Harga Bitcoin Kembali Cetak Rekor ke Level 118 Ribu Dolar AS, Ini Pendorongnya
Harga Bitcoin kembali menembus harga tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH) pada angka lebih dari USD 118.000
Penulis:
Seno Tri Sulistiyono
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Harga Bitcoin kembali menembus harga tertinggi sepanjang masa (All-Time High/ATH) pada angka lebih dari USD 118.000 pada, Jumat (11/7/2025).
Lonjakan harga terjadi seiring meningkatnya akumulasi oleh institusi besar seperti BlackRock, yang melalui iShares Bitcoin Trust (IBIT) kini telah menggenggam lebih dari 700.000 BTC, setara dengan lebih dari 3,3 persen dari total suplai Bitcoin di dunia.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai lebih dari USD 2,34 triliun, Bitcoin kini menyumbang sekitar 65?ri total kapitalisasi pasar kripto global yang telah menembus USD3,4 triliun.
Baca juga: Investor Kripto Naik, Perlu Diimbangi Pemahaman Aspek Risikonya
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menyebut, pencapaian ini bukan sekadar euforia sesaat, tetapi menunjukkan perubahan besar dalam pasar aset digital.
“Sekarang kita melihat Bitcoin tidak hanya sebagai alat pelindung nilai, tapi juga mulai dipakai oleh perusahaan besar sebagai bagian dari strategi mengelola cadangan uang mereka," ujarnya dikutip Jumat (11/7/2025).
Antony menambahkan, pergerakan harga ini merupakan hasil akumulasi dari berbagai faktor struktural, termasuk regulasi yang lebih terbuka, kebijakan fiskal global yang mendorong aset lindung nilai, serta narasi strategis dari tokoh-tokoh industri dan pemerintahan.
BlackRock melalui IBIT bahkan kini mencatatkan pendapatan tahunan dari biaya pengelolaan yang melebihi ETF S&P 500 miliknya sendiri (IVV).
Baca juga: KPK Dalami Investasi Kripto Tersangka ASDP di Pintu, Berpotensi Disita jika Beli dari Hasil Korupsi
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana tren pasar bergerak ke arah aset digital sebagai kelas investasi utama.
Tidak hanya institusi AS, perusahaan teknologi Inggris seperti The Smarter Web Company juga meningkatkan kepemilikan Bitcoin mereka hingga 1.000 BTC.
CEO perusahaan tersebut menyatakan komitmennya untuk menginspirasi perusahaan lain dalam pengelolaan treasury berbasis aset digital.
Di belahan dunia lain, El Salvador terus menunjukkan konsistensinya dalam strategi akumulasi BTC. Negara tersebut kini memiliki lebih dari 6.232 BTC, dengan nilai keuntungan belum terealisasi yang melampaui USD 400 juta.
Menurut Antony, fenomena ini menunjukkan adopsi Bitcoin tidak hanya bersifat sektoral, tetapi telah menjangkau ranah geopolitik.
“Negara, korporasi, dan individu saat ini berada di jalur yang sama: mencari alternatif yang tahan terhadap inflasi, geopolitik, dan disrupsi pasar tradisional," katanya.
Ia juga mencatat, lonjakan harga ini memperlihatkan kekuatan komunitas Bitcoin dalam menjaga prinsip desentralisasi sambil terus menarik minat institusi.
“Bitcoin bukan hanya teknologi, ia adalah fenomena sosial-ekonomi," ucapnya.
Harga Bitcoin Merosot Usai Cetak Rekor Tertinggi, Investor Diimbau Evaluasi Ulang Portofolio |
![]() |
---|
Pelaku Industri Sambut Positif Jika Pemerintah Hapus PPN Kripto |
![]() |
---|
William Sutanto Jadi Nakhoda Baru Indodax Gantikan Oscar Darmawan |
![]() |
---|
Harga Bitcoin Melonjak Sentuh Rp1,56 Miliar Imbas Aksi Beli Institusi, Bagaimana Sikap Investor? |
![]() |
---|
Terjadi Gangguan Sistem AWS, Sebagian Operasional Platform Investasi Kripto Ikut Terdampak |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.