Harga BBM Naik
Kenaikan BBM Bikin Selisih Harga Pertalite-Pertamax Makin Lebar, Ekonom: Picu Migrasi ke BBM Subsidi
Harga BBM Pertamax di Pulau Jawa dan Bali dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, pakar ekonom menyoroti potensi migrasi ke BBM subsidi.
Apalagi tambahan pengeluaran untuk bahan bakar tersebut, dapat langsung mengurangi ruang belanja rumah tangga dan menekan kemampuan konsumsi masyarakat.
Dosen di UM Surabaya pun menyoroti potensi migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite akibat selisih harga yang kian lebar, Rp 6.250 per liter.
Dengan selisih harga ini, berpotensi menimbulkan persoalan baru dalam tata kelola subsidi energi.
“Ketika Pertamax terlalu mahal, sebagian pengguna akan turun ke Pertalite. Inilah ironi kebijakan harga energi kita."
"BBM nonsubsidi dinaikkan demi mengikuti pasar, tetapi selisih harga yang terlalu jauh justru dapat mendorong masyarakat berpindah ke BBM subsidi,” ungkapnya.
Menurut Arin, peralihan konsumen dari Pertamax ke Pertalite secara luas berpotensi meningkatkan beban subsidi pemerintah.
Selain itu, subsidi energi bisa menjadi kurang tepat sasaran karena dinikmati oleh sebagian masyarakat yang sebenarnya mampu membeli BBM nonsubsidi.
Meski begitu, kata Arin, sejatinya kritik utama bukan semata-mata terletak pada kenaikan harga, melainkan pada tata kelola transisi harga energi yang belum sepenuhnya transparan.
Analisis Pakar Efek Harga BBM Naik Picu Pergeseran Perilaku
Potensi beralihnya pengguna Pertamax ke Pertalite juga disampaikan oleh Peneliti Kebijakan Publik dari Institute for Development of Policy and Local Partnership (IDP-LP), Riko Noviantoro.
Riko memprediksi, masyarakat akan semakin banyak beralih dari Pertamax ke Pertalite demi menekan pengeluaran sehari-hari.
Menurutnya, pergeseran dari BBM nonsubsidi ke BBM subsidi merupakan dampak paling nyata yang perlu segera diantisipasi pemerintah.
"Yang perlu kita antisipasi adalah perpindahan customer Pertamax menjadi pengguna Pertalite," kata Riko kepada Tribunnews.com, Rabu (9/6/2026).
Lebih lanjut, Riko juga menyebut, lonjakan jumlah pengguna Pertalite berpotensi menekan ketersediaan stok BBM subsidi di lapangan. Sehingga dapat membebani anggaran subsidi energi yang selama ini ditanggung pemerintah.
"Perpindahan ini akan berdampak pada ketersediaan Pertalite yang kemudian mengalami lonjakan karena ada perpindahan customer dari Pertamax ke Pertalite," terangnya.
Oleh sebab itu, ia menilai pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipatif agar perpindahan konsumen tidak berujung pada gangguan distribusi maupun membengkaknya beban subsidi BBM.
Baca juga: Dampak Harga BBM Naik di Daerah: Tarif Transportasi Meroket, Warga Jual Mobil Mewah, Pemda Cemas
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/Suasana-SPBU-Usai-Harga-BBM-Nonsubsidi-Naik_20260418_220447.jpg)