Kerusuhan di Stadion Kanjuruhan

Bek Arema FC Cerita Detik-detik Sebelum Rusuh, Tak Yakin Suporter Menyerang hingga Lihat Momen Horor

Pemain Arema FC pilih mengamankan diri di ruang ganti. Usai kerusuhan reda, mereka melihat pemandangan mengerikan di stadion.

Editor: Willem Jonata

TRIBUNNEWS.COM - Bek Arema FC Sergio Silva mengungkap kejadian yang dialaminya seusai timnya kalah menghadapi Persebaya dengan skor 2-3 di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur.

Menurut Sergio Silva, para pemain Arema FC memilih masuk ke ruang ganti saat suporter mulai masuk ke lapangan.

Padahal para pemain Arema FC sebenarnya berencana berjalan di sekitar stadion untuk memberikan penghormatan kepada para suporter.

Baca juga: Usai Tragedi Stadion Kanjuruhan Malang, Sosok Ini Pilih Pamit Undur Diri

"Meski kalah, kami (berencana) akan berjalan-jalan di sekitar stadion untuk menghormati para suporter. Langkah itu terhenti di tengah lapangan," beber Sergio Silva.

"Kami melihat indikasi beberapa suporter (masuk) ke lapangan. Saya pikir banyak yang datang untuk memberi dukungan dan bukan untuk menyerang. Tetapi lebih baik pergi ke ruang ganti."

Setelah masuk ke ruang ganti, para pemain Arema FC tidak tahu banyak tentang kondisi yang terjadi di luar.

Mereka juga tidak merasa benar-benar aman di dalam ruang ganti tersebut.

Dalam foto yang diambil pada 1 Oktober 2022 ini, sekelompok orang menggendong seorang pria usai pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. - Sedikitnya 127 orang tewas di sebuah stadion sepak bola di Indonesia pada akhir 1 Oktober ketika para penggemar menyerbu lapangan dan polisi merespons dengan gas air mata, yang memicu penyerbuan, kata para pejabat. (Photo by AFP)
Dalam foto yang diambil pada 1 Oktober 2022 ini, sekelompok orang menggendong seorang pria usai pertandingan sepak bola antara Arema FC dan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. - Sedikitnya 127 orang tewas di sebuah stadion sepak bola di Indonesia pada akhir 1 Oktober ketika para penggemar menyerbu lapangan dan polisi merespons dengan gas air mata, yang memicu penyerbuan, kata para pejabat. (Photo by AFP) (AFP/STR)

"Kami menghabiskan empat atau lima jam di ruang ganti, dijaga dengan meja dan kursi yang menahan pintu," terangnya.

Lebih lanjut, Sergio Silva mengungkapkan kerabat dari salah satu oficial Arema FC turut meninggal dunia dalam tragedi tersebut.

Ia membeberkan momen mengerikan yang terjadi di stadion tersebut.

"Semua orang yang tewas dan terluka dievakuasi. Beberapa orang meninggal di dekat pemandian. Kami juga tahu kerabat salah satu asisten kami meninggal," katanya.

Baca juga: Ada Gas Air Mata saat Tragedi Kanjuruhan, Karim Rossi: Ini Stadion Sepak Bola, Bukan Zona Perang

"Saya hanya bisa menyebutkan skenario mengerikan, kehancuran, perang, mobil polisi terbakar, semuanya rusak, koridor penuh dengan darah, sepatu orang-orang. Tidak ada hubungannya dengan sepak bola."

Indonesia berduka 

Bentrok dan kerusuhan pasca pertandingan Arema FC vs Persebaya dalam laga kompetisi Liga 1 telah memakan ratusan korban jiwa, tak terkecuali anak-anak.

Halaman
123
  • KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved