Selasa, 12 Mei 2026

Tanggapan BYD Soal Wacana Insentif EV Berbasis Nikel Mulai Juni 2026

Mulai Juni 2026 pemerintah akan memberikan insentif lebih besar kepada kendaraan listrik dengan kandungan berbasis nikel.

Tayang:
Penulis: Lita Febriani
Editor: Choirul Arifin
Tribunnews.com/Lita Febriani
TANGGAPI WACANA INSENTIF EV - Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan di Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).  
Ringkasan Berita:
  • BYD menilai langkah Pemerintah RI menyiapkan kebijakan insentif EV merupakan bagian dari upaya mempercepat transisi energi.
  • Mulai Juni 2026 pemerintah akan memberikan insentif lebih besar kepada kendaraan listrik dengan kandungan berbasis nikel dibanding teknologi baterai lainnya.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah menyiapkan skema insentif baru untuk kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) yang akan mulai diterapkan pada Juni 2026.

Kendaraan listrik dengan kandungan berbasis nikel disebut bakal memperoleh insentif lebih besar dibanding teknologi baterai lainnya.

Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia Luther T. Panjaitan menyatakan belum dapat memberikan komentar lebih jauh lantaran aturan resmi dari pemerintah belum diumumkan.

"Saya belum bisa memberi tanggapan karena belum ada informasi resmi terkait hal tersebut," kata saat ditemui di Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

Meski demikian, BYD menilai langkah pemerintah menyiapkan kebijakan insentif EV merupakan bagian dari upaya mempercepat transisi energi nasional.

Selain itu, kebijakan yang akan dirilis juga bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil di tengah situasi geopolitik global yang semakin kompleks.

"Saya percaya tentunya intensi dari pemerintah untuk kita bisa sesegera mungkin mendukung transisi energi, mengurangi subsidi bahan bakar, apalagi dengan uncertainty dan situasi geopolitik sekarang menjadi semakin kompleks untuk tetap bergantung pada energi fosil," ucapnya.

Menurut Luther, baik baterai berbasis nikel Lithium-ion NMC (Nikel-Mangan-Kobalt) maupun Lithium Ferro Phosphate (LFP) sama-sama memiliki peran dalam mendukung pengembangan kendaraan listrik di Indonesia.

Baca juga: Toyota Respons Insentif EV 2026: Positif, Tapi Jangan Fokus Satu Teknologi

"Kita memang berharap salah satunya juga melalui teknologi baru ini yang berbasis BEV, apapun dari teknologi baterainya, entah nikel atau LFP, itu dua-duanya sama-sama mendukung niat baik pemerintah tersebut," terangnya.

Saat ditanya kemungkinan BYD beralih menggunakan baterai Nickel Manganese Cobalt (NMC) apabila insentif berbasis nikel diterapkan lebih besar, Luther menyatakan strategi perusahaan bersifat jangka panjang dan tidak hanya bergantung pada dinamika kebijakan sesaat.

"Strategi BYD itu strategi jangka panjang. Kami melihat policy itu adalah salah satu dinamika market dan kami juga berharap memang ini adalah booster dari pencapaian penjualan," ujar Luther.

Baca juga: Permenperin Insentif Kendaraan Listrik Segera Rilis, Pengamat Soroti 4 Poin Krusial

Namun demikian, ia menekankan fokus utama perusahaan tetap pada kontribusi kendaraan listrik terhadap target transisi energi nasional.

"Tapi tujuan utamanya adalah memang bagaimana produk-produk BYD ini mampu mendukung keseluruhan keinginan dari transisi energi tersebut," imbuh Luther.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved