Rabu, 13 Mei 2026

Krisis Melon di Jawa Timur: Produksi Merosot, Petani Minta Pendampingan Teknis

Di sejumlah sentra produksi seperti Nganjuk, Madiun, hingga Kediri, petani menghadapi tekanan besar akibat cuaca yang tidak menentu dan serangan virus

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Eko Sutriyanto
Editor: Erik S
Istimewa
MELON DISERANG VIRUS - Musim tanam melon tahun ini menjadi salah satu yang paling menantang dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Jawa Timur. Di sejumlah sentra produksi seperti Nganjuk, Madiun, hingga Kediri, para petani menghadapi tekanan besar akibat cuaca yang tidak menentu serta meningkatnya serangan virus tanaman. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Musim tanam melon tahun ini menjadi salah satu yang paling menantang dalam beberapa tahun terakhir di wilayah Jawa Timur.

Di sejumlah sentra produksi seperti Nganjuk, Madiun, hingga Kediri, para petani menghadapi tekanan besar akibat cuaca yang tidak menentu serta meningkatnya serangan virus tanaman.

Kombinasi dua faktor tersebut berdampak langsung pada penurunan performa tanaman melon, baik dari sisi pertumbuhan vegetatif maupun kualitas buah yang dihasilkan.

Gejala penurunan sudah terlihat sejak fase pembentukan bunga hingga pembesaran buah.

Baca juga: 800 Kg Buah Melon Segar Terkumpul di Panen Raya Dirjenpas Bareng Warga Binaan Lapas Sukamiskin

Tanaman menunjukkan pertumbuhan yang tidak seragam, sementara buah yang dihasilkan jauh dari standar kualitas pasar.

Ukuran buah cenderung lebih kecil, warna kulit kusam, tekstur permukaan kasar, serta kerap ditemukan buah yang retak dan mengalami deformasi.

Kondisi ini menjadi pukulan telak bagi petani yang menggantungkan hidup pada hasil panen melon.

“Kami sudah berupaya menjaga tanaman sebaik mungkin, tapi cuaca sulit diprediksi. Serangan virus mempercepat kerusakan tanaman. Hasil panen kami jauh dari harapan,” ujar Edi, petani melon asal Desa Purwotengah, Kediri dalam keterangannya, Selasa (8/7/2025).

Ia menjelaskan, serangan virus tanaman menjadi tantangan utama musim ini. Tingginya kelembapan akibat hujan yang tidak menentu membuat virus lebih mudah menyebar dan menyerang jaringan tanaman.

Akibatnya, sistem pertahanan alami tanaman melemah, sehingga tanaman cepat layu, menguning, dan gagal berbuah optimal.

Suhu yang tidak stabil—kadang panas terik lalu disusul hujan deras—juga menyebabkan tanaman mengalami stres, membuka celah lebih besar bagi patogen untuk menyerang.

Hal senada disampaikan Arif Nur Azis, petani melon lainnya.

Ia mengakui bahwa berbagai teknik budidaya yang biasa ia terapkan tampak tidak efektif pada musim ini.

“Biasanya kami bisa mengantisipasi musim basah, tapi tahun ini anomali cuaca sangat ekstrem. Kami butuh arahan yang lebih teknis dan cepat dari pemerintah,” ujarnya.

Ketidakpastian musim tanam ini tidak hanya mengancam produktivitas lahan, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi petani lokal.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved