Rabu, 3 Juni 2026

Krisis Resiliensi Generasi Ancam Masa Depan Bangsa, Saatnya Pendidikan Berbenah

Prof Dr Susanto MA menyebut dunia saat ini tengah menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi yang serius akibat disrupsi peradaban.

Tayang:
Editor: Dewi Agustina
Tribunnews.com/Istimewa
PENGUKUHAN GURU BESAR - Prof. Dr. Susanto MA saat orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu (8/4/2026). Prof Dr Susanto MA menyebut dunia saat ini tengah menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi yang serius akibat disrupsi peradaban. 

Ringkasan Berita:
  • Prof Dr Susanto MA menyebut dunia saat ini tengah menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi yang serius akibat disrupsi peradaban.
  • Menurutnya, secara global remaja usia sekolah saat ini tengah menghadapi krisis resiliensi.
  • Data Kemenkes 2024 menunjukkan Indonesia sebanyak 15,5 juta menghadapi masalah kesehatan mental.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Prof Dr Susanto MA menyebut dunia saat ini tengah menghadapi krisis ketangguhan mental (resiliensi) generasi yang serius akibat disrupsi peradaban. 

Menurutnya, secara global remaja usia sekolah saat ini tengah menghadapi krisis resiliensi. 

Baca juga: Pelaksanaan TKA 2026 Diharapkan Tingkatkan Mutu Evaluasi Pendidikan Nasional

Krisis resiliensi adalah kondisi ketika individu atau kelompok kehilangan kemampuan untuk bangkit, beradaptasi, dan bertahan menghadapi tekanan hidup. 

Saat ini, fenomena ini banyak dibicarakan terkait generasi muda di Indonesia yang menghadapi tantangan mental akibat perubahan sosial, teknologi, dan arus informasi yang deras.

Data WHO melaporkan, 1 dari 7 anak remaja usia 10 - 19 tahun mengalami masalah mental (mental health).

 

PENGUKUHAN GURU BESAR - Prof. Dr. Susanto MA saat orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu (8/4/2026).
PENGUKUHAN GURU BESAR - Prof. Dr. Susanto MA saat orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu (8/4/2026). (Tribunnews.com/Istimewa)


 
Indonesia sebanyak 15,5 juta menghadapi masalah kesehatan mental (Kemenkes 2024). 

Singapura 16, 2 persen mengalami depresi atau kecemasan. 

Amerika serikat 31.9 remaja memgalami tantangan masalah mental dan Inggris 25.8 persen mengalami hal yang sama.

Dalam orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu (8/4/2026), Prof Dr Susanto, MA menyampaikan bahwa fenomena ini tidak bisa lagi dipandang sebagai persoalan individual, melainkan ancaman sistemik terhadap masa depan bangsa.

 

PENGUKUHAN GURU BESAR - Prof. Dr. Susanto MA saat orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu (8/4/2026).
PENGUKUHAN GURU BESAR - Prof. Dr. Susanto MA saat orasi ilmiah pengukuhan Guru Besar di Universitas PTIQ Jakarta di Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Depok, Rabu (8/4/2026). (Tribunnews.com/Istimewa)

 

Dalam pidato berjudul “Disrupsi Peradaban dan Krisis Resiliensi: Rekonstruksi Paradigma Pembelajaran Pendidikan Islam untuk Membangun Ketangguhan Mental Generasi”, Prof. Susanto menjelaskan bahwa perubahan global yang bersifat disruptif telah melahirkan tekanan psikologis baru bagi generasi muda. 

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, justru muncul paradoks berupa meningkatnya kerentanan mental.

Kritik Atas Istilah “Strawberry Generation”

Fenomena krisis resiliensi tersebut oleh Murphy (2018) disebut sebagai strawberry generation.

Sesuai Minatmu
Sumber: Tribunnews.com
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved