Kamis, 11 Juni 2026

Harga BBM Naik

Beban Rakyat Bertambah, Legislator Nasdem Usulkan Gaji DPR Dipangkas Separuhnya

Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto meyakini situasi ekonomi Indonesia kini tidak baik dan beban rakyat makin berat.

Tayang:
Dokumen pribadi
POTONG GAJI - Foto Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto. Sugeng meyakini situasi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja dan beban rakyat bertambah berat. Dia mengusulkan gaji anggota DPR dipotong separuhnya. 
Ringkasan Berita:
  • Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto menegaskan situasi ekonomi Indonesia sedang buruk.
  • Sugeng mengimbau pemerintah agar menunjukkan empati nyata kepada masyarakat.
  • Dia mengusulkan gaji anggota DPR RI dipotong hingga separuhnya demi menunjukkan empati.

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Sugeng Suparwoto meyakini situasi ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja dan beban rakyat bertambah berat.

Situasi berat itu tercermin dari kenaikan drastis harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green. Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green menjadi Rp 17.000 per liter mulai 10 Juni 2026.

Sugeng meminta pemerintah agar jujur menyampaikan situasi berat itu kepada rakyat. Selain itu, pemerintah mestinya menekankan efisiensi.

“Pertama, efisiensi dari sisi belanja karena harus kita akui beban fiskal kita berat sekali,” kata Sugeng dalam acara Sapa Indonesia Pagi di Kompas TV, Kamis (11/6/2026).

Legislator dari Partai Nasdem itu menyebut beban yang ditanggung PT Pertamina sangat berat. Jika harga Pertamax dan Pertamax Green tidak naik, Pertamina akan terus menanggung beban kurang lebih Rp7 triliun per bulan.

“Sekarang sudah muncul di bisik-bisik, di trading, bahwa Pertamina ada kemungkinan gagal bayar. Bayangkan kalau ini terjadi, maka Pertamina tidak lagi bisa membeli baik crude (minyak mentah) maupun byproduct (produk sampingan minyak) dan ini bahaya sekali,” ujar dia.

Menurut Sugeng, Komisi XI yang membidangi energi sudah mengingatkan berkali-kali bahwa situasi sedang tidak baik. Dia mengimbau pemerintah supaya jujur menjelaskannya kepada rakyat.

Kemudian, dia meminta para pejabat di negeri ini berempati kepada rakyat yang beban hidupnya bertambah karena kenaikan harga BBM.

Sugeng berujar jika beban hidup kelas menengah bertambah, inflasi juga bertambah. Setiap kenaikan 10 persen harga BBM bagi kelas menengah akan menambah inflasi kurang lebih 0,1 sampai dengan 0,3 persen.

“Tapi ini naik 30 persen, maka kita hitung akan naik inflasi kurang lebih hampir 1 persen. Ini khusus dari BBM,” ucap dia.

Baca juga: Kata Ekonom soal Masih Perlu atau Tidaknya Program MBG usai Harga Pertamax Naik

Kata Sugeng, selain menyampaikan situasi secara jujur, pemerintah juga harus menghemat anggaran dengan cara mengurangi belanja-belanja yang tidak perlu.

“Saya mengimbau pemerintah menunjukkan empati kepada masyarakat. Katakanlah pemerintah, DPR, potong gajinya 50 persen. Itu harus dilakukan. Betul-betul saya sebagai anggota DPR sangat-sangat setuju karena masyarakat sedang sangat tidak baik-baik.”

Menurut Sugeng, fraksi Nasdem akan setuju dengan kebijakan pemotongan gaji anggota DPR.

Kemudian, sekali lagi dia menegaskan pemerintah harus melakukan tindakan hanya dan tidak sekadar “omong-omong” untuk menenangkan masyarakat.

Kadin: Kelas menengah tertekan

Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Erwin Aksa menilai kenaikan harga BBM nonsubsidi akan menekan biaya hidup kelas menengah.

''Dampak inflasinya mungkin tidak sebesar kenaikan BBM subsidi, tetapi tetap ada tekanan terhadap biaya hidup, terutama bagi kelas menengah yang mobilitas hariannya menggunakan Pertamax,'' ujar Erwin, Kamis, (11/6/2026).

Dia berkata kelas menengah saat ini sudah menghadapi tekanan dari harga pangan, biaya pendidikan, cicilan, dan pelemahan daya beli. Karena itu, kenaikan harga BBM ini bisa membuat ruang konsumsi semakin sempit. 

Ketika biaya transportasi pribadi naik, masyarakat biasanya akan mengurangi belanja non-prioritas, seperti makan di luar, rekreasi, belanja ritel, dan konsumsi barang tahan lama. Ini tentu bisa berdampak ke sektor perdagangan, ritel, UMKM, restoran, dan jasa.

Erwin juga menjelaskan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari, dampaknya lebih bersifat tidak langsung. Karena distribusi pangan dan logistik utama umumnya memakai solar atau BBM subsidi, efek langsungnya relatif terbatas.

Namun, tetap ada risiko second-round effect, terutama dari biaya operasional pelaku usaha kecil, distribusi jarak pendek, kurir, kendaraan operasional, dan ekspektasi kenaikan harga. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai kenaikan BBM nonsubsidi ini menjadi alasan kenaikan harga yang tidak proporsional di pasar.

Baca juga: Harga Pertamax Disebut Bisa Tembus Rp20.000, DPR: Pemerintah Masih Tahan Harga BBM

''Kalau Pertamax naik sekitar 30 persen, bukan berarti harga barang otomatis naik 30 persen. Dampak ke harga barang sangat bergantung pada porsi BBM dalam struktur biaya masing-masing sektor,'' katanya. 

''Dari sisi Kadin, kami memandang pemerintah perlu menjaga agar dampak rambatan tidak meluas. Pertama, pastikan pasokan dan harga BBM subsidi tetap stabil serta tepat sasaran,'' ungkapnya.

(Tribunnews/Febri/Sanusi)

Sesuai Minatmu
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Menuju Kick-Off
00
Hari
00
Jam
00
Menit
00
Detik
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 09:00 WIB
Mexico
Meksiko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Grup A - Matchday 1
Jumat, 12 Juni 2026 | 16:00 WIB
South Korea
Korea Selatan
VS
Czechia
Ceko
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved