebagai mahasiswa FMIPA UNY pada tahun 2015.

Terkait sanksi jika terbukti melakukan pemalsuan riset, Nur mengungkapkan hal tersebut masih perlu untuk didiskusikan dengan pihak-pihak di internal UNY.

“Intinya, jika benar keduanya alumni, perlu kami diskusikan dengan pimpinan, komite etik dan pihak terkait untuk mengambil langkah selanjutnya,” pungkasnya.

(Tribunnews.com/Yohanes Liestyo Poerwoto)

 

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved