Kenapa Penelitian Palsu Bisa Lolos? Pakar Bongkar Celah Sistem Akademik Global
Sistem akademik internasional memang memiliki sejumlah celah yang dapat dimanfaatkan.
Ringkasan Berita:
- Pemalsuan riset oleh sekelompok WNI ISPPD 2026 di Denmark jadi sorotan
- Dicky Budiman, menjelaskan bahwa sistem akademik internasional memang memiliki sejumlah celah yang dapat dimanfaatkan
- Dicky mengatakan salah satu masalah terbesar adalah keterbatasan reviewer
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Geger dugaan pemalsuan riset yang dilakukan sekelompok WNI untuk mengikuti konferensi International Society of Pneumonia and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 yang digelar di Copenhagen, Denmark.
Modus dari aksi ini diduga sengaja dilakukan demi mendapatkan dana bantuan perjalanan (travel grant), agar para pelaku bisa pergi ke luar negeri secara gratis
Baca juga: Setelah ITB dan UNY, Kini ITS Buka Suara soal WNI Diduga Palsukan Riset, Nama Institusi Dicatut
Kasus ini memunculkan pertanyaan, kenapa penelitian palsu yang mampu lolos ke konferensi internasional?Bagaimana penelitian yang diduga bermasalah bisa melewati proses seleksi akademik?
Peneliti pakar Global Health Security (Keamanan Kesehatan Global) Dicky Budiman, menjelaskan bahwa sistem akademik internasional memang memiliki sejumlah celah yang dapat dimanfaatkan.
Dicky menjelaskan penelitian yang baik seharusnya melalui tahapan panjang.
"Itu melakukan penelitian nyata tentu jadi peneliti menyusun proposal, dapat ethical clearance, ada pengumpulan data, analisis, dan menulis manuskrip atau abstrak,"ungkap Dicky pada keterangannya, Sabtu (30/5/2026).
Setelah itu, abstrak dikirim ke konferensi dan melewati proses penilaian ilmiah.
"Kemudian nanti biasanya dikirim abstraknya, metode hasil novelty, afiliasi institusi juga kemudian di review oleh scientific committe,"imbuhnya.
Tahap berikutnya adalah seleksi presentasi ilmiah.
"Ketika lolos ada yang namanya accepted oral presentation atau poster presentation kemudian di invite sebagai speaker atau best abstrak kandidat, baru setelah itu proses travel grant dilakukan," lanjutnya.
"Travel grant ini biasanya diberikan karena kualitas risetnya bagus, topiknya penting,"sambung Dicky.
Menurut Dicky, travel grant sering disalahartikan.
"Travel grant itu bukan hadiah jalan-jalan, itu investasi akademik ya untuk pertukaran ilmu, kolaborasi riset, dan peningkatan kapasitas ilmiah,"jelasnya.
Kenapa Penelitian Palsu Bisa Tidak Terdeteksi?
Dicky mengatakan salah satu masalah terbesar adalah keterbatasan reviewer.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/dicky-budiman-1.jpg)