Jumat, 17 April 2026

BGN Tuding Banyak Pemilik SPPG Lakukan 'Pemufakatan Jahat' dengan Sekolah

Ada dugaan banyak sekolah di daerah yang akhirnya hanya mau menerima MBG dari SPPG yang sudah menjalin kerjasama dengan sekolah.

Tribunnews.com/Rizki Sandi Saputra
SATU TAHUN MBG - Wakil Kepala BGN Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya di acara peringatakan Satu Tahun Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat di Jakarta, Kamis (16/4/2026). Sony menyebut sejumlah SPPG menjalin pemufakatan jahat dengan sekolah penerima menu MBG. 

Ringkasan Berita:
  • Badan Gizi Nasional (BGN) menyoroti sejumlah pekerjaan rumah di program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah program ini berjalan 1 tahun lebih.
  • Ada dugaan banyak sekolah di daerah yang akhirnya hanya mau menerima MBG dari SPPG yang sudah menjalin kerjasama dengan sekolah.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Kepala Badan Gizin Nasional (BGN) Irjen Pol (Purn) Sony Sonjaya menyampaikan program prioritas pemerintah yakni Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini sudah berjalan satu tahun lebih sejak program ini diluncurkan pada 6 Januari 2025.

Sony mengatakan, kemunculan program MBG sempat menimbulkan tanda tanya perihal kesusksesan perjalanannya di internal BGN karenabanyak dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang belum terbangun.

"Jadi sudah 1 tahun 3 bulan tadi disebutkan 6 Januari 2025 kritikal poin waktu itu jadi apa engga jadi apa engga jadi di BGN itu pak mendekati tanggal 6 Januari itu penuh dengan, iya apa engga iya apa enggak."

"Kalau iya kita bagaimana belum ada siap baru ada berapa gitu kan baru ada berapa dapurnya tapi Alhamdulillah, tanpa terasa sekarang 1 tahun 3 bulan," kata Sony saat memberikan sambutan di acara 1 Tahun Perjalanan MBG di Kantor Kementerian Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM), Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Kendati begitu, ada beberapa aspek yang tidak tepat dilakukan oleh para SPPG di satu tahun perjalan MBG ini. Sebagian menilai program MBG hanya menyasar pada kebutuhan makan siswa-siswa sekolah.

Hal itu berdampak pada langkah SPPG untuk menjalin kerja sama dengan pihak sekolah. Dirinya mengibaratkan kondisi tersebut sebagai pemufakatan jahat.

"Sebagaimana tujuan yang ditetapkan bahwa program MBG ini yang perlu saya luruskan setiap saya datang ke beberapa wilayah karena yang diutamakan peserta didik peserta didik peserta didik," kata Sony.

Baca juga: Mahfud Sebut MBG Pemborosan Gegara Beli Motor Listrik & Kaus Kaki: Kaus Kakiku Aja 100 Ribu Dapat 3

"Sehingga pada prakteknya mitra begitu membangun SPPG langsung membuat MoU dengan kepala sekolah. Bahkan sering kali mereka membuat kalo saya sebut permufakatan jahat," tegas dia.

Pemufakatan jahat yang dimaksud Sony yakni, banyak sekolah di daerah yang akhirnya hanya mau menerima MBG dari SPPG yang sudah menjalin kerjasama dengan sekolah.

Dia menegaskan, praktik kerja sama yang terjadi seperti demikian tidak diperbolehkan. "Adanya kalimat "kami tidak akan menerima mbg dari yayasan lain selain yayasan ini" itu sebenarnya tidak boleh," kata dia.

Baca juga: Perintahkan Penertiban Dapur MBG Jelek, Begini Respons Presiden saat Waka BGN Lapor Suspend SPPG

Padahal, tujuan paling utama pemberian MBG adalah menyasar kepada kelompok rentan seperti halnya ibu hamil, Ibu menyusui hingga balita, baru setelah itu peserta didik.

Ini karena pemenuhan gizi paling dibutuhkan bagi manusia 1000 hari pertama kehidupan.

"Akhirnya beberapa daerah terus setiap saya ke daerah kami luruskan bahwa tujuan utama program MBG adalah memberikan asupa gizi kepada kelompok rentan," kata dia.

"Siapa itu kelompok rentan? Kelompok rentan itu adalah yang pertama ibu hamil, karena janin di dalam kandungannya sudah diperhatikan oleh pemerintah dia harus mendapatkan asupan gizi yang kedua ibu menyusui yang ketiga balita, baru kemudian peserta didik. Jadi yang diutamakan adalah seribu hari kehidupan itu yang diutamakan," tandas Sony.

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved