Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Komunitas Jadi Kunci Kelestarian Air di Bali
Wakil Gubernur Bali menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga ketersediaan air bersih serta kelestarian lingkungan
TRIBUNNEWS.COM, DENPASAR – Wakil Gubernur Bali, Nyoman Giri Prasta, S.Sos, menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Bali dalam menjaga ketersediaan air bersih serta kelestarian lingkungan di Pulau Dewata.
“Air adalah kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar. Tantangan lingkungan dan air nyata kita hadapi, suhu semakin meningkat, sementara sumber air terus menurun,” kata Giri Prasta saat membuka Water Symposium 2025 di Aula Pascasarjana Kampus Sudirman, Universitas Udayana, baru-baru ini.
Menurutnya, sejumlah langkah telah ditempuh, mulai dari penghijauan, pengelolaan daerah aliran sungai, hingga koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota, termasuk inisiatif di Sungai Ayung.
Baca juga: Sampah Plastik Ganggu Ketersediaan Air Bersih, Berdampak Serius pada Ibu Hamil dan Anak
Wagub menyambut baik simposium yang mengangkat tema Closing the Loop: Enhancing Urban Water Metabolism Through Circular Wastewater Strategies for Sustainable Cities ini.
"Isu air dan lingkungan harus ditangani bersama. Forum ini tidak boleh berhenti hanya sebagai diskusi akademis, tetapi harus melahirkan solusi nyata," tegasnya.
Ia juga menilai forum ini penting untuk mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari akademisi, pemerintah, dunia usaha, hingga komunitas.
Harapannya, upaya penyediaan air bersih dan pelestarian sumber daya air di Bali bisa semakin kuat.
“Saya berharap hasil diskusi dan kajian dari Water Symposium mampu memberikan rekomendasi konkret untuk pengelolaan air limbah perkotaan yang berkelanjutan. Solusi itu nantinya bisa diterapkan sesuai karakter sosial, budaya, dan geografis Bali,” tambahnya.
Kolaborasi Internasional dan Riset Akademik
Water Symposium 2025 menghadirkan berbagai perspektif riset dan kebijakan.
Dr. Katarzyna Kujawa dari Wageningen University & Research memperkenalkan Urban Harvest Approach (UHA) sebagai solusi keberlanjutan perkotaan melalui biorecovery, pemanfaatan kembali air, dan urban system engineering.
Ia menekankan pentingnya sistem praktis seperti pusat sanitasi komunal, tangki septik bersama, dan sistem perpipaan sederhana.
Prof. Kadek Diana Harmayani, S.T., M.T., Ph.D., IPU, ASEAN Eng. dari Universitas Udayana memaparkan penelitian mengenai kondisi Tukad Badung.
Baca juga: Kuliner Jepang di Bali: Ramen Kumamoto dengan Cita Rasa Tradisional Kyushu
Hasilnya menunjukkan adanya pencemaran ringan, efektivitas constructed wetland dalam meningkatkan kualitas air, serta tingginya kandungan mikroplastik.
Ni Nyoman Santi, S.T., M.Sc, Kepala Pusdal LH Bali Nusra – KLH, menyoroti pendangkalan danau, penurunan kualitas mata air, serta pencemaran sungai. Ia menjelaskan strategi pengelolaan seperti pembangunan IPAL komunal dan konsep ekoriparian yang berpotensi diterapkan di Bali.
Sementara itu, Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D, menekankan perlunya mengubah cara pandang terhadap air limbah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/ISU-AIR-BERSIH-Wakil-Gubernur-Bali-Nyoman-Giri-Prasta.jpg)